21 Juli 2018

opini musri nauli : PDIP – Sang Oposisi

Sebagai Ketua Umum Partai yang mengalami ketidakadilan di masa Soeharto, Megawati Soekarno Putri telah ditempa matang untuk memimpin PDIP. Partai yang “diobrak-abrik” Soeharto dalam penyerbuan kantor PDI tahun 1996 (dikenal Kudatuli/Kerusuhan 27 Juli 1996).


Memimpin partai ditengah himpitan orde baru namun kemudian menjadi kampiun Pemilu 1999 namun kalah dalam pemilihan Presiden di MPR. Membuat Megawati memimpin partai sebagai partai oposisi 2004 dan 2009. Sebuah konsisten panjang yang berhasil menjadi pemenang 2014 sekaligus mengantarkan Jokowi menjadi Presiden.
Sebagai partai oposisi, konsistensi Megawati tidak diragukan lagi. Sikap konsistensi panjang ditengah Tarik menarik kepentingan pragmatis menyebabkan PDIP partai yang paling solid didalam memperjuangkan agenda-agenda partai. Mengusung kader-kader bertarung di Pileg, Pilpres dan Pilkada menyebabkan optimism kader-kader partai yang diberikan kesempatan. Sebuah keteladanan dan sikap kepentingan partai ditengah pesimisme public terhadap partai.

Konsistensi panjang sebagai partai oposisi menyebabkan PDIP “menyaring” kader-kader partai yang militant, memperjuangkan ideology dan mengenyampingkan “kader-kader” kutu loncat dan pragmatis semu. Perjalanan panjang mencapai 20 tahun lebih sebagai partai oposisi menyebabkan PDIP salah satu partai yang “susah” ditaklukan dan menjadi kampiun (1999, 2014) atau runner up (2004), setiap pemilu. Kecuali tahun 2009 yang kemudian “disalip” Partai Demokrat.

Menyebabkan jenjang partai menjadi organisasi modern yang mampu kemudian menghasilkan kader-kader yang dapat dilihat dari raihan kemenangan kepala daerah. Bersama dengan partai Golkar, PDIP adalah penyumbang kader-kader terbaik didalam pilkada. Proses panjang yang tidak mudah diraih oleh partai.

Sehingga tidak salah kemudian Megawati diberikan apresiasi bersama dengan Akbar Tanjung didalam membawa partai melewati berbagai prahara politik. Membawa kapal besar melewati gelombang besar, keluarnya kader-kader yang kemudian mendirikan partai hingga berbagai maneuver politik. Prahara itu berhasil dilewati. Sehingga tidak salah kemudian Partai Golkar dan PDIP merupakan partai papan atas yang selalu mengungguli setiap pemilu.

Konsistensi, sikap partai yang mengusung nilai-nilai kebangsaan menyebabkan PDIP meraih dukungan diberbagai tempat. Berbagai kader-kader militant kemudian berhasil menjadi Kepala Daerah. Terlepas berbagai kekalahan diberbagai tempat (Sumut, Jawa Barat, Sumsel, Jawa Timur), PDIP mampu mengisi berbagai Kepala Daerah di Jawa. Sebuah torehan prestasi yang dapat dinikmati masyarakat.

Menghadapi pilres 2009, dengan modal 18,95 %, PDIP berkoalisi dengan Partai Nasdem (6,7 %) yang memberikan dukungan tanpa syarat, dengan tersenyum menatap ke KPU. Dukungan dari PPP (6,53 %) atau PKB (9,04 %) dan Partai Golkar (hasil Munas Partai Golkar dan suara 14,75 %) menyebabkan Pilpres menjadi ajang tampil “ciamik” ditengah “belum tuntasnya” dukungan Partai Gerindra untuk Prabowo dan issu “Poros tengah” yang belum ada kelanjutan. Sebuah suasana dirasakan Partai Golkar mengadakan konvensi Partai Golkar tahun 2004.

Namun meremehkan “Sang Dirijen” piawai SBY tidak boleh dianggap enteng dan justru akan menjungkalkan peta pertarungan Pilpres 2019.

Sehingga tidak salah kemudian sikap konsistensi panjang sebagai partai oposisi menyebabkan PDIP mampu “menyaring” kader-kader loyalitas yang dilahirkan dari proses panjang. Sebuah capaian yang tidak mudah diraih partai-partai di Indonesia.

Proses panjang yang mengutamakan kader-kader di Pileg, Pilkada dan Pilpres.

Pelajaran penting dari proses panjang PDIP bagaimana mengelola partai, konsistensi, mendidik kader hingga loyalitas menyebabkan PDIP berhasil menelorkan kepemimpinan. Pemimpin yang lahir dari “kawah candradimuka” partai.