07 Agustus 2014

opini musri nauli : FASHION JOKOWI


Dalam persidangan di MK, Prabowo didalam pidatonya didukung partai-partai pengusung yang memperoleh suara mayoritas di DPR. Tidak lupa juga mengakui didukung tokoh-tokoh angkatan 66 dan tokoh reformasi seperti Akbar Tanjung, Amien Rais.


Ingatan saya kemudian melayang dengan sejarah panjang perjalanan Indonesia. Akbar Tanjung menjadi bagian tokoh penting angkatan 66 dan Amien Rais tokoh reformasi 98. Bahkan Akbar Tanjung juga menjadi tokoh penting reformasi.

Namun yang tidak terlihat Mahfud MD sebagai Ketua Tim Pemenangan Prabowo – Hatta.

Melihat nama-nama yang disodorkan, maka Prabowo – Hatta didukung oleh Akbar Tanjung – mantan Ketua DPR-RI, Amien Rais Ketua MPR-RI dan Mahfud MD Ketua MK.

Sayapun tersadar. Prabowo ternyata didukung oleh mantan Ketua MPR-RI, Mantan Ketua DPR-RI dan mantan Ketua MK.

Apa pesan dari Prabowo. Hmm. Entahlah. Namun kesan yang ditangkap, tim Prabowo merupakan orang besar, tidak sembarangan yang pernah menguasai jagat politik Indonesia kontemporer.

Lalu apa pula pesan lain yang hendak disampaikan. Mengapa Kebesaran nama-nama Ketua MPR, Ketua DPR dan Ketua MK tidak berhasil mengalahkan Jokowi – JK.

Sekarang mari kita lihat satu persatu.

Pertama. Paradigma nama besar tokoh tidak menjamin akan kemenangan yang diraih. Nama-nama besar Akbar Tanjung, Amien Rais dan Mahfud memang menjadi wacana yang menarik untuk didiskusikan. Ketiganya alumni HMI, sebuah ormas yang terpandang di Indonesia.

Namun, mesin politik ataupun jaringan yang telah dibangun belum mampu menggerakkan dan mengalahkan relawan Jokowi – JK.

Relawan Jokowi – JK terus mengepung dan menguasai panggung-panggung dunia politik kontemporer.

Media kampanye monoton, konvensional dan searah berhadapan dengan kampanye-kampanye effektif kontemporer dan canggih.

Nama-nama seperti Iwan Fals, Slank, Sherina, Afgan menopang kuat dan berhasil mendorong Anies Baswedan sebagai dirijen utama menggerakkan relawan.

Lihatlah bagaimana “wabah” baju kotak-kotak, salam dua jari menghipnotis orang sehingga kaum golput kemudian bergerak.

Media sosial yang dibombardir dengan cyber army tidak berhasil menjungkal pendukung Jokowi.

Perang dunia maya (cyber army) berhasil “dikuasai” oleh relawan Jokowi.

Siulan (twitt) dari Sherina “memborbadir” followernya.
Situs “kawal.org” berhasil dijadikan rujukan daripada real count abal-abal yang diklaim oleh salah satu partai pendukung Prabowo.

Sehingga Akbar Tanjung, Amien Rais dan Mahfud kelabakan dan tidak bisa membaca arah pemilih yang menguasai panggung politik oleh relawan Jokowi.

Kedua. Gaya kampanye yang monoton, kata-kata yang berulang-ulang kesulitan menggungguli “gaya blusukan” Jokowi dan bahasa sederhana Jokowi.

Akbar Tanjung, Amien Rais dan Mahfud “terjebak” politik masa lalu, cara-cara konvensional dan ketinggalan mencari model membaca trend masa depan.

Dengan ciamik Jokowi menempatkan diri sebagai bagian dari masa depan, orang muda, mengerti desain panggung yang dimainkan orang muda menempatkan diri menjadi bintang panggung.

Konser penutup tanggal 5 Juli 2014 membuktikan Jokowi berhasil memainkan panggung dan meninggalkan panggung politik yang monoton.

Ketiga. Dukungan relawan dalam menciptakan lagu-lagu mendukung Jokowi, menempatkan diri Jokowi sebagai “entertainment” yang mengerti selera kaum muda.

Ada 50 lagu lebih yang bernuansa rapp, jazz, dangdut, pop yang diciptakan relawan Jokowi. Lagu-lagunya “easing” dan mudah dicerna. Khas anak muda.

Bandingkan lagu Ahmad Dhani yang menyadur dari group musik Queen, berpakaian ala nazi yang mendapatkan cemoohan dunia. Atau lagu “garuda didadaku” yang sering dinyanyikan dalam pertandingan sepakbola.

Keempat. Kunjungan Jokowi ke Iwan Fals, mampir ke markas Slank, konser salam dua jari menempatkan Jokowi sebagai “pemimpin kaum muda”. Pemimpin yang selalu disambut relawan. Lengkap dengan photo selfie-nya.

Kelima. Relawan Jokowi yang tersebar di berbagai daerah menyebabkan tim relawan mempunyai cara-cara kreatif khas anak muda.

Berbagai poster, selebaran menempatkan Pilpres menjadi sarana bergembira bagi relawan. Semuanya tersenyum mengeluarkan ide-ide kreatif yang tidak akan ditemukan di kelompok yang dimobilisasi.

Dengan melihat berbagai bentuk dukungan relawan Jokowi tidak salah kemudian kebesaran nama Akbar Tanjung, Amien Rais dan Mahfud tidak mampu mengimbangi kemenangan Jokowi.

Jokowi sudah menawarkan model kepemimpinan politik. Jokowi menawarkan fashion. Jokowi menawarkan ide kreatif memandang politik. Yang tidak dimiliki oleh nama besar Akbar Tanjung, Amien Rais dan Mahfud

Selamat datang generasi muda politik. Selamat tinggal politik masa lalu.