10 Februari 2019

opini musri nauli : UNEG-UNEG MINGGU SORE



Membaca uneg-uneg Pak Guru Wiwin tentang penggunaan imbuhan disore hari setelah pulang dari lapangan sembari mengirimkan photo di FB, membangkitkan kelucuan.
Saya sedang membayangkan, bagaimana mas wiwin yang “solonya” sangat kental namun menumpahkan uneg-unegnya di FB.


Kelucuan pertama saya rasakan dan sedang membayangkan, bagaimana Mas Wiwin sedang mangkel, kesal, uring-uringan mengenai tulisan yang keliru menempatkan “imbuhan”.. Uraiannya panjang. Nah, karena sedang membayangkan kelucuan, maka saya pengen ikut nimbrung.
Kedua. Setahu saya, mas wiwin yang “mengaku” ahli sejarah tapi kemudian menyentil kaidah Bahasa Indonesia. Bidang yang jauh dari jangkauan pendidikan formalnya.

Mas wiwin

Mengenai penempatan imbuhan, bukan “sampeyan” saja yang merasakan.
Sebagai orang yang “pernah mempunyai asisten”, mempunyai staf, menerima edisi perbaikan yang berkaitan dengan perkara, pernah diminta untuk “mengedit” tulisan, sudah mencapai “emosi” di ubun-ubun.

Tau khan, kalo saya lagi emosi meledak. Suara pasti melengking. Persis “suaranya” ketika malam-malam didatangi duda kerumah perempuan yang “tidak ada jantan”.
Pasti ngamuk.
Pasti keluar sumpah serapah. Ujung kalimatnya “Bengak, tolol, belajar lagi”, buka pelajaran dasar Bahasa Indonesia”.

Nah, kalo mas wiwin cuma menuangkan kekesalannya cuma di FB, saya harus “menahan” marah berhari-hari.. Kesal. Minum kopi tidak terasa nikmatnya.

Nah, Yang paling kesal. Sudah dijelaskan “kekeliruannya”, memang sih diperbaiki di item itu. Namun kemudian kesalahan yang sama berulang lagi. Hayo, mas wiwin. Bagaimana ? ike piye. ?

Padahal, mas wiwin tau khan ? Pelajaran Bahasa Indonesia, dari SD Kelas 1 hingga perguruan tinggi tetap diajarkan. Baik pelajaran “menyimak”, berbicara”, menulis, mendengarkan dll. Pokoknya pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling sering diajarkan dari “ayunan” hingga ke “liang lahat”. Nah, hayo.

Coba mas Wiwin membayangkan, saya yang seharusnya cukup membaca substansi saja, mesti menjadi editor. Mesti “mengurut” satu persatu.

Bukan melihat alur. Tapi termasuk juga memperhatikan kaidah Bahasa Indonesia. Melihat letak huruf capital. Melihat tanda baca. Memperhatikan detail  imbuhan.
Hayo. Bisa bayangkan khan ?

Energi yang cukup memperhatikan “detail”, eh, harus pula memperhatikan detailnya.

Tapi pernah, mas wiwin memperhatikan tulisan. Hampir setengah halaman tanpa tanda baca ?

Pernah ?. Kalo belum pernah, bersyukurlah. Cukup saya saja yang mengalaminya.

Cuma saya cuma memberi kabar. Membaca setengah halaman tanpa tanda baca itu menyesakkan dada.

Sama sesak dadanya ketika memuji junjungan setinggi langit, eh, ternyata tidak bisa apa-apa.
Yang katanya mendapatkan “wangsit” dari langit, tapi “bersyukur” kepada Sang penguasa saja tidak pernah.

Ya, Paling-paling bisa joget. Persis Via Vallen ketika ditawarkan menjadi penyanyi di pembukaan Asian Games.
Yang kemudian membuat musisi yang mengaku “terkenal” malah uring-uringan.
Persis emak-emak menjerit melihat harga cabe melambung tinggi.  

Lama-lama saya akhirnya sadar. Ekspetasi saya terlalu berlebihan. Tidak mungkin meminta orang akan paham mengenai imbuhan, tanda baca, penggunaan huruf capital apabila tidak sering-sering dipraktekkan.

Pernah dalam suatu kesempatan di acara milenial, saya mengajukan pertanyaan.

“Siapa yang punya FB ?. Hampirnya satu ruangan mengangkat tangan. Termasuk panitia.

“Siapa yang punya IG ?. Lagi-lagi hampir satu ruangan mengangkat tangan. Panita sepertinya malu. Malu dengan peserta yang memang rata-rata generasi milenial.  

“Siapa yang punya twitter ?. Mulai berkurang yang mengangkat.

“Siapa yang punya website atau blog ?. Eh, tidak sampai 5 orang  yang mengangkat tangan.

Salah satu dari 5 orang kemudian pertanyaan saya susul. “Kapan terakhir diisi website atau blognya ?.
“Satu bulan yang lalu, pak”.

Pertanyaan kembali saya lanjutkan.

“Kapan terakhir membaca buku ?”. Hampir semuanya saling berpandangan.

Tidak berhenti. Lagi-lagi saya bertanya.  

“Kapan terakhir beli buku ?. Suasana hening.

Hanya satu yang menjawab. “Saya, pak”.

“Kapan ?.
“3 bulan yang lalu “.

Saya tersenyum. Ya. Kita kekurangan orang yang mau membaca. Apalagi membeli buku.

Jadi jangan dibayangkan mengenai menulis.
Jauh, mas.

Kayak “perdebatan” mengenai bentuk bumi. Tidak perlu dibahas lagi.

Semua jawaban dari audiensi tadi semoga dapat membantu mas wiwin untuk mengurangi kekesalannya.

Sarolangun, 10 Februari 2019