19 Februari 2014

opini musri nauli : RAHASIA KOMPASIANA BIKIN KEOK ANGGITO, UGM DAN KOMPAS


Akhir-akhir ini kita dikejutkan tulisan di Kompasiana yang memuat tulisan “Anggito Abimanyu Menjiplak Artikel Orang (Opininya di Kompas 10 Feb. 2014)?. Dengan telanjang (ciri khas tulisan di Kompasiana), sang penulis memaparkan tulisan Anggito Abimanyu yang disalin (copas) dari tulisan Opini Hatbonar Sinaga yng berjudul “Menggagas Asuransi Bencana”.
Bukan sekedar “disadur', tapi “ditelan mentah-mentah”, perkalimat, lengkap tanda baca (titik koma) tulisan Hatbonar Sinaga dan kemudian menjadi dan diakui sebagai tulisan Anggito Abimanyu.

Tulisan yang kemudian dikupas di Media sosial “Kompasiana' menyambar dan gegar menggelinding seperti air bah. Media massa cetak sekelas Kompas kena getahnya. Kompas dianggap bertanggungjawab memuat tulisan “plagiat” dan itu cukup memalukan.

Dahsyat gema itu melebihi suara meletusnya Gunung Sinabung, ataupun Gunung Kelud. Bahkan lebih heboh dari “tertangkapnya Ketua MK”. Sungguh. Dunia tulis menulis kemudian menjadi heboh.

Bayangkan. Sekaliber Anggito Abimanyu yang mempunyai sederet gelar akademis yang lengkap, mempunyai track record di Pemerintahan yang cemerlang harus berurusan dengan dunia yang kemudian “menghujatnya'.

Tulisan di Kompasiana kemudian “menghantam” media sekelas Kompas, sekaliber Anggito Abimanyu dan kampus sekondang UGM. Semuanya “disikat' oleh tulisan di kompasiana.

Luar Biasa. Bayangkan. Tulisan di kompasiana, tulisan di dunia maya menggetarkan dunia nyata. Kompas, Anggito Abimanyu dan UGM.

Terlepas kemudian Anggito Abimanyu mengundurkan diri dari UGM, Kompas dan UGM tetap kena getahnya. Kompas hingga kini masih menunggu penjelasan resmi dari Anggito Abimanyu dan UGM tetap “memproses' tudingan plagiat dari Anggito Abimanyu.

Begitulah kekuatan dahsyat dari media sosial. Media alternatif setelah “kejemuan” membaca media konvensional yang “tulisan” sudah disunting oleh editor, media alternatif merupakan “senjata” yang mematikan. Senjata yang siap menerkam siapa saja yang bertindak tidak jujur dari pengamatan publik.

Seorang Anggito Abimanyu “mungkin” kurang menghitung kekuatan media sosial. Seharusnya Anggito Abimanyu harus belajar dari kekuatan Fesbukker yang “melindungi” KPK ketika kriminalisasi Bibit Chandra. Kekuatan Fesbukerslah yang kemudian “memaksa” istana mengeluarkan dekrit untuk menyelamatkan KPK, membuat kasus Bibit Chandra kemudian harus “dihentikan” oleh Kejaksaan Agung.

Atau lihatlah bagaimana kekuatan jaringan media sosial yang “memantau” kasus Prita Mulyasari dan kemudian membangun gerakan “seribu koin” sehingga dukungan dari publik mengalir. “konon” duit seribu yang dikumpulkan sudah mencapai 6 ton yang apabila dikalkulasikan mencapai “satu milyar' dan masuk kedalam “Guinness Books of Record”. Bahkan bank yang menerima duit Prita harus “menyediakan waktu selama 2 hari untuk menghitungnya”.

Lalu pelajaran apa yang bisa kita tarik dari media sosial ?

Pertama. Harus diakui, media online/media sosial merupakan media alternatif yang ampuh untuk menggerakan sebuah perubahan sosial.

Perubahan sosial yang dilakukan secara konvensional kurang mampu bergerak cepat dan menjalar ke berbagai penjuru daerah. Organisasi politik, organisasi sosial lainnya kurang mendapatkan dukungan sehingga cara konvensional kurang menarik perhatian kelas menengah Indonesia.

Sehingga media sosial sudah menemukan ruang momentum yang baru. Dan daya ledak” nya sudah dirasakan berbagai kalangan.

Kedua. Tulisan di kompasiana “telah menunjukkan jati dirinya”. Sebagai sebuah blog keroyokan, tulisan kompasiana membicarakan berbagai issu. Mulai dari yang paling serius seperti tulisan mantan Kepala Staff Angkatan Udara, Chappy Hakim, tulisan intelijen dari Prayitno Ramelan ataupun tulisan “nyeleh” dari Pakde Kartono.

Segala aneka ragama peristiwa digambarkan dengan jernih oleh penulis kompasiana. Lengkap dengan photo, dokumen pendukung, catatan kaki. Namun tulisan tetap disajikan dengan renyah, ringan dan menggugah orang untuk terus membacanya.

Segala tema ditawarkan. Mulai dari cara menulis, membuat reportase, menjawab persoalan komputer, photografi hingga persoalan masak memasak.

Penulis masih ingat ketika kecelakaan “maut tugu tani”, analisis kecepatan mobil, suspensi, arah angin dibahas tuntas. Atau ketika Presiden PKS ditangkap, adanya cyber army yang ingin memperkeruh keadaan, justru “dihajar” apabila tidak dilengkapi dengan data-data. Sehingga penulis kemudian melihat penulis kompasiana “palsu” menyingkir dan tidak pernah lagi keluar tulisannya di kompasiana.

Atau mengenai adanya photo yang dicoba dikaitkan “mundurnya” Paus dan dianggap masuk Islam, dianalisis secara jernih para ahli photografi dan kemudian menyatakan photo itu tidak sesuai dengan tulisan yang disampaikan.

Atau masih ingat ketika adanya “tunjuk tangan” dari pengusaha kepada Presiden SBY. Dengan teknologi yang dipaparkan, ternyata Photo tersebut tidak sesuai dengan kalimat yang disampaikan.

Jadi jangan main-main menyampaikan berita apabila tidak sesuai dengan kenyataan. Langsung diserbu dan “biasanya” terbukti, para penulis kompasiana palsu hanya ingin “memperkeruh” keadaan.

Jangan coba-coba membikin gaduh disini.

Sama seperti di dunia nyata. Di dunia maya juga ada aturan yang “tidak tertulis'. Tulisan yang bersifat provokasi, menghasut, menjelek-jelekkan akan mendapat tanggapan dari penulis yang lain.

Dengan banyaknya penulis yang menjadi anggota Kompasiana, sehingga “konon kabarnya” tulisan di Kompasiana mencapai 2 juta tulisan setahun. .

Tulisan yang masuk “praktis” tidak disensor oleh admin. Admin cuma menegur judul yang tidak boleh huruf kapital semuanya.

Tulisan dibagi berdasarkan kategori seperti Politik, Humaniora, Ekonomi, Hiburan, Olahraga dan seterusnya. Penulis sendiri yang menentukan kategori tulisan.

Tulisan kemudian diberi penghargaan oleh admin berdasarkan headline, highlight, terbaru dan trending articles. Selain itu tulisan “dinilai” oleh pembaca kompasiana sendiri seperti teraktual, inspiratif, menarik dan bermanfaat.

Setiap tulisan yang kemudian dibaca, admin kemudian membuat record tulisan yang sudah dibaca. Lengkap dengan kolom tanggapan terhadap tulisan.

Penulis sendiri sudah pernah merasakan “suasana” tersebut. Menjadi headline, highlight, trending articles. Pertemanan kemudian bertambah.

Maka ketika Anggito Abimanyu menulis tulisan Opini di Kompas, pilihan penulis memaparkan plagiat di Kompasiana tentu saja berdasarkan “daya ledak' Kompasiana itu sendiri.

Ketiga. Tulisan yang disampaikan “suara hati” mendapatkan dukungan dari para kompasianer. Entah berapa banyak tulisan perjalanan yang kemudian menjadi “guide” penulis lain untuk mengunjungi kota-kota yang telah ditulis.

Dengan melihat kasus Anggito Abimanyu yang kemudian ditelanjangi di Kompasiana, membuktikan, dunia maya sudah “mempengaruhi” dunia konvensional. Dunia nyata. Dunia maya sudah menjadi bagian dari proses gerakan sosial yang tidak pernah disadari.