26 Februari 2019

opini musri nauli : Matematika (2)


Angka dan data statistic adalah netral. Fakta terhadap sebuah ukuran sebuah peristiwa.

Angka dan data-data statistik harus dibaca berdasarkan peristiwa. Dibutuhkan berbagai ilmu bantu lain untuk menjelaskannya. Sehingga angka dan data-data statistik kemudian dilihat orang lain mempunyai arti. Bisa menjernihkan, menghentikan perdebatan. Bahkan bisa membantu melihat bagaimana perkembangan dari sebuah proses.
Namun angka dan data akan menimbulkan persoalan ketika ditafsirkan dan dibaca “demi kepentingan politik sesaat”. Apalagi tanpa dibantu ilmu-ilmu social untuk membacanya.

Demikianlah. Yang kita baca akhir-akhir ini.

Ketika Pemerintahan dengan bangga memaparkan pembangunan di Desa yang berhasil membangun jalan desa 191.000 km, 58.000 irigasi, 8.900 pasar desa dan 24.000 posyandu, angka-angka adalah netral. Tidak ada yang harus dicurigai selain aparat Desa bisa menggunakan dana desa untuk pembangunan di Desa.

Namun ketika reaksi kemudian bermunculan dan menafsirkan dengan “tafsiran” yang keliru maka menimbulkan permasalahan.

Dalam sebuah twitter pesohor negeri yang menuliskannya “Ini sama dengan 4,8 kali Keliling Bumi atau 15 kali Diameter Bumi.Itu membangunnya kapan? Pakai ilmu simsalabim apa?”, sayapun kaget. Selain tidak percaya dengan twitternya, sang pesohor negeri malah sebagai “orang berilmu” dibidang ekonomi. Bidang yang tidak lepas dari matematika. Baik membaca data maupun menganalisisnya.

Membandingkan antara jalan desa dengan 15 x diameter bumi “secara sekilas” Nampak masuk akal. Dan itu akan mudah termakan hasutan. Tidak lupa diakhir kalimat malah menegaskan “Itu membangunnya kapan ?. Pakai ilmu simsalabim apa ?”.

Apakah perumpamaan itu tepat ? Atau hanya sekedar “memancing polemik” sehingga twitternya kemudian menarik perhatian ?

Ah. Semoga cuma sekedar bercanda. Atau cuma guyonan di warung kopi.

Selevel pesohor negeri bertitel dan berilmu bidang ekonomi, keyakinan saya tentang twitter adalah “pandangannya” untuk mendegrasi pekerjaan apparat Desa. Dengan membangun narasi, sang twitter hendak mengabaikan bahkan tidak mengakui kinerja yang sudah dikerjakan.

So, pasti dia tahu, pembangunan desa dikerjakan di Desa. Dana yang dikirimi dari Pemerintah langsung masuk ke rekening Pemerintah Desa. Jadi pembangunan selama 4 tahun terakhir ini langsung dikirimi serentak.

Sehingga Desa kemudian melakukan pekerjaan berdasarkan rencananya masing-masing.

Nah. Ketika dana desa dikirimi “serentak” di 74 ribu desa selama 4 tahun, maka selama setahun cuma membangun jalan sepanjang 600 meter.

Bayangkan. Setahun di Desa cuma membangun 600 meter. Atau cuma 0,5 km lebih sedikit. Atau sebulan 50 meter. Atau sehari cuma 1,5 meter.

Apalagi logis ? Ya. Itulah cara menghitungnya.

Apakah berat membangun jalan sehari cuma 1,5 meter.

Ha.. ha.. ha.. dikerjakan gotong royong di RT saja, kelar tuh sehari.

So, pasti, membandingkan antara jalan yang dibangun 191 ribu km dengan keliling bumi 4,8 x sungguh-sungguh tidak tepat.

Sang twitter lupa, pekerjaan membangun jalan dikerjakan serentak dan di 74 ribu desa selama 4 tahun.

Atau memang “Sengaja” untuk mengecoh dan membangun narasi keliru.

Dalam perumpamaan yang lain, Kita bisa saja membayangkan “langkah kaki” Usain Bolt, sang sprinter putra tercepat didunia 100 m. Usain Bolt hanya membutuhkan waktu 9,58 detik untuk menempuh 100 m.

Apabila kita mau membayangkan, apakah mungkin 100 m cuma ditempuh 9,58 detik maka Usain Bolt sedetik mampu melangkah  lebih 10 m ? Apakah mungkin satu “ayunan” langkah mampu menjangkau 10 meter lebih ? Apakah masuk akal ?

Ha.. ha.. ha.. Usain Bolt telah meraih 9 medali emas dan 11 kejuaraan dunia.

Kadang angka juga harus dibaca secara utuh. Tidak boleh dipenggal-penggal. Selain menyesatkan justru akan menimbulkan kebodohan ditengah masyarakat.

Apalagi matematika salah satu mata pelajaran yang “alergi” untuk didiskusikan. Matematika justru “dijauhi”.

Sehingga sang twitter paham betul. Angka dan data-data statistic kemudian dipelintir. Sehingga gumaman ketidakpercayaan justru malah meminggirkan logika.

Padahal menurut Carl Friderich Gauss, matematika adalah ibu dari segala ilmu pengetahuan (mother of science).

Baca : Matematika