15 Desember 2016

opini musri nauli : MENIKMATI KELUCUAN


Menikmati hidup adalah anugrah dari sang Illahi. Setiap kesempatan tempat kita bercanda ria. Meminggirkan kepusingan harga cabe yang terus naik. Atau berita tipi yang acaranya itu-itu.


Ya. Itulah hakekat dunia nyata. Bagaimana dengan dunia maya. Ya. Sama saja. Nikmati setiap perbedaan. Syukuri sebagai karunia Tuhan. Tapi kalo ada yang lucu. Sambil senyum-senyum masam boleh. Ketawa-ketawa juga tidak dilarang. Bahkan boleh sambil koprol atau guling-guling di tanah. Tidak ada yang dilarang.
Marilah kita tatap dunia maya. Asyik kok.

Kisah dimulai ketika orang tidak percaya lagi dengan informasi resmi. Entah dengan alasan anti “mainstream”, atau memang mau menyebarkan berita hoax, pokoknya informasi “miring”, cepat lebih senang dibaca. Tidak perlu berfikir langsung share ataupun kalo pengen, langsung “edit” pake photoshop sambil jingkrak-jingkrak kegirangan lihat hasilnya.

Lihatlah bagaimana issu Pilpres kemarin yang masih tersisa hingga sekarang. Entah memang “kadung” jengkel karena kalah ataupun memang mau cari “mainan” baru, setiap langkah Jokowi selalu diikuti, dipantau, diotak-atik ataupun dipersoalkan.

Mulai dari kancing jas, dialek bahasa Inggerisnya Jokowi, ataupun photo dibalik menjadi kiri.

Kelucuan pertama dimulai ketika hasil quick count tim survey abal-abal memuat hasil (entah bagaimana metodologinya) memenangkan Prabowo. Tokoh-tokoh yang saya ketahui sebagai orang terpandang, kemudian sujud syukur disaksikan kamera. Tipi oonpun memuat berulang-ulang.

Cara ini kemudian dibangun agar KPU mengikuti hasil quick count tim survey abal-abal.

Dunia akademispun geger. Hasil Lembaga survey kemudian dipersoalkan.

Namun hingga pengumuman KPU, sidang di MK, hasil quick count tim survey abal-abal tidak akurat sehingga peristiwa ini haruslah dianggap “kelucuan” paling “asyik” selama Republik ini berdiri.

Kelucuan ini anggap saja sebagai “door prize” terhadap kemenangan Jokowi.

Kelucuan kedua adalah seorang terpandang di Republik ini kemudian menuduh Pemerintah Jokowi telah memasukkan warga Negara Tiongkok hingga 10 juta orang. Bayangkan, lur. 10 juta orang.  Issu ini kemudian merebak.

Saya cuma melihat sebagai “kelucuan” yang cukup asyik.

Kelucuan itu  kemudian membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana mungkin, seorang terpandang, mempunyai gelar akademis lengkap, mempunyai akses ke pusat-pusat informasi namun kemudian lebih suka percaya angka-angka yang didapatkan dari ‘hoax”.

10 juta angka yang tidak sedikit. Indonesia aja “mati-matian” mendatangkan turis untuk mencapai 10 juta orang. Lengkap dengan agenda promosi di setiap kedutaan dunia.

Angka 10 juta juga adalah jumlah penduduk Jakarta yang menguasai Ibukota.

Tapi, ya, udah. Anggap saja kelucuan untuk menghibur setelah harga listrik terus naik namun setiap minggu dipastikan akan mati listrik tanpa pemberitahuan apapun.

Tentu saja masih banyak kelucuan yang dapat menghibur diri kita setelah seharian pusing bekerja di kantoran.

Namun saya sedang menunggu adegan “kelucuan” kentut dari petinggi negeri.

Issu kentut bisa dianalisis dari berbagai sudut. Baik dari nada kentut, bau yang dikeluarkan hingga durasi kentut.

Kentut merupakan kelucuan yang seru juga untuk dibahas. Tentu saja sembari makan Sari Roti sambil minum Equil.

Tokh dengan kelucuan kita bisa tidur sambil senyum-senyum.