02 Desember 2013

opini musri nauli : A. SHOMAD YANG SAYA KENAL

Seakan tidak percaya, ketika penulis mendapatkan kabar meninggalnya A. Shomad. Kekagetan penulis disebabkan selain usia almarhum yang masih relatif muda dan masih banyak yang dilakukan, penulis sama sekali tidak pernah mendengar almarhum mengalami penyakit yang lama. Sehingga kekagetan itu sama sekali di luar dugaan.


Penulis mendengar kabar meninggalnya almarhum dari status Facebook Lily Widya Watir yang merupakan teman satu angkatakan kuliah. Penulis mengetahui bahwa Lily Widya Watir merupakan adik ipar dari Almarhum.
Namun karena dalam mobilitas tinggi, sulitnya akses internet, tulisan ini belum sempat disusun. Selain itu juga penulis harus menggali memori untuk menceritakan tentang almarhum.

Aktivis Yang Kritis

Pertemuan dengan almarhum ketika awal-awal reformasi. Kesan pertama ketika bertemu dengan A. Shomad adalah aktivitis yang kritis. Dikatakan aktivis akan mudah ditandai dengan daypack di bahu, celana sedikit santai, kemeja dengan lengan digulung. Dikatakan kritis, karena setiap pernyataan akan selalu menyentak, diluar dugaan, melihat segala sesuatu dari sudut masyarakat.

Pernyataannya konsisten. Dan kita selalu diingatkan “akan pentingnya pelayanan pejabat publik kepada masyarakat”.

Konsistennya terus menerus diterapkan. Baik didalam pertemuan-pertemuan, sebagai moderator, berbagai tulisan dan buku yang dihasilkannya.

Sebagai aktivis yang kritis, almarhum menguasai detail data-data, mempunyai konsep yang terukur, solusi yang kongkrit dan tentu saja melihat dari sudut pandang yang obyektif.

Sebagai aktivis yang kritis, almarhum terus menerus menyuarakan issu-isu modern seperti “good goverment, transparansi, akuntabilitas, partisipasi publik. Issu-issu itu yang menjadi pisau analisis dalam setiap pilkada, dalam mengukur kinerja Kepala Daerah, kinerja pelayanan publik. Issu-issu ini yang membuat almarhum sedikit berbeda dengan kalangan aktivis lainnya yang mengusung tema seperti “kedaulatan rakyat, demokrasi, pemilu, korupsi, KKN” dan sebagainya.

Dengan tekun, almarhum mengusung nilai-nilai dan issu modern baik di kelembagaan maupun berbagai tulisannya.

Aktivis Yang Idealis

Sebagai aktivis, Almarhum sudah mempersiapkan diri dengan baik. Lembaga yang didirikan sebagai lembaga “think tank” konsep pembangunan, penguasaan data membuat almarhum dilirik berbagai kalangan untuk mendapatkan input terhadap sebuah issu. Belum lagi ketekunan membuat opini di media massa, memberikan tanggapan terhadap berbagai issu politik, menulis buku membuat almarhum bisa “survive” dalam pertarungan. Belum lagi jaringan yang luas dari berbagai kalangan.

Sebagai aktivis, almarhum sedikit orang yang “mampu bertahan”. Selain ketekunan issu yang diusung, membaca dinamika politik, mempunyai jaringan yang luas, juga keuletan menulis berbagai buku. Baik buku dalam pandangan politik, ekonomi, tokoh maupun issu-issu kontemporer.

Interaksi penulis hanya dalam pertemuan-pertemuan. Selain memang dunia almarhum yang bergerak di dunia ekonomi dan management, dunia yang berbeda dengan penulis, almarhum sudah menekuni profesinya dengan baik. Sehingga dalam berbagai event-event penting, pertemuan dengan penulis.

Dalam perkembangannya, penulis menghormati almarhum, selain kaya data, menguasai issu, tekun menulis baik buku dan opini, almarhum jago berdebat apabila bertemu dengan pejabat. Dengan enteng, sambil memaparkan slide yang telah disusun, almarhum bisa dengan mudah menjelaskan berbagai kesalahan dan menunjukkan berbagai janji-janji yang belum dipenuhi. Biasanya setelah pemaparan dari almarhum, kita bertepuk tangan dan almarhum paling-paling mengucapkan terima kasih.

Penulis hanya mengikuti perkembangan almarhum dari pembicaraan teman-teman atau media massa. Prestasi seperti anggota KPU Kota, Dewan Pendidikan Propinsi membuktikan jaringan yang telah dibangun almarhum. Belum lagi almarhum bertindak berbagai supervisi program management. Almarhum selalu “rajin merawat jaringan”, sebuah cara yang penulis kurang tekun menjalaninya.

Berita dari media massa seakan-akan mengabarkan. Almarhum meninggalkan kita.

Terlalu muda dan terlalu cepat kepergian beliau. Masih banyak cerita kami yang belum dikerjakan. Masih banyak keinginan yang belum dikabulkan.

Penulis kehilangan teman diskusi kritis. Penulis kehilangan teman yang tekun bekerja.

Semoga prestasi yang ditoreh oleh almarhum dapat menginspirasi kita. Sebagai generasi yang menjadi pelaku dan saksi dari proses reformasi.

Dimuat Harian Jambi Independent, 3 Desember 2013