06 Januari 2014

opini musri nauli : Makna Pendakian Gunung Kerinci

Entah apa ya kata orang. Seorang Suami, seorang Bapak mengajak “keluarga Besarnya” mendaki Gunung Kerinci. Hmm. Entahlah.


Di saat semua orang telah mengabarkan status di Facebook, suasana kekeluargaan di hotel berbintang, di kolam renang. Entah berapa kali aku harus ketemu dengan beberapa teman di bandara “memboyong” keluarga besarnya naik pesawat ternama. “LIBURAN”. Katanya.
Hm.. Suasana itu pasti berkesan bagi keluarga itu.

Tapi jangan tanya kepada saya. Karena “suasana” kebahagiaan” tidak mempunyai standar yang sama. Bahagia bagi orang tertentu belum tentu menjadi kebahagian bagi saya. Bagi kami keluarga.

Latar belakang saya dan istriku dari suka “Pendaki Gunung” yang tetap menganggap “mendaki” gunung adalah “kebahagiaan”. Di alam bebas, kami merasakan. “Suasana kekeluargaan”, tulus, tanpa pamrih. Segala sesuatu “diukur” dengan sikap kita sendiri. Tidak ada egois. Tidak ada yang “merasa lebih”. Tidak ada yang merasa kurang.

Dengan semangat yang sama, kami berdiskusi. Mengambil pilihan mendaki akhir tahun di Gunung Kerinci.

Komitmen itulah yang disepakati. Hampir praktis selama sebulan persiapan dilakukan di rumah. Diskusi terus berjalan. Persiapan demi persiapan. Catatan barang yang harus dibeli. Catatan barang yang harus tersedia. Catatan barang yang harus disiapkan. “Suasana heboh”.

Tentu saja, pendakian gunung Kerinci merupakan perjalanan yang berat. Usiaku dan usiaku sudah tidak muda lagi. Kami hanya mempunyai semangat.

Belum lagi gunung kerinci merupakan salah satu perjalanan pendakian yang cukup berat. Tracking yang menanjak terus, mengadah ke atas membuat kita berfikir “kapan habisnya nih mendaki”. Tidak ada bonus, teriak teman2 yang sudah diatas.

Saya tidak akan membicarakan Kerinci dari kajian sejarah. Biarlah itu sudah menjadi catatan panjang dari dokumen yang pernah saya baca. Saya tidak akan mengulas Kerinci sebagai salah satu ornamen penting sebelum masuknya peradaban dunia. Saya tidak akan membicarakan Kerinci sebagai salah satu peradaban dunia sebelum membicarakan kebesaran Melayu. Atau membicarakan Kerinci yang mempunyai aksara tersendiri jauh sebelum adanya aksara Jawi apalagi aksara sanksekerta ataupun aksara latin. Biarlah nanti itu akan saya tulis.

Begitu juga catatan pendakian di Kerinci yang saya tulis. Tidak akan saya ulas karena itu sudah ada dalam catatan berbagai pendaki yang tetap tertarik mendaki gunung kerinci.

Tapi yang saya ceritakan cuma “suasana” tiga dunia yang pada pendakian ini bersatu untuk “mendaki Kerinci 2013”. Ya. Tidak dunia yang selama ini menemani perjalanan hidup saya.

Dimensi Pertama

Pendakian tahun 2013 merupakan pendakian “reuni” para sahabat saya yang hampir 20 tahun tidak pernah mendaki bersama. Bertemunya pendakian dengan Nick Karim, Beni, Heru ataupun Edi merupakan pendakian 20 tahun ataupun 10 tahun yang lalu. Mukri Friatna lebih sering menyebutkan “Pendakian Veteran”.
Kami hanya bertemu di keorganisasian seperti FAJI ataupun FPTI.

Harus diakui “usia” kesemuanya diatas kepala empat membuat kami “menyadari” pendakian ini bukanlah “gagahan” lagi. Pendakian ini hanya “reuni” yang sudah sadar dengan usia.

Pendakian ini tentu saja diselingi dengan berbagai gurauan sepanjang jalan. Entah berapa banyak tingkah laku masing-masing personil yang tidak sadar menjadi bahan gurauan.

Padahal perjalanan dari pintu rimba ke Shelter 1 yang biasanya ditempuh 4 jam, kali ini di tempuh 8 jam. Bayangkan 8 jam.

Entah berapa kali “berhenti”. Kata berhenti “sebenarnya” bukan hanya berhenti hanya istirahat ataupun menarik nafas. Tapi berhenti yang cukup lama. Baik memasak air untuk membuat “energen” ataupun menghabiskan sebungkus roti.

Belum lagi ketika memulai pendakian, nafas tersengal-sengal hingga harus istirahat lama. Bukan hanya habis nafas karena pendakian. Tapi habis nafas karena sepanjang perjalanan tertawa terbahak-bahak.

Sehingga tidak salah perjalanan kali ini lebih tepat disebutkan sebagai “pendakian” menikmati alam. Demikian kata Nick Karim.

Dimensi Kedua

Pendakian ini juga diwarnai dengan “Crew” Walhi. Baik dari Eknas Walhi yang diwakili Mbak Yaya dan Mukri. Juga dihadiri oleh Ollan dan Kiki dari Jakarta, 4 orang dari Sumsel, para relawan yang pernah membantu posko gempa Gempa tahun 2009, teman-teman dari pecinta alam dan anggota Walhi.

Semuanya merupakan bagian dari kegiatan sehari-hari dari penulis di Walhi Jambi.

Pendakian ini lebih serius setelah “mbak yaya” mempostingkan jalur “jogging” di Senayan di wattapp. Jalur jogging dengan gambar dan rute yang telah dilalui “seakan-akan” menegaskan. “SAYA SUDAH JOGGING. JADI KHAN KITA MENDAKI KERINCI”.

Dan entah berapa kali di telp, mbak yaya sebelum menutup pembicaran menutup dengan kalimat yang sama. “kita jadi khan ke Kerinci, ketua”.

Pendakian ini kemudian juga menarik perhatian teman dari Jakarta, Ollan dan Kiki. Keduanya rela menggunakan jalur “backpacker” menempuh perjalanan darat dari Jakarta. Bukan menggunakan bis jalur biasa, tapi menyeberang Merak – Bakauheni kemudian meneruskan perjalanan dengan angkutan yang biasa mangkal di Bakauheni.

Belum lagi Mukri setelah dari Lampung pulang kampung menggunakan angkutan darat ke Jambi.

Semuanya melengkapi cerita perjalanan panjang dan sudah pasti, selama di perjalanan “Berkhayal” mendaki Kerinci.

Sementara di Jambi sendiri, berbagai persiapan dilakukan. Hampir praktis 2 minggu menjelang keberangkatan, berbagai cheking peralatan dilakukan. Baik mengumpulkan berbagai peralatan untuk kelompok, memastikan siapa yang ikut, mencatat barang dan kebutuhan kelompok yang hendak dibeli, peralatan yang masih kurang, mempersiapkan berbagai surat peminjaman ke KPA di jambi hingga rapat-rapat teknis “mematangkan rencana”.

Padahal saat bersamaan, crew Walhi Jambi “sedang” mempersiapkan laporan akhir tahun, mempersiapkan teknis Rapat Kerja, Rapat Pleno Dewan Daerah dan KDLH bahkan menyusun program kerja 1 tahun mendatang.

Sehingga praktis, di sela-sela jadwal yang begitu padat, berbagai persiapan terus dilakukan. Tidak salah kemudian, pendakian ini menjadi istimewa bagi Walhi Jambi sendiri. Selain ada materi ringan tentang “desk disaster” Walhi terhadap tanggap bencana dan respon bencana, juga menjadi “ajang” reuni antara Walhi Sendiri dengan jaringan dan crew ED Walhi yang menjadi tuan rumah hajatan ini.

Sehingga tidak salah kemudian, pendakian ini memang dinikmati dari proses persiapan yang cukup matang.

Dimensi Ketiga

Pendakian ini juga istimewa bagi penulis. Selain karena memang impian yang cukup lama direncanakan, mengajak istri dan anak penulis merupakan salah satu utang yang mesti dibayar.

Tidak ada yang perlu disampaikan apakah begitu penting pendakian ini bagi penulis. Selain memang penulis pernah mendaki bersama dengan istri penulis, penulis juga pernah mendaki dengan putri penulis tahun 2010.

Pendakian tahun 2010 merupakan pendakian setelah tim posko bencana gempa tahun 2009 berkumpul di Posko. Dari hasil bincang-bincang kemudian disepakati mendaki Kerinci untuk “sekedar” memberikan semangat baru kepada tim yang telah berjibaku dalam posko.

Namun pendakian 2013 merupakan perpaduan antara pendakian “keluarga besar Nauli” yang sebelumnya belum pernah terjadi. Pendakian ini antara penulis dengan istri penulis dan pendakian antara penulis dengan putri penulis. Semuanya dipadukan tahun 2013.

Untuk membuktikan “keseriusan”, istri penulis sudah mempersiapkan fisik standar. Hampir sebulan sudah jogging di gubernuran. Dan setiap malam, selalu sms masuk ke HP penulis. Memastikan akan pendakian.

Sehingga tidak salah kemudian pendakian ini merupakan dimensi yang cukup memberikan “warna yang berbeda”. Sehingga bisa dipastikan, hanya penulis yang membawa istri dan anak hingga mendaki. Sedangkan teman-teman yang lalu, hanya ada yang membawa putranya saja. Ataupun yang lain cuma membawa keluarga namun hanya di R 10, pos pertama sebelum pendakian. Lega rasanya membawa keluarga lengkap mendaki di Kerinci.

3 Dimensi itulah yang mewarnai perjalanan penulis selama pendakian. Selain harus bergelut dengan “nafas” yang tidak kuat “tracking” yang terus menanjak, harus memikirkan Crew Walhi yang harus “memobilisasi” agar acara jangan tercecer, memastikan tim agar dapat “memberikan” keceriaan sepanjang perjalanan, hingga terpecah konsentrasi kepada istri penulis dan putri penulis. Semuanya “menyita” pemikiran, mengatur emosi hingga mengatur nafas.. Ha.. ha.. seru abis.

Suasana dan pikiran dengan 3 dimensi itulah sebenarnya “memberikan” tenaga dahsyat yang membuat penulis tetap menghitung langkah demi langkah. Menguatkan pemikiran agar terus berjalan. Menata langkah demi langkah sembari memastikan didepan agar terus berjalan. Semuanya energi yang besar. Energi yang selalu menginspirasi dan terus menaklukan diri sendiri. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Semuanya menyatu dengan alam.

Makna inilah yang sebenarnya pendakian tahun 2013. Makna yang terus memberikan “kekuatan” kepada penulis hingga menatap tahun 2014. Energi yang memberikan “inspirasi”. Energi yang memberikan dorongan agar terus berjalan dan menatap yang bisa dilalui dengan langkah sederhana.

Ya. Pendakian tahun 2013 merupakan makna yang belum pernah penulis rasakan pendakian tahun-tahun sebelumnya. Pendakian tahun 2013 merupakan seribu makna dan sejuta rasa.

Terima kasih atas semuanya.