04 Februari 2017

opini musri nauli : GAYA KEPEMIMPINAN “RASA” INDONESIA


Banyak yang belum paham dengan gaya kepemimpinan Jokowi. Entah memang melihat gaya Jokowi diluar pakem atau belum memahami latar belakang Jokowi didalam memimpin sebuah Pemerintahan.

Simbol seperti “naik pesawat pakai sarung”, “latihan memanah”, “gaya cengar-cengir” menghadapi issu penyadapan maupun berbagai symbol-simbol yang susah dimengerti.
Tentu saja banyak teori yang bisa menjelaskan gaya kepempinan. Didalam teori didalam buku klasik kepempinan yang biasanya bertebaran di berbagai organisasi maupun hasil dari diskusi para pemberi materi. Maupun dari berbagai literature yang mudah didapatkan di berbagai kampus, toko buku dan toko loakan.

Gaya kepemimpinan Otoriter  (Authoritarian), Demokratis, Laissez Faire atau kepemimpinan dilihat dari kepribadian seperti  Karismatik, Diplomatis, Otoriter,  Moralis dapat ditemukan berbagai literature.

Namun berbeda dengan berbagai Negara lain yang cukup tertib mengikuti mashab kepemimpinan dan cukup ketat dengan mashab. Di Indonesia, berbagai literature barat sulit mencari padanan dengna gaya kepemimpinan. Gaya Soekarno, gaya Soeharto, gaya Gusdur, Gaya Megawati bisa dilacak dari pola relasi para pemimpin dengan rakyat. Sedangkan Gaya Habibie dan gaya SBY lebih mudah dilacak dari literature yang berkaitan dengan “public speaking”.

Belum lagi apabila kita memotret bagaimana cukup berpengaruhnya tokoh masyarakat, tokoh agama didalam struktur informal di tengah masyarakat. Pola relasi ini lebih rumit, tersirat dan sepi dari pengamatan.

Saya kemudian mencari relasi antara yang dilakukan dengan para pemimpin dengan tindakannya. Dari tindakannya kemudian saya akan mengkalkulasikan alam pikiran, rekam jejaknya hingga tindakan yang dilakukan.

Tentu saja catatan ini cuma sekedar catatan ringan. Masih diperlukan analisis yang mendalam sehingga dapat digunakan sebagai “pisau bedah” sehingga dapat menjawab dan memperkaya pola kepemimpinan di Indonesia.

Rekam jejak

Untuk memahami alam pikiran pemimpin, salah satu pisau analisis yang sering saya gunakan adalah rekam jejak dari sang pemimpin.

Latar belakang kehidupan, masa kecil, pengalaman pahit, kehidupan social, bacaan, pengaruh dominan didalam mengambil keputusan, orientasi agama maupun orientasi politik hingga pandangan-pandangan kosmologi yang mempengaruhi pemimpin mengambil keputusan.

Caranya cukup mudah. Setiap perkataan dari pemimpin adalah symbol dari pola pemikiran. Baik disampaikan dari pidato-pidato, melalui visi misi sang calon, cara menyelesaikan persoalan. Ditambah dengan kemajuan zaman, setiap kalimat baik di media social maupun tulisan dari berbagai tokoh yang pernah berdekatan dengan sang pemimpin.

Penggunaan kalimat dari pemimpin adalah orientasi dari pola kepemimpinan yang sudah diramu dari rekam jejak. Dengan kalimat itulah, maka kemudian kita bisa menggali latar belakang sebelum diambil keputusan sehingga dapat mengambil kesimpulan dari pemikiran pemimpin.

Karakter gaya kepemimpinan Jokowi, Ahok, Gusdur, SBY, Megawati hingga tokoh-tokoh masyarakat di daerah dapat menjawab berbagai ramuan dari rekam jejak sang pemimpin.

Untuk memotret catatan itulah kemudian saya mencoba melihat dengan berbagai peristiwa hingga menempatkan pemimpin dari pola relasi.

Soeharto sering  menggunakan symbol dalam cerita di pewayangan. Istilah “lengser keprabon. Madeg pandito ratu” lebih melambangkan sikap seorang Raja Mataram dalam prosesi suksesi yang turun tahta dan kemudian pilihan menyepi menjadi pertapa.

Lengser artinya mundur, menyingkir, pindah. Sedangkan keprabon dari kata prabu, yang artinya pemimpin, Namun dalam konsep lain, Keprabon lebih sering diartikan dengan kebijaksanaan, kejujuran, keluhuran yang biasanya ditempatkan dalam tubuh resi (Brahmana).

Sedangkan “madeg pandito ratu” adalah symbol resi yang memberikan nasehat bijaksana kepada penghuni kerajaan apabila adanya kisruh yang terjadi. Dengan demikian maka “lengser keprabon” menempatkan Raja yang mengambil pilihan untuk mundur dari hiruk pikuk dunia dan menyepi.

Simbol ini kemudian disampaikan oleh Seoeharto ketika didesak mundur paska huru-hara social menjelang kejatuhannya.

Jokowi juga menggunakan symbol-simbol Jawa. Namun berbeda dengan Soeharto menggunakan symbol dan menempatkan diri sebagai Raja Mataram, symbol-simbol kosmologi Jawa juga digunakan oleh Jokowi lebih dekat dengan pola kepemimpinan dalam kosmologi kepemimpinan rakyat kebanyakan. Dengan kata lain, cara kepemimpinan Jokowi juga diajarkan para pinisepuh dan ajaran di tengah masyarakat.

Lihatlah status di FB Jokowi didalam menyelesaikan persoalan KPK-Polri, Simbol-simbol seperti “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti..." segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar..

Makna ini dapat ujaran 10 kebijaksanaan dari Sunan Kalijaga (Raden Said). Penyebar Islam di Jawa yang “memasukkan” unsur wayang didalam menyebar Islam. Hingga kini 10 kebijaksanaan masih hidup didalam mitologi Jawa.

Sedangkan untuk memahami gaya kepemimpinan Ahok dapat dilihat didalam teori Sun Tzu. Teori klasik yang di hidup di Tiongkok. Sun Tzu kemudian dikenal sebagai ahli perang Tiongkok kuno. Teori klasik yang masih hidup dan sering digunakan dalam strategi militer. Dalam alam kosmologi Tiongkok sering disebutkan Hanya ada 36 Strategi di bawah langit".

Lihatlah bagaimana Ahok memancing “tokoh” terkenal didalam menyelesaikan Tanah Abang atau Kalijodo. Sang Tokoh kemudian keluar dan kemudian dipukul oleh Ahok.  Cara ini biasa dikenal strategi “Kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya”

Sedangkan Gusdur yang besar di tradisi pesantren mempengaruhi cara pemikirannya. Berbagai wawancara membuktikan, Gusdur sangat patuh dengan “kiyai” dan menghormati tradisi pesantren yang meletakkan Kiyai sebagai orang yang sangat dihormati setelah orang tua.

Gus Dur yang pernah mengikuti pengajian KH Fattah (Mualim Tambakberas, Jombang) dan KH CHUDLORI. Dia pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, asuhan KH Ali Ma'shum. Dia juga pernah nyantri di Ponpes API, Tegalrejo, Magelang, asuhan KH Khudlori dan Ponpes Sarang di Rembang asuhan KH Zubair.

Belum lagi Gusdur dikelilingi Kiyai Chaos seperti  KH ABDULLAH ABBAS, KH Muslim Rifa'i Imampuro (Mbah Liem), KH ILYAS RUHIYAT, KH CHUDLORI, KH ABDULLAH FAQIH.

Ditambah pengembaraanya ke Kairo dan Eropa membuat pemikiran dan tindakan Gusdur tidak bisa dilepaskan dengan cara pandang “nahdiyin” sekaligus terbuka dengan gagasan modern.  Sehingga Gusdur kemudian lekat dengan kemanusiaan, toleransi dan pluralism.

Sedangkan mitologi yang hidup di tengah masyarakat mempengaruhi cara pemimpin local memimpin.

Di alam pemikiran Melayu Jambi, pemimpin kemudian ditempatkan sebagai symbol pohon beringin. Seloko “Pohon gedang di tengah dusun. pohonnya rindang. Akar tempat besilo. Dihormati “didahulukan selangkah. Dilebihkan sekato. Atau “tempat pegi betanyo. Tempat balek becerito”. Yang berhak untuk memutih menghitamkam, Yang memakan habis, memancung putus, dipapan jangan berentak, diduri jangan menginjek.

Penghormatan kepada pemimpin disebutkan “Alam sekato Rajo, Negeri sekato Bathin. Atau Alam berajo, rantau bejenang, kampung betuo, negeri bernenek mamak. Atau “Luak Sekato Penghulu, Kampung Sekato Tuo, Alam sekato Rajo, Rantau Sekato Jenang, Negeri sekato nenek moyang.

Alam juga mengabarkan pemimpin yang lalim sebagaimana ujaran “Rajo alim, Rajo disembah, Rajo lalim, Rajo disanggah”. Jatuh dipemanjat. Jatuh di perenang

Dan pemimpin yang baik dapat dilihat “negeri aman padi menjadi, airnyo bening ikannyo jinak, rumput mudo kebaunyo gepuk, bumi senang padi menjadi, padi masak rumpit mengupih, timun mengurak bungo tebu, menyintak ruas terung ayun mengayun, cabe bagai bintang timur, keayek titik keno, kedarat durian guguu.

Begitu juga dengan alam pemikiran berbagai daerah. Hubungan batin antara pemimpin dengan pola relasi dengan masyarakat juga menggambarkan pemikiran dan tindakan dari pemimpin.

Tentu saja masih banyak cerita dari berbagai daerah yang bisa kita ketengahan untuk memotret gaya kepemimpinan. Dengan memotret berbagai ramuan dengan mudah kita bisa memahami karakter dan gaya kepemimpinan.

Inilah yang memperkaya pengetahuan tentang kepemimpinan di Indonesia. Sehingga tidak salah kemudian saya lebih suka memberikan makna “rasa Indonesia” didalam melihat gaya kepemimpinan di Indonesia.