04 Januari 2019

opini musri nauli : Perempuan



Dengan dikeliling benteng yang dipagari perempuan, Kabinet Jokowi mempunyai keunikan. Menempatkan Susi Puji Astuti (Susi), Siti Nurbaya Bakar (SN) dan Rini Suwandi (Rini). Menteri Susi kemudian menempatkan posisi sebagai Menteri kelautan dan Perikanan. SN menjabat Menteri Lingkunan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) dan Rini Menjabat menteri BUMN. Terakhir kemudian masuk Sri Mulyani setelah “balik kampong” dari IMF menjadi Menteri Keuangan.Strategi yang semula belum saya perhatikan.
Dimulai dari kisah heroic Susi Puji Astuti, Menteri Kelautan dan Perikanan. Diremehkan. Dimulai dari ijazah cuma tamaatan SMP hingga persoalan tato dikaki hingga berbagai pemberitaan miring.

Apalagi memimpin laut yang terkenal ganas, tanpa kompromi hingga kesulitan menertibkan persoalan laut. Banyak yang kemudian mencibirnya. Selain ijazah yang sempat dipersoalkan, dunia yang digelutinya kemudian lekat dengan dunia maskulin.

Namun pelan tapi pasti. Susi menunjukkan “kehandalannya”. Tanpa kompromi, kapal-kapal asing yang bebas berseliweran di laut Indonesia kemudian disikat. Tanpa ampun.

Slogan-nya “Tenggelamkan” menjadi momok menakutkan terhadap kapal-kapal asing. Susi kemudian menjadi bintang. Mengalahkan para menteri sebelumnya yang berijazah tinggi.

Sedangkan SN terkenal kalem. Berlatar belakang “perencanaan”, pelan-pelan kemudian menyatukan dua institusi yang berbeda dalam satu naungan, Mendesain ulang, merumuskan agenda hutan untuk rakyat, membenahi institusi yang rawan dengan penyimpangan.

Program SN yang dikenal dengan perhutanan social seperti Hutan adat, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, Hutan Tanaman rakyat hingga kemitraan kehutanan menjadi salah satu program yang paling banyak dibicarakan ditingkat basis. Perhutanan social kemudian menunjukkan jatidirinya. Menempatkan masyarakat sebagai pemilik dan penguasa hutan. Sebuah mimpi yang jauh dari bayangan sebelumnya.

Sementara Rini yang mendesain format ulang terhadap kinerja BUMN yang sering dijadikan “sarang sapi perahan” menjadi badan usaha negara yang kemudian leading diberbagai sector. Rini dengan kalem membenahi hingga kemudian mampu menjadi sumber utama dalam pembiayaan negara dalam sector infrastruktur. Sektor yang abai selama ini diurus oleh petinggi negeri.

Belum usai membicarakan mereka, kedatangan Sri Mulyani memperkuat jajaran mengelilingi Jokowi.

Setahap demi setahap kemudian mereka memperkuat barisan para punggawa. Menopang program-program negara untuk mengebut ketertinggalan pembangunan.

Puncaknya adalah mereka yang kemudian menjadi penopang Jonan (Menteri ESDM) bernegosiasi langsung dengan Freeport. “Mbah korporate” yang tidak disentuh sejak tahun 1970-an.

Memaksa Freeport untuk bernegosiasi ulang. Menawarkan saham hingga kemudian Indonesia mampu mengambil 51% saham.

Pesta akhir tahun kemudian ditutup dengan ditanda tanganinya pembelian saham dari Indonesia di Freeport. Indonesia kemudian menjadi pemegang saham. Sebuah pencapaian yang tidak terpikirkan para negosiator ulung sebelumnya.

Ketika saya melihat photo-photo selama proses negosiasi, melihat Menteri SN, Menteri RIni dan Menteri Sri Mulyani mengelilingi Menteri Jonan bernegosiasi, pikiran saya langsung terbayang. Bagaimana suasana berunding dengan perempuan yang kukuh bernegosiasi.

Kebayang khan ?

Tidak ?

Nah. Mari saya ceritakan teknik bernegosiasi dari istri saya. Perempuan minang yang kukuh bertahan dengan negosiasi.

Apabila belanja di pasar-pasar, pasti dengan enteng istri saya menawarkan barang. Kadangkala sesukanya menawarkan. Nah. Sang penjual sering kesel dengan tawaran istri saya. Sambil merengut (tau merengut ?), dia berujar “jangan gitu, bu. Kalau nawar kira-kira dong “. Sambil tersenyum istri saya cuma bilang. “Ya, Kalau mau. Kalau tidak mau ya, sudah”, sambil mengeloyor pergi.

Kadang-kadang justru saya yang kasihan dengan sang penjual. Dalam hati “kok tega amat. Menawarkan kok tidak kira-kira”.
Biasanya saya kemudian complain. “Mama nih. Bagaimana ?”.
Cuma dijawab “Biar. Nanti kalo yang ditawarkan yang masuk akal, baru kita beli”. Waduh. Ampun nian.

Jangan ikuti sarannya. Bisa berabe. Mana kaki pegal lagi.

Nah. Yang repot apabila kalau belanja bahan untuk dapur. Bisa 2 atau 3 tempat. Entah beli daging di pasar angso duo (pasar tradisional), kemudian mampir lagi ke Pasar Simpang Pulai (pasar yang sejak lama menjadi langganan) beli ikan atau bumbu dapur.. Eh. Malah mampir beli kelapa didekat rumah. Coba bayangkan. Mengapa tidak sekalian.

Dengan enteng kemudian dia memberikan alasan. Beli ikan di pasar simpang Pulai biasanya sudah dibersihkan. Sedangkan beli kelapa dekat rumah, karena kelapanya masih bagus, santannya banyak. Dan mau “dikocek” (diparut). Waduh. Tidak terbayang bagaimana repotnya.

Nah. Kebayangkan. Bagaimana Jonan dikelilingi ibu-ibu rumah tangga yang rela mau mampir satu persatu ke pasar cuma mendapatkan harga murah, barang bagus namun repot ?

Pasti Menteri Jonan pusing menghadapi “cara bernegosiasi ala-ala ibu rumah tangga”.

Pasti semuanya dihitung oleh para menteri-menterinya. Entah analisis yang rumit ala menteri Sri Mulyani, daya gertak dari Menteri SN ataupun tawaran ekonomi dari Menteri Rini.

Saya membayangkan. Bagaimana serunya Menteri Jonan menghadapi semuanya. Pasti lebih rumit menghadapinya dibandingkan bernegosiasi dengan Freeport.

Paling-paling Menteri Jonan cuma bilang. “Ya, terserahlah”. Sambil bersandar di kursi. Capek menghadapi cerewet negosiasinya.

Lihatlah. Semuanya menunjukkan kegembiraan setelah bertemu Jokowi. Cuma wajah masam Menteri Jonan yang keki.

Ha.. ha.. ha..