06 Agustus 2018

opini musri nauli : MOURINHO INDONESIA


Ketika Porto menjuarai Piala Champion 2004, dunia kaget dengan kemenangannya. Publik kemudian berpaling dan mulai mengenal Jose Mario Dos Santos Mourinho Felix yang kemudian dikenal sebagai Jose Mourinho. Jose Mourinho kemudian dikenal sebagai “ahli strategi” dan piawai matematika.

Kelebihannya dengan menguasai matematika dengan memperhitungkan “kecendrungan” pemain (termasuk arah tendangan) membuat tim setua Intermilan mampu menjadi Juara Champion tahun 2010. Gaya Mourinho dengan “memarkir” pemain hingga 10 orang didalam kotak penalty membuat Mourinho dikenal pemain “licik” dan membuat meme memarkir bis.
Kemampuan Mourinho menaklukan tim-tim Besar seperti Barca, Madrid, Bayer Muecnhen membuat dia lirik menjadi Pelatih. Chelsea, Intermilan, Read Madrid dan MU adalah klub-klub internasional yang pernah merasakan tanda tangan sebagai pelatih.

Lihatlah seperti Barca yang “kagok” menghadapi “parker bis” yang dimainkan oleh Mourinho mengatur Intermilan. Cara yang kemudian berhasil memenangkan Intermilan menjuarai Champion 2010.

Sehingga Mourinho kemudian dikenal sebagai ahli strategi. Menguasai setiap permainan, memahami karakter lawan dan mampu menggerakkan tim walaupun compang camping. Karakter Mourindho membuat apapun dilatihnya membuat tim dihormati dan sering bingung dengan strategi yang dimainkan oleh Mourinho.

Lalu apa hubungan dengan Mourinho dengan politik Indonesia ?

Ya. Cara ini dimainkan oleh Jokowi dalam politik kontemporer. Dengan memasang Ali Moechtar Ngabalin (TA KSP) sebagai “juru bicara”, menarik Idrus Marhan sebagai Menteri Sosial, Mahfud MD (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), Tuan Guru Bajang (TGB/Tim Pemenangan Prabowo/Gubernur NTB).

Cara yang juga dilakukan Prabowo merekrut Anies Baswedan (juru bicara Jokowi) sebagai Gubernur Jakarta.

Diibaratkan pertandingan sepakbola, sukses Jokowi merekrut orang penting Tim Pemenangan Prabowo setelah berhasil membangun koalisi dengan Partai Golkar dan PPP (2 partai semula pendukung Prabowo) membuktikan, darah pemain tim Jokowi lebih segar. Jokowi sedang membangun “gelandang” serang untuk counter attack (serangan balik) setelah selama ini tim terus digempur empat tahun terakhir.

Masuknya TGB didalam koalisi Jokowi membuktikan “kejelian” Jokowi memenangkan pertarungan “psy war”. TGB yang sempat digadang-gadang koalisi Prabowo, berhasil “memenangkan pertarungan”.

Secara “psy war’, TGB dianggap representative tokoh Islam yang disegani (dengan background Doktor dari Timur Tengah) berhasil “meredam” serangan. Seruan TGB tentang “penggunaan ayat-ayat perang” berhasil “memisahkan antara perjuangan agama dan cuma urusan pilpres. “Setting” menjelang pilpres menjadi buyar setelah sebelumnya TGB merupakan kandidat kuat untuk pilpres.

Cara permainan Jokowi dengan mempersiapkan “gelandang serang” dilakukan setelah 4 tahun terakhir, Jokowi hampir praktis kurang merespon suara minor. Dengan rentang “mengerjakan” proyek-proyek infrastruktur’, Jokowi memerlukan “serang balik (counter attack). Suara-suara minor menenggelamkan prestasi Jokowi. Pasukan yang ada masih berposisi bertahan. Menghalau serangan tanpa memberikan effek kejut. Selain juga tim yang melingkari Jokowi kurang menguasai “medan tempur” dengan serangan balik (counter attack).

Sehingga diperlukan “gelandang serang” setelah “memarkir” pemain didalam kotak penalty selama 4 tahun terakhir. Diperlukan “darah segar’ untuk melakukan serangan balik yang effektif, mematikan dan membuat lawan kaget. Strategi effektif yang dilakukan tim-tim yang melaju ke Final. Cara yang juga digunakan oleh Perancis sehingga menjuarai dunia.

Cara yang dilakukan oleh Mourinho ketika “membungkam” Barca dan membuat Barca kehilangan “daya pesona” menghadapi pemain “super defensive” Intermilan. Cara yang membuat Intermilan kemudian mencuri gol dan melenggang ke final dan menjuarai Champion.

Sementara “hasil rekrutan” Anies Baswedan tidak mampu mendulang dukungan. Pengelolaan Jakarta dengan pikiran yang sulit ditangkap seperti “bamboo bendera”, issu kali item (waring, pewangi) membuat Anies Baswedan “kurang dilirik” mendampingi Prabowo.

Deklarasi Anies Baswedan for Presiden kurang mendapatkan dukungan. Nama-nama candidate Wakil Presiden antara AHY, Salim Al Jufri dan Abdul Somad lebih menggema dibandingkan nama Anies Baswedan masuk dalam barisan pilpres. Belum lagi berbagai persoalan antara Tarik menarik antara Partai Gerindra – PKS dan Partai Gerindra – Partai Demokrat membuat “suasana pilpres” menjadi tegang.

Namun koalisi for Jokowi juga tidak tenang. Tarik menarik antara Partai Golkar dan PKB juga membuat koalisi tidak nyaman. Dengan sedikit “gertakan’, hendak mencabut dukungan hingga khawatir memberikan mandate tanpa arah (cheq kosong) membuat Partai Golkar dan PKB saling “psy war’. Entah dengan “mencabut dukungan”, membangun koalisi baru atau “menetapkan sebagai Wakil Presiden’ coba dimainkan. Sebuah kekhawatiran baru menjelang detik-detik pendaftaran di KPU.

Terlepas dari “manuver” menjelang pendaftaran ke KPU, Jokowi sudah melewati “kisruh” KPK vs Kepolisian. Melewati periode sulit suara di parlemen (KMP) dengan dukungan dari Partai Golkar dan PPP, mendinginkan suara kritis PDIP yang sempat “panas dingin” dengan Jokowi.

Dengan barisan panjang baik koalisi kerakyatan yang tidak terganggu, merebut “suara” KMP, membangun jaringan baru dengan mempersiapkan “gelandang serang” dengan barisan penting Prabowo membuat Jokowi memasuki pilpres dengan senyuman.

Sehingga seruan “tapi siap berkelahi” lebih menawarkan “psy war’. Sikap tegas yang tidak aneh ketika ditanyakan “kita buat ramai” dalam debat kandidat ketika ditanyakan “berani melawan dan mengganggu kedaulatan” Indonesia.

Termasuk tidak tunduk dengan Amerika Serikat dalam kasus Freeport dan berdiri diluar diatas kapal perang di Pulau Natuna dalam gertakan Malaysia dan Tiongkok dalam peristiwa Laut Tiongkok Selatan.

Senyuman yang sumringah selesai penandatangani Freeport dan blok Rokan yang semula dikuasai oleh Chevron. Sesumringah Jokowi menyambut kehadiran cucu keduanya.

Sehingga tidak salah kemudian pertemuan Jokowi dengan 9 Sekjen Partai lebih menampakkan suasana informal, pakaian kasual, tertawa lebar dan jauh dari kesan pertemuan politik.

Ya. Jokowi “little” Mourinho. Mourinho – Indonesia.