07 Januari 2014

opini musri nauli : Perbedaan dan Pluralisme



Tiba-tiba putraku ketiga menyampaikan kabar penting. “Ronaldo cedera”. Aku panik. Bagaimana kalo Real Madrid tanpa Ronaldo ?

Aku cari sumber di media maya. Tidak ah, Ronaldo baik-baik saja. Ku telp lagi. Diapun tertawa terbahak-bahak. Ternyata, Ronalda cuma cedera di Playstation (PS).
Ya. Di rumah, diskusi bola kaki “mendominasi” pembicaraan. Entah karena bola kaki lagi digandrungi orang Indonesia. Pilihan bermain bola kaki di PS lebih sering dimainkan daripada game yang lain seperti GTA ataupun permainan lainnya.

Di rumah kami yang lebih banyak lelaki, permainan PS lebih sering “ribut” daripada akurnya. Entah berapa buah stick yang pecah dibanting, memori yang sering diumpetin, PS yang berapa kali perbaiki.

Sebagai permainan bola kaki, masing-masing mempunyai tim kesebelasan yang berbeda-beda. Saya penggemar Manchester United dari Inggeris, putra pertamaku penggemar Arsenal, putra keduaku malah Juventus.

Dengan perbedaan kesebelasan bola kaki, kami sering memainkan pertandingan di PS. Nah. Itu dia. Karena setiap kesebelasan mempunyai ciri khas masing-masing, maka gaya permainan sepakbola juga mewarnai pertandingan PS.

Biasanya, yang pegang remote control, apabila berhasil memasukkan bola ke gawang lawan, setelah memasukkan bola, malah replay (tayangan ulang) diputar beberapa kali. Dari berbagai angle yang mempertontonkan bola yang masuk ke gawang.

Tapi kalo yang memegang remote control malah kemasukkan bola, replay malah dipercepat. Biasanya keributan itulah yang sering terjadi.

Dalam acara di televisi ketika program Sport ditayangkan, masing-masing kami menganalisis tim kesebelasan masing-masing. Dengan penguasaan informasi masing-masing klub kesayangan, diskusi mengalur ngidul. Tanpa moderator dan biasanya tidak ada yang mau mengalah.

Saya membayangkan, apakah yang dirasakan oleh Presiden melihat rakyat yang mempunyai selera yang berbeda. Baik dalam aspirasi politik, pandangan maupun keyakinan agama.

Ah. Entahlah. Namun yang pasti. Setiap perbedaan adalah kodrati. Setiap perbedaan memang ada. Namun menurutku, justru toleran yang menghargai perbedaan pandangan itulah. Sikap menghormati dan menghargai perbedaan terhadap pilihan masing-masing.

Yang pasti, kita tetap memberikan ruang untuk perbedaan dan selera pilihan masing-masing. Tugas negara hanya “memastikan” orang dengan kebebasan untuk memilih dan menentukan seleranya masing-masing. Negara harus “melindungi” agar orang bebas untuk memilih. Dan yang pasti, negara tidak boleh “menentukan” mana pilihan yang baik. Dan negara kemudian “melarang” untuk memilih yang lain. Itu cuma fungsi negara.

Selanjutnya. Biarlah rakyat sendiri yang menilainya.

Menurutku itulah yang disebut pluralisme.