24 Januari 2019

opini musri nauli : Petarung



Tidak mungkin mengalahkan musuh dengna satu jurus yang sama
(Pepatah Tiongkok)

Gegap gempita Politik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari Basuki Tjahaja Purnama (BTP). Polemik, kontroversial, gaduh bahkan hingga memaksa adrenalin public terpacu. Kisah, perjalanan, setiap perkataan hingga nasib yang berujung ke “proses hukum” bahkan dipenjara.

Setiap perkataannya ditunggu public di televise setiap pagi. Disediakannya “tempat pengaduan”, system keuangan yang langsung dimonitor pubik, akses pengaduan melalui aplkasi terkini adalah prestasi-prestasi yang ditorehkan. Membuat warga Jakarta nyaman dan senyum-senyum menikmatinya. Sembari mengontrol kelakuan pejabat, kenikmatan sebagai warga kota metropolitan membuat warga kota lain iri melihatnya.
Semuanya kemudian punah. Hilang bersamaan dengan angin.

Hampir semua lembaga negara dihadapinya. Entah dengan issu reklamasi berhadapan dengan berbagai instansi, tuduhan korupsi berhadapan dengan BPK, laporan entah berapa banyak. Namun akhirnya kemudian “terpelesent”. Jatuh dalam proses tuduhan hukum. Menjadi penista agama. Itu kata hukum. Proses hukum yang harus dijalani.
Diapun tegak memasuki penjara.

Namun walaupun dipenjara, hampir setiap hari, namanya tetap dituduhkan dengan berbagai issu. Entah dituduh “agen asing”, “susupan”, atau issu-isu lain yang kemudian membuat dahi berkerut. Apakah begitu ditakuti sehingga walaupun “badannya” dipenjara, namun masih dikait-kaitkan ?

Sekarang dia “menjadi kuat”. Setelah “mematangkan ilmu kanuragan, mengolah jiwa, menentramkan batin, dia kemudian dia keluar dari kawah candradimuka. Dengan kekuatan penuh untuk kembali bertarung.

Membicarakan BTP adalah keunikan. DItengah semakin kuatnya arus kekuatan konservatif, fundamental yang semakin condong kekanan, issu identitas yang semakin sempit, BTP mewakili tipologi minoritas. Tiongkok dan Nasrani. Sebuah labeling yang menyesakkan dada.

Tidak cukup dihadapi dengan “proses hukum”. Berbagai hujatan kemudian mengajarkan banyak pelajaran penting.

“saya tidak memilih saya menjadi apa “”. Sebuah kodrati insani yang hakiki dalam dunia pemikiran. Bukankah “manusia diciptakan” sang pencipta sebagai hak yang universal ? Menikmati semua hak sebagai manusia ? Bukankah itu esensi manusia sebagaimana telah dicanangkan dalam berbagai sikap PBB ?. Pondasi penting dari HAM.

BTP kemudian menghadapi semuanya. Termasuk juga menghadapi pengagung dan pejuang HAM itu sendiri.

Semua cerita itu tidak akan usai. Diceritakan dari berbagai sudut. Entah kekaguman atau kesinisan. Namun sebuah keniscayaan. Sosoknya telah mewarnai politik kontemporer.

Setelah “bersemedi”, mengumpulkan kekuatan, mengolah ilmu kanuragan, dia kembali. Dia “menantang”. Dia mengobrak-abrik kandang lawan.

Tentu saja dengan jurus yang berbeda. Sebagaimana pepatah Tiongkok “Tidak mungkin mengalahkan musuh dengna satu jurus yang sama.

Selamat datang, BTP. Dibalik barisanmu. Masih banyak yang rindu akan sepak terjangmu.