21 September 2014

opini musri nauli : BEDA PESAWAT BEDA PENUMPANG



Tulisan ini terinspirasi dari perjalanan panjang saya mengikuti berbagai pertemuan di berbagai daerah dengan menggunakan pesawat terbang. Menaiki suatu maskapai ternyata juga dipengaruhi berbagai tingkah laku penumpang. Entah dengan berbagai tingkah laku yang membuat saya menganggap sebuah hiburan. Baik ketika boarding (menjelang naik pesawat) maupun ketika turun dari pesawat. Pengalaman yang sering saya saksikan menambah pengalaman bathin dan bisa memandang masyarakat. Kekayaan bathin yang sering membuat saya senyum-senyum sambil memandang tidak mengerti dan geleng-geleng kepala.

Maskapai LCC

Dengan promosi penerbangan “berbiaya murah” (low cost carrier/LCC), LION air berhasil “menguasai” berbagai rute penerbangan dan banyaknya rute penerbangan ke suatu daerah. Sehingga praktis LION air merupakan pilihan utama keberangkatan.

Namun karena banyak pesawat yang berangkat dalam satu hari dengan berbagai rute menyebabkan Maskapai ini paling sering mengalami keterlambatan keberangkatan (delay). Entah berapa kali dan tidak bisa dihitung dengan jari, saya mengalaminya. Tidak salah kemudian Lion Air sering dijuluki “Raja delay”.

Selain pelayanan kurang maksimal, kenyamanan kepada penumpang juga sering diabaikan. Di Jakarta sendiri, di terminal IB, baru saja kita melewati “screening” dan metal detector, kita kemudian sering mendengarkan “teriakan” dari counter check in. Teriakan seperti “jambi tutup” mengabarkan check in untuk ke Jambi tidak diperkenankan. Persis di terminal bis.

Jangan coba-coba bernegosiasi akibat keterlambatan check in. Di tiket kita kemudian “ditandai dengan tulisan tangan dari petugas check in.

Menjelang boarding, setelah ada pengumuman keberangkatan, para penumpang “berdiri” terburu-buru, berebutan untuk memasuki barisan antrian, berdesak-desakkan. Suarapun bergemuruh. Persis berebut “menerima kupon” paket sembako.

Begitu juga ketika memasuki pesawat, penumpang berdesak-desakkan berebut tempat kabin untuk meletakkan barang. Penumpang tidak teratur. Mengisi sheat bangku belakang namun tetap masuk lewat depan sehingga sudah pasti bersenggolan dengan penumpang yang menuju ke bangku belakang.

Bawaan penumpang juga beragam. Membawa kotak dengan ikatan “sekedarnya”, membawa barang melebihi satu, membawa oleh-oleh yang dibungkus dengan kantong plastik yang dibawa “sekedarnya”. Benar-benar mengganggu.

Setelah landing, belum berhenti pesawat, penumpang sudah banyak yang menghidupkan handphone (walaupun pramugari sudah sering mengingatkan).

Begitu juga belum berhenti pesawat, para penumpang “tergesa-gesa” membuka ikatan pinggang (seatbeal) dan berdiri membuka kabin untuk menurunkan penumpang. Semuanya “seakan-akan” serentak dan “berebutan” turun duluan. Padahal masih ada waktu menunggu proses “meletakkan tangga” dari luar, proses membuka pintu dan proses dipersilahkan turun oleh pramugari.

Suasana menjelang naik dan turun dari pesawat mudah terekam oleh saya, karena suasana itu paling sering ditemukan dari maskapai Lion Air. Kadang-kadang juga penumpang Sriwijaya Air.

Saya kemudian memilih “mengalah” baik menjelang naik pesawat ataupun turun dari pesawat. Sehingga bisa dipastikan, saya termasuk penumpang yang suka memilih terakhir baik naik maupun turun pesawat.

Namun saya sering mengalami persoalan. Ketika hendak meletakkan Barang di kabin (saya jarang sekali meletakkan barang di bagasi baik karena alasan praktis, malas nunggu barang di bandara juga barang yang sering masih bisa dibawa ke kabin), saya sering menemukan bagasi diatas tempat saya duduk, sudah dipenuhi barang penumpang lain. Sehingga sedikit memakan waktu harus membuka kabin yang lain untuk meletakkan barang saya.

Kejadian di Lion Air juga sering saya temukan, ketika bangku saya ternyata sudah diduduki penumpang lain (saya lebih suka memilih bangku di emergency dekat jendela). Saya harus menemukan pramugari untuk menyelesaikan masalah ini.

Namun pengalaman yang “sedikit berbeda” saya temukan ketika dari Medan ke Jambi (via batam). Pada waktu itu, Bandara Polonia habis kebakaran. Pelayanan manual, karena seluruh sistem terbakar dan belum sempat dihadirkan peralatan untuk mendukung check in.

Saya memilih naik Air Asia (tentu saya dengan alasan LCC tadi). Pas pengumuman “boarding”, penumpang berebutan. Saya “tetap” memilih tenang tidak berebut.

Ternyata setelah di pesawat, penumpang harus cari sendiri bangku. Saya bingung. Mengapa tidak ada nomor bangku. Padahal naik mobil travelpun, bangku kita sudah ditentukan.

Pramugari kemudian hanya mempersilahkan saya untuk mencari bangku yang kosong. Bayangkan. Kita harus mencari bangku sendiri didalam pesawat. Benar-benar “seperti” naik angkot. Ha.. Ha.. ha..

Pengalaman lain justru membuat saya mengernyitkan kening. Dalam perjalanan Jakarta-Pekanbaru menggunakan Batik Air, saya menemukan kejadian yang bikin tidak mengerti dengan tingkah penumpang.

Saya berkesempatan masuk duluan ke pesawat dan duduk barisan ketiga dari depan. Setelah duduk, saya menyaksikan penumpang yang meletakkan barangnya di kabin dekat saya. Namun ternyata penumpang tersebut bukan duduk disana. Sang penumpang terus ke belakang setelah meletakkan barangnya di kabin. Dengan rasa tidak bersalah, dia terus berjalan. Saya melihatnya, sang penumpang jauh duduk di belakang. Kira-kira di tengah pesawat.

Tidak lama kemudian penumpang lain masuk. Dia bingung meletakkan tasnya karena di kabin sudah penuh. Namun sang penumpang tidak mau kalah. Dia bersikeras meletakkan barang di kabin dekatnya. Dia kemudian protes kepada pramugari.

Sang pramugari kemudian “mengumumkan” siapa sang pemilik barang. Tidak ada jawaban dari penumpang. Sang pramugari tidak mau kalah dengan “gertakan” penumpang. Dia kembali mengumumkan akan meletakkan barang di bagasi dan kemudian memanggil petugas agar dimasukkan ke bagasi.

Entah karena gengsi ataupun malu, tetap tidak ada yang mau mengakui sang pemilik barang yang meletakkan di kabin. Akhirnya pramugari tegas meletakkan di bagasi dan mencatat nama pemilik barangnya atas namanya. Saya tidak tahu proses pengambilan barang di bandara Sultan Kasim II di Pekanbaru.

Pantun di Citilink

Tidak setiap keberangkatan dan kedatangan pesawat disambut dengan “suasana heboh”.

Di Terminal 1C, suasana tidak “heboh”. Selain memang penerbangan dengan citilink tidak sebanyak rute dan pesawat Lion Air, suasana terminal “sedikit” adem. Selain bisa check in via internet, check in juga bisa dilakukan dengan mesin yang tersedia di seberang counter check in. Sehingga tidak banyak antrian. Selain itu juga ticket sudah termasuk “airport tax”. Pengumuman ini ditempel sebelum memasuki terminal IC, di berbagai spanduk didalam terminal 1 C juga di tempat pembayaran airporttax. Tulisan yang “meminta kepada seluruh penumpang citilink” agar tidak perlu membayar airporttax terus menggiring penumpang hingga ke gate ruang tunggu.

Selain itu, tidak ada berdesak-desakkan para penumpang. Para penumpang dengan santai mengikuti barisan dan sama sekali tidak ada yang terburu-buru.

Didalam pesawat, Maskapai Citilink selalu memulai dengan pantun. Baik sebelum keberangkatan maupun hendak landing. Pantun yang disampaikan oleh citilink cukup “menyegarkan” dan membuat penumpang sedikit santai menghadapi “take off” dan “landing'.

Pantun seperti “Bunga melati indah ditaman. Taman bersemi setiap hari. Terima kasih telah datang. Bersama dengan kami, citilink”. “Anak dara pergi ke kota. Pergi ke kota untuk berbelanja. Selamat datang di Kota.. Semoga kita berjumpa pula” membuat penumpang menghadapi dengan senyuman. Saya lihat dalam setiap penerbangan citilink selalu berbeda mengeluarkan “pantun”. Cukup banyak koleksi pantun dari citilink.

Berbagai peristiwa di setiap penerbangan memberikan kesan yang berbeda. Tinggal kita membutuhkan maskapai sesuai dengan kepentingan. Ingin mengatur skedul dengan banyak pilihan waktu maka bisa pakai maskapai LION Air atau maskapai dengan slogan LCC. Sedangkan ingin mendapatkan kenyamanan yang baik silahkan naik Garuda ataupun Citilink.