01 Juni 2019

opini musri nauli : Indonesia semakin Misuwur



Akhir-akhir ini, Indonesia menjadi perhatian dunia. Mulai 1 Mei 2019, Indonesia resmi menjabat Ketua Dewan Keamanan (DK) PBB. Kepemimpinan Indonesia di Dewan Keamanan PBB sendiri akan mengambil tema 'Investing in Peace Including Safety and Performance of UN Peace Keeping'.

Pertengahan Mei 2019, Forbes sudah menjuluki  "Indonesia: The New Tiger Of Southeast Asia", Elad Natanson, Forbes, 14 Mei 2019. Indonesia telah mendorong perkembangan ekonomi digital di Asia Tenggara.

Perhatian dunia tertuju ke Indonesia setelah sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati (SMI), Menteri Keuangan Indonesia dinobatkan menjadi Menteri terbaik didunia. SMI berhasil meraih predikat yang diadakan pada World Government Summit 2018. Prestasi yang diulangi pada tahun sebelumnya.

Padahal pertengah tahun 2018, Indonesia baru saya menyelenggarakan event Olahraga, Asian Games 2018. Cara “opening art” dengan memadukan “kedatangan” Jokowi dengan menaikkan kendaraan sepeda motor lengkap dengan “jumplitan” mirip Tom Cruise kemudian menampilkan tarian kolosal dari Indonesia.

Dunia berkecak kagum setelah “opening art” lebih heboh dari pembukaan Olimpiade di Inggeris maupun di Jepang.

Tiga kesuksesan dan melambungkan nama harum Indonesia kekancah dunia mengingatkan kisah Ramalan Jayabaya.

Menurut Agus Wahyudi, “Zaman Kalasurasa”, Ramalan Jayabaya dapat ditemukan didalam Kitab Musasar. Dituliskan oleh Cucu Sunan Giri yang bernama Sunan Giri Parapen tahun 1613 m. Sunan Giri Parapen adalah Putra dari Susuhunan Ratu Giri, Kerajaan ujung Timur kesultanan Giri (Depdikbud, 1996).

Kitab turunan Musasar kemudian dituliskan pujangga Keraton Surakarta tahun 1749 m.

Musasar berasal dari istilah Arab “Musarrar” yang diartikan “sangat dirahasiakan”. Kitab Musasar berisikan tentang hal-hal yang rahasia.

Kitab Musasar dijelaskan lebih detail didalam “Serat Centhini”. Ada 3 zaman. Setiap Zaman berisi 700 tahun. Jadi Berisikan 2.100 tahun.

Didalam alam kosmpolitan masyarakat Jawa, Ramalan Jayabaya disebutkan adanya tiga zaman. Yaitu zaman Kaliswara, Zaman Kaliyoga dan Zaman Kalasangara. Masing-masing tiap zaman terdiri dari tujuh zaman. Zaman Kaliswara terdiri dari zaman Kalakukila, Zaman Kalabuddha, Zaman Kalabrawa, Zaman Kalatirta, Zaman Kaladwabara, Zaman Kalaswabawa dan Zaman Kalapurwa.

Zaman Kaliyoga terdiri zaman Kalabrata, zaman Kaladupura, Zaman Kaladwapara, Zaman Kalaprananika, Zaman Kalateteka, Zaman Kalawisesa dan Zaman Kalawisaya.

Sedangkan Zaman Kalasangara terdiri Zaman Kalajangga, Zaman Kalasekti, Zaman Kalajaya, Zaman Kalabendu, Zaman Kalasuba, Zaman Kalasumbaga dan Zaman Kalasurasa.

Di Zaman Kalabendu dimulai setelah berakhir Zaman Kalajaya. Ditandai dengan perpecahan kerajaan Mataram. Menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran. Sekitar tahun 1757 m. Bendu diartikan sebagai “bencana”. Kemudian merasakan “derita panjang” penjajahan Belanda. Zaman Kalabendu kemudian berakhir 1800-an.

Di Zaman Kalabendu, Ronggowarsito yang kemudian melahirkan karya sastra “Serat Kalatidha” menyebutkan adanya “Satriya Piningit”. Yaitu “Satriya Kinunjara Murwa Kuncara, Satriya Mukti Wibawa Kesandhung Kesampar, Satriya Jinumput Sumela Atur, Satriya Lelana Tapa Ngrame, Satriya Piningit Hamong Tuwuh, Satriya Boyong Pambukaning Gapura, dan Satriya Pinandhita Sinisihan Wahyu.

Zaman Kalabendu kemudian digantikan Zaman Kalasuba. Kalasuba adalah zaman “suka”. Zaman ini kemudian ditandai dengan berakhirnya derita Rakyat Jawa setelah dicabutnya “tanaman paksa”. Sehingga dikenal Zaman pencerahan yang ditandai dengan ilmu pengetahuan yang terbuka (Tunjung Putih) seperti irigasi, ilmu pengetahuan dan imigrasi.

Selain itu lahirnya berbagai pergerakan. Budi Utomo, Kemerdekaan dan menjulangnya Indonesia dikancah dunia. Ditandai dengan dikenalnya Soekarno menjadi spectrum dari negara-negara meraih kemerdekaan.

Zaman Kalasumbaga adalah zaman “misuwur”. Zaman “terkenal”. Zaman ini adalah zaman setelah mengalami kegelapan setelah zaman Kalabendu. Kegelapan yang dimaksudkan adalah “periode” orde baru yang menimbulkan “Raja Peranggi yang sangat kejam dan berdiam ditanah Jawa”. “Raja Peranggi” adalah zaman krisis multidimensi. Yang menimbulkan persoalan ekonomi, kemiskinan dan persoalan rakyat dimana-mana.

“Raja Peranggi berhasil diusir oleh Ki Patih – bala prajurit dikalahkan”. Zaman ini kemudian ditandai dengan “zaman Sriyana”. Zaman ini ditandai dengan pembangunan besar-besaran. Tempat yang semula kumuh menjadi bersih.

Sehingga ketika Indonesia mulai dibicarakan dunia maka setelah melewati Zaman Kalabendu, nama Indonesia semakin “misuwur”. Semakin terkenal. Zaman yang kemudian juga melewati Zaman Sriyana.

Sehingga Ronggowarsito menyebutkan sebagai pemimpin yang disebut “Satriya Pinandhita Sinisihan Wahyu. Resi Begawan (Pinandhita) adalah pemimpin yang tidak lepas dari petunjuk Tuhan (Sinisihan Wahyu).