26 November 2018

opini musri nauli : Batin 24 - 24 orang yang menguasai Batin


Dalam perjalanan ke Sarolangun, Bangko dan Kerinci, sebelum memasuki wilayah administrasi Sarolangun, kita menjumpai Kecamatan Batin 24. Kecamatan Batin 24 termasuk kedalam Kabupaten Batanghari, Jambi.

Batin 24 dikenal sebagai batin (asal) yang menguasai wilayah Batin 24. 5 Orang di Pasir Panjang, 8 orang di Durian Luncuk, 6 Orang di Teluk Mampir dan 5 orang di Koto Buayo[1].

Dusun asal Batin 24 terdiri dari Karmeo, Koto Buayo, Durian Luncuk dan Teluk Mampir.

Pasir Panjang kemudian dikenal tempat Karmeo. Teluk Mampir dikenal sebagai tempat Jelutih. Durian Luncuk dikenal sebagai Biring Kuning. Sedangkan Koto Buayo tetap bernama Koto Buayo hingga sekarang

Kisah Karmeo dimulai dari tempat Pasir Panjang. Tempat dimana adanya dua lubuk. Di hulu dan di hilir terdapat lubuk. Di Lubuk terdapat buayo. Apabila musim kemarau, datang,  Buayo sering keluar (timbul) dan terjadinya perkelahian buayo. Jadi tempat pertemuan perkelahian Buayo maka dikenal Koto. Jadi Koto Buayo tempat perkelahian buayo. Dan biasanya disaksikan para Raja-raja dulu. Tempat Raja-raja dulu menyaksikan di Pasir Panjang.

Selain itu juga tempat ini dikenal sebagai “Debung bedarah’. Tempat Raja-raja bertempur. Tempat ini kemudian dikenal sebagai Koto Buayo.

Kisah Jelutih dimulai dari Teluk Mampir. Disebut sebagai Teluk Mampir disebabkan teluk yang jarang mampir (atau tempat yang dihindarkan untuk mampir). Kemudian pindah ke Rantau kapuk. Sebelah ulu Sungai Jelutih. Disebabkan tidak betah tinggal disana kemudian sepakat tinggal diseberang ulu Sungai Jelutih. Tempat ini kemudian dikenal sebagai Jelutih.

Disebut Jelutih disebabkan ulu sungai ada kayu Belanti. Akarnya mirip Jalu[2] yang berwarna putih. Akarnya tempat sandaran perahu dan tempat untuk mendarat dari sungai ke darat. Karena sering dipegang-pegang menjadi licin dan berwarna putih. Makanya kemudian disebut Jalu putih.

Kemudian disepakati rapat di dusun, karena ada Sungai dan terdapat Jalu yang berwarna putih maka kemudian disebut sebagai Sungai Jelutih.

Sedangkan Durian Luncuk sebelumnya disebut Biring kuning. Kemudian pindah ke Dusun Mudo. Disebabkan adanya wabah penyakit kemudian pindah ke Dusun Durian Luncuk.

Dengan demikian maka Pasir Panjang dihuni 5 orang. Teluk Mampir 6 Orang, Durian Luncuk 8 orang dan sisanya di Koto Buayo. Dengan demikian maka 5 orang di Koto Buayo.

Didalam “Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap” disebutkan in het batin gebied staan de woningen in de doesoen. Dengan demikian, maka Batin terdiri dari beberapa Dusun.

Cerita di masyarakat, arti kata “batin” berasal dari kata “asal”. Makna ini kemudian menjadi dasar untuk pembagian Dusun.

Misalnya Batin 12 Marga Sumay. Dengan menggunakan kata “Batin”, maka ada 12 dusun asal (dusun Tua) sebagai bagian dari Marga Sumay. Sehingga Dusun didalam Marga Sumay terdiri dari Pemayungan, Semambu, Muara Sekalo, Suo-suo, Semerantihan, Tua Sumay, Teluk Singkawang, Teliti, Punti Kalo, Teluk Langkap, Tambon Arang dan Bedaro Rampak[3].

Ditengah masyarakat lebih mengenal Batin 5 di Koto Buayo, Batin 5 Pasir Panjang, Batin 6 Teluk Mampir dan Batin 8 Biring Kuning.

Batin 5 Koto Buayo, Batin 5 Pasir Panjang, Batin 6 Teluk Mampir atau Batin 8 Biring Kuning adalah kebun yang dihuni. Jadi Batin 5 di Koto Buayo adalah kelompok kebun yang terletak di Koto Buayo. Begitu seterusnya. Hingga kemudian menjadi Dusun.

Dengan demikian maka Batin 24 adalah 24 orang yang menghuni di Batin 24. Sehingga disebut sebagai Batin 24.

Disebabkan masyarakat yang banyak terdapat di Biring Kuning yang kemudian dikenal sebagai Durian Luncuk[4] kemudian ditetapkan sebagai Pusat Batin 24. Dipimpin Pesirah sebagai Pusat Pemerintahan setingkat kecamatan.

Selain itu di Durian Luncuk adalah tempat bersatunya Batin 24 orang. Baik sebagai benteng pertahanan dari serangan maupun sebagai pemersatu. Kisah-kisah serangan dari Raja Palembang maupun dalam peperangan Sultan Thaha Saifuddin tidak dapat dilepaskan Durian Luncuk sebagai benteng pertahanan yang kokoh.

Tembo Batin 24 dengan Batin 6 Mandiangin ditandai dengan Sungai Pelayang. Terletak di Dusun Jelutih.

Dulu Hulubalang diperintahkan Raja untuk melihat Tembo Batin 24. Kemudian berperahu di hulu. Di Hulu kemudian ditemukan Mayat. Setelah ditemukan mayat, hulubalang kemudian memberitahukan kepada Raja.

Raja kemudian “ngodar”[5] kepada Khalayak ramai’. Setelah dikabarkan, ternyata tidak ada yang mengaku adanya kehilangan warganya. Baik warga Batin 6 Mandiangin maupun Batin 24.

Setelah tidak ada yang mengaku kehilangan warganya, maka raja kemudian memerintahkan agar dikebumikan mayatnya. Tempat dikuburkan kemudian dikenal sebagai Teluk Bungin Bang. Kemudian dikenal Sungai Rotan. Sungai Rotan terletak dengan dengan Muara Ketalo.

Namun setelah dikuburkan, Rajo Batin VI Mandiangin kemudian mengakui adanya warga yang hilang. Untuk mencapai kesepakatan, maka dimana mayat ditemukan itulah tempat perbatasan Batin 24 dan Batin VI Mandiangin. Nama tempat ini kemudian sesuai didalam Batin VI Mandiangin[6].

Selain itu tembo Batin 24 dengan Batin VI Mandiangin juga terdapat Gunung Kecil.

Batin 24 berbatasan dengan Marga Maro Sebo Tengah di Benteng Rajo. Dekat pal 16 dekat Jebak. Sedangkan di Marga Maro Sebo Tengah, menyebutkan batas Batin 24 Dengan Marga Maro Sebo Tengah (Tembesi) terletak di Dusun Empelu Hulu Sungai Tembesi[7].

Batin 24 berbatasan dengan Marga Pemayung Ulu di dekat Bulian Baru. Walaupun didalam Marga Pemayung Ulu tidak menyebutkan berbatasan dengan Batin 24[8].

Batin 24 juga berbatasan dengan Marga Maro Sebo ulu di Sungai Ruan. Sedangkan di Marga Maro Sebo Ulu berbatasan dengan Marga V di Mata Gual[9].

Menurut masyarakat Batin 24, Mata Gual yang kemudian dikenal Batin V Mata Gual termasuk kedalam Batin 24. Sehingga batas Marga Maro Sebo Ulu yang berbatasan dengan Marga V di Mata Gual adalah Batas Marga Maro Sebo dengan Batin 24.

Batin 24 juga berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan.

Didalam peta Belanda “Schetskaart Residentie Adatgemeenschappen (Marga’S) tahun 1910, Batin 24 berbatasan dengan Marga Air Hitam. Namun baik Batin 24 maupun Marga Air Hitam[10] mengakui dan tidak dapat menceritakan tentang batas keduanya.

Desa Jelutih, Desa Hajran, Desa Olak Besar kemudian dikenal mempunyai hutan Desa. Lembaga Desa Pusako Serengan Tinggi Desa Hajran, Lembaga Desa Rimbo Pusako Batang Terap di Desa Jelutih dan Lembaga Desa Ibul Bajurai di Desa Olak Besar[11].

Kecamatan Batin 24 kemudian terdiri dari Kelurahan Durian Luncuk, Kelurahan Muara Jangga, Desa Aur Gading, Desa Hajran, Desa Matagual, Desa Simpang Aur Gading, Desa Pakuaji, Desa Kotoboyo, Desa Jangga, Desa Simpang Karmeo, Desa Bulian Baru, Desa Jangga Baru, Desa Terentang Baru, Desa Simpang Jelutih, Desa Olak Besar dan Desa Jelutih. 

Baca : istilah Marga di Jambi

Dimuat di www.serujambi.com, 26 November 2018
https://www.serujambi.com/2018/opini-batin-24-24-orang-yang-menguasai-batin/



            [1] Arpan, Ketua Lembaga Adat Kecamatan Batin 24, Batanghari, 24 November 2018
            [2] Jalu adalah taji yang terdapat di ayam.
            [3]  Ketua Lembaga Adat Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, 22 Maret 2013
            [4] Luncuk artinya “durian mudo”. Jadi Durian Luncuk adalah durian mudo.
            [5] Ngodar. Artinya Pengumuman dari Raja tentang keadaan genting.
            [6] M. Zen, Ketua Lembaga Adat Kecamatan Mandiangin, Mandiangin, 24 Oktober 2017
            [7] Hasan Basri, Desa Pelayangan, Muara Tembesi, 10 Agustus 2018
[8] Cikman, Desa Tebing Tinggi, 20 Agustus 2016
[9] Desa Kembang Seri, Batanghari, 14 Mei 2017
            [10] Muktar, Ketua Lembaga Adat Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, 24 Oktober 2017
            [11] Di Batanghari, Hanya 3 Desa Miliki Hutan Desa, www.jamberita.com, 19 Oktober 2013