08 Februari 2016

opini musri nauli : Pragmatis Oposisi


Dunia politik Indonesia sedang “memasuki suasana suram”. Ikrar Koalisi Merah Putih (KMP) yang digawangi oleh Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Golkar, PPP, PAN, PKS ketika Pipres 2014 dan “memperkuat koalisi parlemen”. Pelan tapi pasti, kemenangan berbagai posisi kunci di MPR dan DPR “Berhasil dikuasai”. Termasuk menggolkan” paket UU MD3.

Kebutuhan oposisi yang kuat diperlukan di alam demokrasi yang sehat. Partai-partai pendukung seperti PDIP, PKB, Partai Hanura dan Partai Nasdem tentu berkonsenstrasi “mewujudkan” nawa cita Jokowi dan berbagai janji kampanye dan sulit diharapkan menjadi kritis terhadap program-program Pemerintah. Rakyat kemudian “disuguhi” alunan orchestra yang sama dan tidak diberi pilihan terhadap program Pemerintah.

Sehingga tidak salah kemudian public berharap “suara di parlemen” akan menambah kekayaan demokrasi di Indonesia.

Namun belum seumur jagung suasana demokrasi dirasakan oleh rakyat, arus balik mendukung Pemerintah mulai berdatangan. Terpilihnya Zulkilfi Hasan  (Ketua MPR) menumbangkan Hatta Rajasa di PAN membuat bandul politik bergerak ke Pemerintah. Kedatangan ZN ke istana disusul kemudian Presiden PKS Sohibul Iman (Presiden PKS yang menggantikan Anis Matta) membuat peta KMP menjadi berubah. Walaupun dengan tegas PAN dan PKS masih menyatakan “masih berada di KMP”, namun kekuatan KMP menjadi berkurang.Ditambah dukungan dari PPP dan Partai Golkar membuat KMP menjadi “berantakan”. Praktis tinggal Partai Gerindra yang belum merapat ke Pemerintah.  Partai Demokrat pun tidak bisa diharapkan akan mendukung KMP karena sejak awal partai tersebut terang-terangan memilih menjadi kekuatan tersendiri, bukan bagian dari koalisi mana pun.

Berbagai kebijakan Pemerintah seperti polemik pencalonan dan pelantikan Komjen Budi Gunawan sebagai kapolri, soal PMN (Penyertaan Modal Negara untuk BUMN). praktis “aman” didukung oleh parlemen.

Tentu saja, sebagai “pemain politik”, Jokowi memainkan berbagai gaya yang unik. Dengan “ciamik”, Jokowi memainkan “pertarungan” dengan KMP saat persoalan Komjen Budi Gunawan untuk menghindarkan “pertarungan terbuka” dengan KIH.

Dengan “bungkus” silahturahmmi”, Jokowi bertemu dengan Prabowo sebagai “orang penting” di KMP. Prabowo kemudian mengumpulkan “petinggi” KMP dan mengirimkan signal kepada Jokowi agar tidak melantik Komjen Budi Gunawan.

Kemudian “membuka ruang” kepada PAN dan PKS sebagai pesan “kekuatan personal” Jokowi sebagai “bargaining” politik untuk menghindarkan “desakan dari KIH.

Peta kemudian terbelah. KIH tidak solid yang ditandai dengan “sikap kritis” terhadap berbagai program pemerintah. Sementara KMP kemudian “bubar secara de facto” dengan dukungan dari parta pendukung KMP (seperti PAN dan PKS) dan diikuti PPP dan Partai Golkar. Praktis tinggal Partai Gerindra dan Partai Demokrat yang “tidak merapat” ke pemerintah.

Dalam menyukseskan agendanya, Jokowi “memainkan emosi public” sebagai pressure terhadap agenda yang ditawarkan. Kasus “pelemahan” KPK dan kasus “papa minta saham”, Jokowi memainkan “daya lenting” untuk menekan MKD agar memutuskan rantai kekuatan terhadap Setya Novanto. MKD kemudian bergeming dan Setya Novanto kemudian mengundurkan diri dari DPR-RI.

Dengan melihat dinamika politik, maka kekuatan KMP sebagai “oposisi di parlemen” menjadi masa lalu. Kekuatan “ikrar permanen” cuma seumur jagung.

Namun justru public dan rakyat menjadi dirugikan. Jokowi menjadi “pemain” unggul dan tidak bisa dikontrol. Praktis Partai Gerindra yang memainkan “oposisi di senayan”, Parlemen kemudian menjadi “stempel” berbagai kebijakan. Dan itu berbahaya bagi tumbuhnya iklim demokrasi.

Sikap tegas Partai Gerindra yang tetap memilih “oposisi” adalah pelajaran penting bagi demokrasi. Kita harus memberikan apresiasi kepada Partai Gerindra yang masih tetap kokoh mengambil sikap “memperkuat di parlemen”. Sikap Partai Gerindra adalah contoh demokrasi yang sehat di tengah “pragmatis” oposisi yang ditinggalkan oleh partai pendukung KMP.

Partai Gerindra harus bersabar dalam demokrasi di Indonesia. Sebuah pelajaran yang telah ditunjukkan oleh PDIP dalam putaran dua kali pemilu dan kemudian “meraih” pemenang Pemilu dan mengantarkan Jokowi sebagai Presiden.