06 Juni 2014

opini musri nauli : Skor untuk Mahfud, MD




Terlalu sayang melupakan dan menceritakan pandangan publik mengenai Mahfud MD seorang “negarawan” yang menjadi tim pemenangan kandidate Presiden Prabowo – Hatta.

Terlalu sayang “sikap” Mahfud MD yang kemudian menjadi “tim” penting Prabowo – Hatta.

Sikap ini berangkat untuk mengukur “negarawan” Mahfud, MD dalam tarik menarik “pilpres 2014”.

Namun untuk mengukur sikap Mahfud, MD tentu saja mempunyai rentang yang panjang sehingga pandangan kita “tetap” memberikan apresiasi kepada Mahfud, MD.

Diibaratkan pertandingan sepakbola, Sebagai orang yang disegani dan sering dianggap sebagai pendekar hukum sebagai ketua MK, Mahfud datang dengan skill “pemain” lengkap. Mempunyai “tendangan” seperti Becham, mempunyai gocekan seperti Messi atau Ronaldo, mempunyai “tandukan” bola seperti Ronaldo (yang mempunyai heading hingga 78 cm diatas Patrick Evra) dan mempunyai strategi seperti “Sir Alex Ferguson” atau Carlo Ancelotti.

Sebagai bentuk konsistensi Mahfud, MD kita harus memberikan skor 1 – 0 ketika “ditarik-tarik” Abu Rizal Bakrie mengajak “duet” menjadi Wakil Presiden. Mahfud, MD menjawab sebagai “kader” NU, Mahfud, masih menunggu bagaimana perintah partai. Mahfud, MD menolak secara halus.

Namun pertandingan “sepakbola” modern” tidak cukup dengan berbagai “skil” individual semata. Strategi tim juga harus diperhitungkan.

Masih ingat ketika “Jerman” mencukur” Argentina, 4 – 0 tanpa balas pada perempat final World cup 2010. Padahal Lionel Messi sedang berada dipuncak dan dipuja sebagai pemain terbaik sejagat (4 kali pemain terbaik).

Telisik punya telisik. Ternyata kemampuan “skill” individual Messi tidak didukung “suplai” bola dari gelandang serang dari tim Argentina.

Pemain Jerman berhasil “menguasai lapangan” tengah sehingga Messi seperti “sendirian” di depan gawang. Jerman berhasil membuktikan hipotesis sepakbola modern. “Siapa yang menguasai gelanggang tengah” maka menguasai pertandingan dan meraih kemenangan.

Mahfud “disesalkan” fans sepakbola. Menjadi “pengatur serangan” di tim pemain yang banyak bermasalah. Ada pemain yang sulit diatur. Sesama pemain berebut menjadi bintang dan mengecilkan pemain lain. Sesama pemain bintang berebut menjadi “line up”. Tidak mau menjadi pemain cadangan. Pemain “selalu ribut” di ruang ganti.

Di tengah lapangan, Mahfud kemudian “tidak berhasil” menguasai gelandang tengah. Suplai bola tidak pernah mengalir ke Mahfud.

Titik lompat kemudian dilakukan oleh Mahfud. Mahfud kemudian “bergabung” ke Prabowo Hatta. Mahfud terjebak dengan pertarungan “pribadi' dengan PKB yang memilih Jokowi – Jusuf Kalla. Mahfud “terjebak” sebagai orang NU yang mesti “menunggu perintah partai. Sebuah perhitungan yang dibaca “publik” didalam acara “Mata Najwa'. Skor 1 - 1

Titik lompat kedua mulai dirasakan Mahfud. Mahfud “bergabung” dengan Amien Rais, tokoh penting “penjungkalan” Abdurrahman Wahid (Gusdur). Padahal Gusdur salah satu tokoh yang “dihormati” Mahfud.

Nama Amien Rais merupakan salah satu nama yang sering disebut-sebut Gusdur dan dicatat tinta hitam baik Gusdur maupun kaum Nahdiyin. Skor 1 – 2

Serangan kemudian bertubi-tubi. Gelandang tengah praktis dikuasai oleh pemain lawan. Masuknya Anies Baswedan tidak mampu diimbangi kapasitas personal Mahfud. Mahfud “terjebak” gaya permainan “individual”. Bola praktis tidak pernah mengalir ke kaki Mahfud. Sementara Anies Baswedan pelan-pelan mulai mengatur permainan dan mengontrol bola.

Berbagai serangan kepada Jokowi disikapi “wisdom” dan kata-kata lembut dari Anies Baswedan.

Kata-kata seperti “Jokowi orang baik, kita harus membantu orang baik” semakin mengkristal. Gaya permainan semakin dikendalikan. Stigma “orang baik” dan “orang jujur” mulai keteteran dimainkan kaki Mahfud.

Kita masih ingat dalam acara “Mata Najwa”. Mahfud “terkesima” permainan ciamik dari Anies Baswedan. Mahfud “terpukau” solo run dari Anies Baswedan. Anies Baswedan berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Skor 1 - 3

Kelengahan semakin sering terjadi. Antara pemain “tidak koordinasi”. Antara pemain saling memainkan bola sendiri-sendiri.

Fadli Zoen terus menebar teror kepada pemain lain. Gaya permainan “Tegas” terus dikumandangkan oleh pemain. Mahfud tidak memainkan peran sebagai “pengatur serangan' yang cantik.

Lagi-lagi bola mudah direbut lawan. Anies Baswedan mengeluarkan serangan balik. “Tegas tidak mesti “mata melotot. Tegas tidak mesti membanting HP”. Anies Baswedan mengeluarkan serangan balik. Dengan santai Anies Baswedan menendang bola. 1 – 4.

Belum selesai “koordinasi” yang baik. Belum selesai “mempersiapkan” pertahanan terbaik. Bola mulai dimainkan. Bola mulai lambat dimainkan. Pemain saling mencari posisi untuk mencoba serangan. Serangan mulai dibangun. Serangan mulai diarahkan ke arah daerah gawang.

Pelan-pelan “gaya pidato” terus menerus disuarakan. Bola dimainkan dari ke kaki. Berputar-putar di depan gawang. Bola belum ditendang karena banyaknya pemain yang berdiri di gawang. Persis gaya “parkir bus” Mourinho.

Permainan bisa dikendalikan. Mahfud mulai “mengikuti irama” permainan. Mahfud mulai menikmati pertandingan.

Namun penonton bosan dengan bola yang “cuma” berputar-putar. Penonton sudah mulai teriak. Hayo. Tendang bola ke gawang. Biar enak menontonnya.

Pemain semakin semangat. Pemain “merasa” sudah diatas angin. Pemain cuma berhitung. Mencetak gol cuma masalah waktu.

Penonton mulai kesal. Permainan cantik yang diperagakan membuat penonton sudah mulai jenuh. Penonton ingin menyaksikan gol. Bukan menyaksikan permainan cantik.

Seluruh pemain kemudian naik membantu serangan. Menguasai setengah lapangan bola. Dan mulai “teriak-teriak” untuk mencetak gol.

Namun pertahanan lupa dilihat. Pertahanan ditinggalkan.

Sambil “menjaga” pertahanan, pemain mulai merebut bola. Saling sikut. Saling dorong. Wasit entah berapa kali harus meniup pluit mengingatkan agar pemain bermain fairplay.

Entah dengan kelengahan. Entah merasa jumawa. Bola “berhasil” direbut. Serangan balik (counter attack) mulai disusun. “Gaya pidato” terjebak dengan pemasangan “lambang garuda”. Gaya pidato kalah “duel” dengan pemasangan “lambang garuda”. “Lambang garuda” bermasalah. Lambang garuda sudah diputuskan oleh Mahfud sendiri.

Mahfud “kehilangan” kontrol terhadap bola. Pemain mulai “sadar” akan terjadinya serangan balik.

Bola langsung dikirimi ke striker yang sendirian langsung berlari setengah lapangan bola menuju ke arah lawan gawang. Bola ditendang dengan baik pemain. Skor 1 – 5.

Mahfud kemudian “baru sadar”. Strategi permainan “skill individual” tidak mampu mengimbangi permainan “kolektif” yang diperagakan lawan.

Pertahanan ketat, harmonisasi antara pemain, konsisten dan sabar untuk bermain tidak mampu diperagakan oleh Mahfud.

Mahfud kemudian “mulai berhitung”. Mahfud mulai menyusun strategi.

Tapi skor 1 – 5 sulit dikejar oleh Mahfud. Mahfud sendirian dan dikepung berbagai strategi yang “ciamik” diperagakan tim lawan.

Mahfud kembali melihat catatan. Mahfud sedang berhitung. Melanjutkan pertandingan atau menemui pemilik klub sepakbola. Meminta berhenti atau melanjutkan pertandingan.

Penonton tidak sabar menunggu keputusan Mahfud.