27 Agustus 2017

opini musri nauli : DAYA MAGNET HOAX



Diibaratkan lakon wayang, goro-goro sang dalan mulai memasuki paruh malam hari. Sang dalang mulai kesal. Anak wayang sudah bermain diluar dari pakem yang sudah disepakati sang dalang.

Setelah terbongkar “travel umron” yang mampu menghimpun hingga 72 ribu orang dan meraup 800 milyar, kepolisian kemudian “memaparkan” hasil penyidikannya tentang sindikat Saracen Penyebar Isu Sara (hate speech). Sebuah sindikat “paling canggih” yang mampu menghipnotis rakyat Indonesia yang lebih suka percaya “hoax” daripada informasi saluran resmi.

Terbayang satu tahun yang lalu. Dengan tema seragam “persis” dikomando, FB kemudian dibombardir issu yang sudah diluar nalar. Pagi hari dengan tema yang sama kemudian beruntun hingga siang hari. Bahkan entah beberapa kali kemudian menjadi viral.

Lihatlah bagaimana “ajakan” tidak mempercayai informasi resmi. Media televisi yang melalui “check, recheck, crosscheck” kemudian dipelintir. Entah dengan ajakan agar lebih percaya “hoax” daripada informasi yang benar.

Yang paling hangat tentu saja peristiwa Suriah. Dengan desain canggih, berita kemudian dipelintir agar mendukung pemberontak (yang ternyata kemudian ISIS). Pelan tapi pasti kemudian berita Suriah mulai menemukan titik terang. Issu “Bassir” yang dituduh Syiah dan dianggap pembantai rakyat Suriah kemudian mulai mendapatkan tempat berita internasional. Testimoni jurnalis Associates Press tentang keadaan sebenarnya Suriah membuat media internasional kemudian menjadi malu. Dunia kemudian tercengang ketika dunia begitu tolol percaya “mentah-mentah” media internasional.

Begitu juga tentang Presiden Turki yang dikudeta militer. Dukungan kepada Erdogan kemudian menjadi wacana di dunia maya. Erdogan kemudian dijadikan symbol sebagai “pejuang Islam”. Tapi wacana kemudian berhenti ketika Erdogan membuka jalur resmi pembicaraan dengan Israel.

Di Indonesia, kelicikan “hoak” ditandai dengan persoalan remeh-temeh Kabinet Jokowi. Entah serangan kepada Susi, persoalan kancing jas Jokowi, dialek Jokowi pengucapan lafal Bahasa Inggeris hingga yang paling mengerikan di Pilkada Jakarta hingga Pilpres 2014.

Tidak cukup tokoh politik dan pemerintahan. Tokoh agama tidak ketinggalan diserang. Tuduhan Quraish Shihab, Makmoen Zoebair, Ahmad Syafei Ma’arf, KH Mustafa Bisri hingga Ketua Umum PBNU.

Entah “daya ledak” hoax yang didesain atau masyarakat yang terlalu percaya dengan Hoax, tokoh-tokoh yang seumur hidup dibaktikan untuk Islam dapat diremehkan “seseorang yang mengaku ustad” yang baru mengaji “alif Ba”. Belum lagi televisi yang entah “berapa kali” kemudian terpeleset yang menayangkan “orang yang baru belajar” mengaji kemudian “sembrono” cerita tentang 72 bidadari atau persoalan “tahlilan”.

NU kemudian menjadi “benteng terakhir” dengan perang terbuka melawan hoax. Pelan tapi pasti, serangan cyber army disikat NU.

Namun yang membuat saya geleng kepala ketika tema “bumi datar” mampu menghipnotis kalangan intelektual yang punya ijazah diluar negeri. Atau tokoh-tokoh yang semula saya kenal mempunyai integritas, jam terbang tinggi di kalangan pergerakan tapi dengan santai posting di FB tentang “bumi datar’. Ketololan yang paling saya rasakan disaat 5000 yang lalu, manusia sudah meyakini bumi bulat. Tidak ketinggalan intelektual yang terus menerus memposting setiap pagi di FB tentang berbagai ketololan demi ketololan.

Atau ketololan serupa ketika Kerajaan Majapahit disebut sebagai Kerajan Islam. Bahkan Gajah Mada kemudian disebut G. Ahmada. Padahal kitab Sutasoma Empu Tantutalar didalam daun lontar masih terekam jelas tentang Kerajaan Majapahit sebagai Kerajaan Hindu.

Saya kemudian menarik nafas panjang. Apakah gelar akademik yang diraih di luar negeri tidak mampu memberikan “pencerahan” sehingga lebih percaya hoax daripada kajian scientic yang sudah sepakat bumi bulat ?

Daya magnet hoax begitu menggelegar. Cetar membahana kata Syahrini. Lebih dahsyat dari instruksi Presiden agar tidak percaya hoax. Lebih menggemparkan daripada suara gunung galunggung yang meletus 130 tahun yang lalu. Lebih menggema daripada meletusnya Gunung Tambora 200 tahun yang lalu.

Teringat dengan sebuah meme. “Meningkatnya kemudahan akses informasi berbanding lurus dengan nyungsepnya kecerdasan sebagian masyarakat kita”. G. Ahmada.

Lalu apa pelajaran yang bisa ditarik dengan dibongkarnya sindikat Saracen Penyebar Isu Sara (hate speech) ?

Saya kemudian menjadi tahu. Siapa manusia yang percaya kepada kabar burung (hoax), kabar angin (Fasiq), selentingan, issu, gossip.

Saya kemudian menyeleksi dan menjadi alat ampuh kemudian langsung “delete” dari pertemanan orang yang share hoax di FB.

Gelar akademik tidak mampu “membuka cakrawala berfikir”. Lebih percaya ilmu “katanya” daripada pendekatan logika yang sistematis.