08 Januari 2019

opini musri nauli : Perawat Tradisi



Mendapatkan kabar menjadi anggota DPRD Provinsi Jambi pengganti antar waktu, saya kemudian teringat dengan komunikasi pertengahan 2016.
“Nah kalau abang mau ke datuk nan tigo itu artinyo ke suku Penghulu. Iyo. Yang di Datuk Nan Tigo. Kagek dio bawak abang ke orang yang lebih tahu dari dio, katanyo. Dia Ok. Kapan bae jadwal abang sidang ke Sarolangun”. (2 Agustus 2016)

Demikianlah pembicaraan di FB dan kemudian berkomunikasi langsung.

Melihat detail data yang diberikan, informasi yang diberikan cukup berharga, saya meyakini, sang pemberi kabar termasuk “orang penting” dari keturunan pemangku adat. Dalam tutur sehari-hari, mewarisi “tuah” dari kebesaran keturunan yang merawat tradisi.

Sebagai keturunan yang mewarisi “tradisi”, sang pemberi kabar mampu merawat tradisi yang mulai dilupakan generasi anak muda. Generasi zaman now.

Menjadi tanggungjawab pribadi, tanggungjawab kepada “nama besar keluarganya”, untuk tetap merawa tradisi. Baik menguasai informasi yang berkaitan tentang Batin Datuk Nan Tigo, sejarah panjang Marga Cermin Nan Gedang, hingga sumber-sumber informasi penting menyusuri jejak Marga dan Batin. Jejak yang menghubungkan antara sejarah panjang di Datuk Nan Tigo dan Marga Cermin nan Gedang hingga alam cosmopolitan rakyat Jambi di ulu sungai Batanghari.

Namun yang saya kagumi, sebagai anak muda yang dilahirkan dalam suasana kemajuan zaman, menguasai informasi dan teknologi, menguasai politik terkini namun merawat tradisi yang diwariskan turun temurun. Tradisi yang dihormati, dipatuhi dan masih hidup ditengah masyarakat.

Beban berat merawat tradisi adalah pekerjaan ganda. Menghadapi perubahan zaman namun tetap berpihak kepada tradisi Melayu Jambi. Terutama di ulu Sungai Batanghari.

Tidak salah kemudian saya memberikan perumpamaan sebagai Sang Perawat tradisi.

Saya kemudian menyusuri perjalanan ke Batin Datuk Nan Tigo. Yang kemudian dikenal tempat di Limun, Salah satu kecamatan di Sarolangun, Jambi.

Kemudian pembicaraan terputus setelah kemudian saya menuliskan Batin Datuk Nan Tigo.

Namun kemudian tidak terdengar suaranya. Baik berkomunikasi di FB maupun interaksi via telephone.

Sayup-sayup kemudian saya mendapatkan kabar. Ternyata sang pemberi informasi kemudian dilantik menjadi Anggota DPRD Provinsi Jambi. Penggantian antar waktu setelah anggota DPRD sebelumnya diberhentikan disebabkan pindah partai.

“Tuah” dari kebesaran dari tradisi harus mampu menjadi benteng, menjadi filter, menjadi teladan didalam melaksanakan beban dan tugas yang dipikulnya.

“Tuah” yang hidup dalam alam tradisi Melayu Jambi. Sehingga mampu mewarnai jagat politik kontemporer.

Ditengah hiruk pikuk melewati tahun suram politik di Jambi 2 tahun terakhir.

Selamat bertugas. 

Dimuat di www.penajambi.com, 8 Januari 2019

http://www.penajambi.com/opini/perawat-tradisi/