03 Februari 2019

opini musri nauli : PUISI




Siapa ?

Siapa Sesungguhnya, Engkau wahai Perupa ?
Datang mengabarkan.
Hutan Lindung. Hutan Konservasi.

Apakah engkau lebih peduli daripada mereka disini ?

Siapakah Engkau ?
Datang membawa kitab asing.
Kemudian mengabarkan peradaban baru ?

Siapakah Engkau, Sang pembawa kabar ?
Kemudian lebih jumawa daripada mereka disini ?

Siapakah, Engkau yang sok tahu.
Katanya bisa mengelola alam. Bisa mengelola gambut ?

Mengapa Engaku begitu angku, sombong dan jumawa ?

Apakah Engkau tidak tahu mereka lebih mengenal alam, air, tanah dan hutan.
Teluk sakti, Rantau betuah, Gunung Bedewo
Rimbo sunyi “tempat harimau bermain. Tempat ungko berebut tangis”
Rimbo keramat, rimbo puyang.
Itulah tugasmu. Bukan tugasku untuk belajar dari mereka.

Pergilah. Bawalah kitabmu.
Bawahlah kabarmu,
Sebelum engkau kualat dan menerima kutukan dari alam.

Tanjung Raden, Jambi, 18.00 wib, 2 Februari 2019.  



Dalam perjalanan menuju ke Berbak, saya ditelephone bang Sakti Alam Watir (Sakti). “Bang, bisa membuka acara pembukaan “Mengaji Puisi Hendri Nursal” ?, kata bang sakti diujung telephone.
Saya kaget. “Kok saya bang, “, ujarku mengelak. Terlalu penting terhadap diri saya kemudian membuka acara.

Selanjutnya “bla..bla..blaa..”, terang bang Sakti.

Akupun terdiam. Tidak enak sampai tiga kali mendesak.

Sepanjang jalan aku memikiran. Mengapa aku diminta “tolong” untuk membuka acara ? Apakah saya “pejabat” atau “orang penting” ?. Siapakah saya ?

Ah. Pikiran saya buang jauh-jauh. Tidka enak menolak undangan.

Setelah “menghadiri” acara di sebuah kecamatan di Batanghari, malampun aku meluncur ke acara. Sesuai jadwal yang dijanjikan.

Acara “mengaji Puisi Hendri Nursal” juga berbarengan dengan Pameran Photo “Makam Rangkayo Hitam”. Pameran Photo-photo dari bang Sakti.

Seorang seniman yang memotret kehidupan sehari-hari dari gambar. Sebuah cara untuk memotret kehidupan sehari-hari. Tidak berhenti.

Potretnya terpajang diberbagai tempat public. Entah di dinding-dinding hotel, perkantoran. Beliau lebih suka menyebutkan “Mengisi ruang kosong”. Ungkapan “rendah hati”.

Namun saya lebih suka menyebutkan “membuat puzzle’. Menyambung dari alam pikiran saya dan memindahkan ke gambar.

Sayapun kemudian menempatkan sebagai “kepak rambai hulubalang”. “Menjemput yang tinggal. Mengangkat yang berat. “Kermit”, kata orang uluan Batanghari.

Kalaupun saya tetap membuka acara, saya masih menempatkan diri sebagai “penjaga lampu togok”. Agar cahaya redup tetap hidup. Berkejaran waktu untuk merangkainya.

Sebagai orang yang ditugaskan “kepak rambai hulubalang” atau “Kermit”, tugas saya cuma “memayungi” payung kawan-kawan. Untuk membuka acara.

Keren untuk Hendri Nursal dan Bang “Sakti”.

Tugas malam itu berhasil saya tunaikan. Menjaga lampu togok agar tetap hidup.

Jambi, 3 Februari 2019