06 Januari 2019

opini musri nauli : Kutukan Datuk Paduko Berhalo




Ditengah-tengah masyarakat Melayu Jambi, dalam menyusuri setiap tempat yang dilalui, berbagai kisah tentang Raja Jambi mewarnai pembicaraan. Entah sebagai bahan refleksi, berkaitan dengan Pilkada hingga tanda-tanda alam yang memayungi kampong mereka.

Dalam setiap ujaran melihat kepemimpinan, Nilai agung Raja Jambi ditempat sebagai alam cosmopolitan yang melindungi kehidupan mereka. Raja Jambi begitu mulia dan menjadi bagian dari cara pandang dan sikap hormat kepada penguasa Jambi.

Seloko seperti “Alam Sekato Rajo. Negeri Sekato Batin” adalah nilai yang hidup dan terus menjadi bagian dari alam pikiran. Menempatkan “alam sekato rajo” adalah keputusan Rajo adalah keputusan yang dihormati, ditaati hingga dihormati. Tidak ada satupun keputusan Rajo yang akan merugikan ataupun menyengsarakan rakyat Jambi.

Menempatkan Raja Jambi sebagai alam cosmopolitan dan terus hidup, disebabkan, Raja Jambi akan memberikan kebahagiaan, kemakmuran dan kedamaian. Seloko seperti “Padi menjadi, gerbau gepuk, air jernih, ikan jinak, ke aek cemeti keno. Ke darat durian gugur” adalah lambang dari alam terhadap melimpahnya kekayaan dan memberikan kemakmuran ditengah masyarakat. Dalam alam pikiran yang hidup di Jawa seloko ini seperti perumpamaan “gemah ripah. Loh Jinawi, tata tentram. Kerto raharjo”. 

Keputusan Rajo sebagaimana seloko “alam sekato Rajo. Negeri Sekato Batin” sebagai bentuk penghormatan dan menempatkan Rajo yang dihormati, juga dilatarbelakangi terhadap Raja yang akan setia kepada rakyat Jambi. Rakyat Jambi kemudian meyakini Raja akan setia kepadanya.

Keyakinan ini kemudian akan memberikan tanggungjawab kepada Rajo Jambi. Rajo Jambi kemudian harus mempunyai sikap seperti Jujur dan adil, Cerdik, Pandai, Menjunjung kebenaran, Arif dan Bijaksana dan sebagai suluh (obor).

Jujur dan adil ditandai dengan seloko “tinggi cupak dan gantang ; Sedekuk bak batu di pulau, Sedencing bak besi dipalu, Seilmu bak kuaw lanting, Tudung-menudung bak dawn sirih, Jahit menjahit bak daun petai, jangan bak tanduk diikat silang siur”.

Cerdik ditandai dengan cerdik idak membuang kawan, gemuk idak membuang lemak, tukang idak membuang kayu, gedang idak melando, panjang idak melilit”.

Pandai disebutkan sebagai Orang buto peniup lesung, Orang pekak pelepas bedil, orang lumpuh penunggu rumah, Orang patah pengejut ayam, Orang buruk pelantun dune, Kain baju peneding miang, Emas perak peneding malu, Idak ado bergs atah dikisai”.

Sedangkan menjunjung kebenaran disebutkan sebagai Bekato benar bejalen lurus, Memakai suci memakan halal”.

Sifat Arif dan bijaksana disampaikan didalam seloko “Bejalan dulu selangkah, Bekato dulu sepatah, netak mutus, Makan ngabisin”.

Sifat suluh ditandai dengan “Tempat Betanyo, artinya pergi tempat betanyo, Balik tempat beberito”

Namun apabila sifat kepemimpinan dan berkhianat kepada kepercayaan yang diberikan, selain ditandai dengan seloko “rajo alim rajo disembah. Rajo lalim Rajo disanggah”, juga dikenal sebagai “kutukan Datuk Paduko Berhalo” [1]. Alam cosmopolitan Rakyat Jambi begitu melekat mengenal Kutukan Datuk Paduko Berhalo.

Didalam Buku Sejarah Nasional Indonesia III – Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia” disebutkan keturunan Datuk Paduko Berhalo kemudian melahirkan Orang Kayo Hitam, Orang Kayo Pingai, Orang Kayo Pedataran dan Orang Kayo Gemuk.

M. Nasir Didalam bukunya Keris Siginjei Mengenal budaya daerah Jambi menyebutkan Orang Kayo Hitam adalah anak bungsu dari Datuk Paduko Berhalo dan Putri Pinang Masak (Putri Selaras Pinang Masak).

Cerita ini kemudian didukung oleh S. Budisantoso didalam buku “Kajian dan Analisia Undang-undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi yang menerangkan tentang Orang Kayo Pingai merupakan anak dari Datuk Paduko Berhalo yang beristrikan Putri Selaro Pinang Masak. Putri Selaro Pinang Masak berasal dari Pagaruyung yang berdiri tahun 1345 masehi.

Namun ketika Adityawarman wafat 1375 masehi, maka Kerajaan Pagaruyung mulai lenyap dari catatan.

Hingga kemudian berdiri Kerajaan Jambi. Kerajaan Jambi didalam Pemerintahan Datuk Paduko Berhalo, Orang Kayo hitam hingga Sultan Thaha tidak berkaitan dengan Kerajaan Jambi atau Kerajaan Melayu Jambi dalam perdebatan dengan kerajaan Sriwijaya. Selain memang hancurnya Kerajaan Melayu Jambi atau Kerajaan Jambi yang ditandai dengan ornamen candi-candi di Muara Jambi juga beragama Budha. Catatan I'tsing jelas menggambarkan sebagai pusat agama Budha di Asia.

Namun Kerajaan Jambi yang dipimpin oleh Datuk Paduko Berhalo, Orang Kayo Hitam beragama Islam. Dalam Majalah Warta Ekonomi tahun 1997 menyebutkan Kerajaan Melayu II di bawah kepemimpinan Datuk Paduko Berhalo.

Wilayah Kerajaan ini memanjang dari Ujung Jabung hingga ke Muara Tembesi.

Didalam Sila-sila Keturunan Raja Jambi kemudian berakhir di Sultan Thaha Saifuddin. Sultan Thaha Saifuddin kemudian gugur dalam peperangan melawan Belanda tanggal 1 April 1904 di Muara Tebo.

Budhisantoso, didalam bukunya “Kajian Dan Analisa Undang-undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi menyebutkan “Kutukan Datuk Paduko Berhalo” adalah kutukan yang memberikan hukuman kepada Raja Jambi yang berkhianat.

Kutukan Datuk Paduko Berhalo berisikan “Barang siapa yang mengubahkan perbuatan mengubahkan perbuatan itu yang tersebut itu atau bersuruk budi bertanam akal, pepat diluar rencong didalam atau memasang ranjau di bendur atau menanjak kanti seiring dan jika dikerjakan seperti yang tersebut itu maka dikutuki Quranul Azim yang tigapuluh Juz, menghadap ke ulu keno kutuk dimakan bisa kawi, Yang dipertuan di Pagaruyung, menghadap ke ilir keno kutuk bisa Datuk paduko Berhalo.

Keatas tidak berpucuk, kebawah tidak berakar. Ditengah ditarik kumbang padi, Padi ditanam ilalang tumbuh. Dimana juga mungkirnya disanalah tinggallah sumpah itu.[2].

Seloko “Keatas tidak berpucuk, kebawah tidak berakar. Ditengah ditarik kumbang padi, Padi ditanam ilalang tumbuh. Dimana juga mungkirnya disanalah tinggallah sumpah” atau “pepat diluar, rencong didalam” juga dikenal ditengah masyarakat. Hukuman ini disebut “Plali”.

Dalam hukuman “Plali” disebutkan didalam seloko Bapak pado harimau, Berinduk pada gajah, Berkambing pada kijang, Berayam pada kuawo.

Hukuman ”Plali” kemudian sering juga disebutkan ”hukuman buangan” atau ”hukuman bunian”. ”Sakit dak diurus. Mati dak dikuburkan”.  Manusia buangan yang tidak perlu diteladani.

Namun Kutukan Datuk Paduko Berhalo lebih berat daripada hukuman Plali atau ”hukuman buangan” atau ”hukum bunian”.

Kutukan Datuk Paduko Berhalo ditujukan kepada Rajo Jambi. Yang memegang amanah ”alam sekato Rajo. Negeri Sekato batin”.

Sedangkan kesalahan dan hukuman seperti hukuman Plali atau ”hukuman buangan” atau ”hukum bunian ditujukan kepada rakyat Jambi. Yang melanggar pantang larang adat yang telah diatur.



 

Dimuat di www.serujambi.com, 6 Januari 2019

https://www.serujambi.com/2019/opini-kutukan-datuk-paduko-berhalo/


            [1] Hasan Ismail dan H. Ahmad, Ketua Lembaga Adat Kecamatan Mersam dan tokoh adat Kecamatan Mersam, Batanghari, Mersam, 11 Agustus 2018.
            [2] Prof. Dr. S Budhisantoso, dkk, Kajian Dan Analisa Undang-undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi, Depdikbud, Jakarta, 1991, Hal. 29