19 Juli 2018

opini musri nauli : Aur


Bak “aur dengan tebing” kata temanku sembari posting di FB bersama dengan istrinya. Akupun tersenyum melihat postingnya.

Di tengah masyarakat Melayu Jambi dikenal “Bak aur dengan tebing, tebing sayang ke aur, aur sayang dek tebing, tebing runtuh aur tebawo. Tidak terpisahkan antara tebing dengan aur.
Ya. Istilah aur merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan adanya “aur” maka aur kemudian menjadi penahan tebing agar tidak runtuh. Sedangkan apabila runtuhpun tebing, maka aur mengikuti tebing dan hanyut ke air.

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, “aur” kemudian diartikan duri bambu yang berduri, kuning bambu kuning, licin bambu yang tidak berduri”.

Istilah bambu juga sering dilekatkan kepada sifat kepemimpinan. Dikenal “bilah bambu”. Seorang pemimpin tidak dibenarkan untuk “satu diinjek, satu diangkat”. Menampakkan sifat tidak adil. Terhadap saudara maupun kelompoknya dilindungi. Namun terhadap masyarakat kemudian diinjak-injak dengna hukum yang keras.

Tema bambu kemudian hangat di Jakarta. Dengan semangat heroic, rakyat Jakarta menyambut Asian Games dengan mengibarkan bendera dengan bambu. Semangat heroic kemudian digelorakan oleh Gubernur Jakarta sebagai bentuk “partisipasi public”. Bahkan dengan mengeluarkan surat Edaran kepada Walikota agar dukungan dan bentuk partisipasi public tidak boleh dihalangi.

Heroik bambu runcing tidak dapat dilepaskan dari suasana kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan berbekal bambu runcing rakyat Indonesia berhasil mengusir penjajah. Semangat heroic inilah yang kemudian digelorakan oleh Gubernur Jakarta.

Semangat heroic menyambut Asian Games di Jakarta tidaklah salah. Namun dengan anggaran APBD mencapai 77 trilyun, menyambut tamu dari negara-negara Asia dengan bambu adalah sebuah kenaifan. Bukankah gelora semangat heroic rakyat diletakkan pada tempatnya.

Pertama. Sebagai tuan rumah Asian Games, ini adalah pesta yang disambut dengan riang gembira. Menyambut riang gembira tentu saja menggerakkan rakyat Jakarta dengan cara menyiapkan relawan-relawan untuk menyukseskan.

Entah menyiapkan berbagai tempat-tempat yang mudah ditemukan oleh pelancong, menyiapkan relawan membantu memudahkan perjalanan para pelancong. Atau menyiapkan rakyat Jakarta untuk mengisi berbagai tempat-tempat kejuaraan sehingga semarak Jakarta dapat dirasakan.

Kedua. Asian Games bukanlah ‘suasana perang’ yang disambut bambu runcing. Dengan anggaran sebesar itu (anggaran terbesar di Indonesia), penyambutan para pendatang di Jakarta haruslah gegap gempita.

Lihatlah bagaimana panitia TPS di berbagai daerah yang menyambut tamu Pemilu atau Pilkada dengan menyiapkan tenda atau berpakaian daerah.

Atau lihatlah suasana 17-an agustus. Suasana semarak benar-benar dirasakan oleh rakyat. Sehingga meletakkan bambu dan kemudian mengaitkan dengan “perang” adalah perumpamaan yang sungguh tidak masuk akal.

Ketiga. Simbol bambu adalah symbol kejayaan Indonesia mengusir penjajah. Lalu dengan menggunakan bambu apakah dapat membangkitkan semangat nasionalisme para atlet yang akan bertanding ? Rasanya terlalu naif. Kata anak muda zaman now “Jaka sembung bawa golok”.

Yang dibutuhkan atlet justru supporter yang mengisi berbagai venue sehingga semangat atlet terpompa.

Sembari meneruskan membaca, aku cuma bergumam. “Sudah, ah. Mungkin kurang piknik”.