26 Juli 2018

opini musri nauli : TEROR AHOK




TEROR AHOK

Entah mengapa Ahok begitu meneror, menakuti, menghantui wajah Jakarta. Ahok yang telah dipenjara, yang tidak lagi bisa bersuara namun mampu membuat namanya terus dibicarakan, dihina, dibully bahkan dibanding-bandingkan dengannya. Sebuah aburd ditengah ketidakmampuan untuk berbicara.
Lihatlah. Bagaimana “kali item” yang kemudian disalahkan kepada Ahok. Entah memang suka cari “sensasi” atau memang tidak mampu lagi membersihkan sehingga harus ditutupi jarring hitam sehingga membuat “akal sehat” menjadi terganggu.

Apakah benar “peninggalan” Ahok atau tidak, semua permasalahan Jakarta menjadi tanggungjawab Gubernur selanjutnya. Bukankah begitu dilantik, maka seluruh program yang dijanjikan waktu kampanye harus dilaksanakan.

Mengapa “Kali item” kemudian disalahkan namanya ? Apa salah kali item. Bukankah banyak sekali nama-nama tempat yang menjadi kenangan justru tetap menjadi ingatan.

Lalu mengapa ketika masyarakat kemudian memberikan nama kemudian dengan enteng para petinggi kemudian menyalahkan memberikan nama ?

Di Kota Jambi dulu dikenal tempat “pagar drum’. Disebut pagar drum, karena memang di tempat putaran memang ada tempat yang ada drumnya.

Ada juga nama Kecamatan Jelutung. Jelutung adalah nama tumbuhan kayu. Sampai sekarang masih menjadi nama yang melekat di Kota Jambi. Lalu apakah masih ada Jelutung. Seumur-umur saya, yang lahir, besar dan kehidupan sehari-hari, belum pernah ketemu jelutung disini.

Di Kabupaten Batanghari hari dikenal “Muara Bulian’’. Dulu sering disebut “pangkal bulian”. Memang disana dulu banyak hutan bulan. Hingga sekarang, masih melekat sebagai Ibukota Kabupaten Batanghari walaupun tidak ada lagi batang bulian.

Di Kabupaten Sarolangun masih dikenal Marga Air Hitam. Memang sungainya berwarna hitam.

Kembali ke penamaan tempat. Mengapa Wakil Gubernur Jakarta dengan enteng menyalahkan nama “Kali item’. Bukankah penamaan yang diberikan masyarakat memang melihat kali item. Lalu ketika “kali tidak bisa dibersihkan” kemudian menyalahkan masyarakat memberikan namanya. Wah. Wah.. Sungguh absurd. Sehingga tidak salah kemudian logika ini harus diletakkan dan sungguh tidak tepat.

Lalu mengapa nama Ahok begitu dikaitkan ? Apakah Ahok tidak menyelesaikan “kali item” sehingga Gubernur selanjutnya tidak mau begitu disalahkan. Bukankah yang diganti Gubernur itu adalah orang. Bukan Jabatan.

Sebagai jabatan, maka seluruh permasalahan, resiko, tanggung jawab menjadi beban Gubernur selanjutnya. Demikian “logika” umum di jabatan.

Lihatlah. Bagaimana kita “menggugat” Presiden didalam persidangan sebagai tergugat. Apakah kemudian Jokowi dengan enteng akan ngomong “bukan salah saya ? Itu Presiden sebelumnya”. TIdak pernah khan. Demikianlah mekanisme jabatan bertanggungjawab termasuk siding di muka persidangan.

Bagaimana nasib warga Jakarta ? Begitu menerorkah “Ahok” Sehingga segala persoalan kemudian “disebabkan” oleh Ahok. Atau kemampuanmu cuma segitu. Tidak mampu kemudian dengan enteng “menyalahkan” orang lain.

Lalu mengapa Ahok ? Apakah tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan selain cuma menyalahkan ?  

Bang, abang urus daerahmu sendiri”. Akupun tersenyum.
“Walaupun aku bukan warga Jakarta. Namun aku masih sering ke Jakarta. Entah pajak makanan yang ditarik. Entah parker. Entah pajak lain yang harus kubayarkan. Lagipula. Ini bukan persoalan Jakarta. Ini adalah “Logika” yang hendak dimainkan”.

Aku harus waras menjaga logika”, ucapku sembari mencari remote TV untuk mengganti channel. Bosan lihat wajah politisi tua yang masih doyan berkuasa. Enak dengar music.