30 Juli 2019

opini musri nauli : Diplomasi Kopi





Akhir-akhir ini, tema kopi mendominasi pembicaraan public. Entah menikmati khas kopi daerah tertentu maupun cita rasa, menikmati sebagai bagian pergaulan dari melepaskan penatnya menjalani rutinitas pekerjaan, sebagai gaya hidup maupun sebagai bagian dari rutinitas agenda perjalanan menikmati kota ditengah malam.

Dalam hubungan dan jaringan, istilah “mengopi” atau “kongkow-kongkow”, kadang agenda menikmati kopi tidak menjadi agenda utama. Berbagai tempat justru tidak mempromosikan ciri khas kopi tertentu. Agenda pembicaraan juga dibaluti dengan berbagai pekerjaan yang menghendaki “temu” atau “kopi darat”.
Sebagai “ajakan” ngopi, kopi merupakan salah satu bentuk ajakan yang netral, mudah diterima dan bentuk persahabatan yang tulus. Tanpa dipretensi apapun, ngopi merupakan salah satu bentuk diterimanya tawaran “kopi darat”.

Kopi merupakan salah satu diplomasi yang diterima diberbagai tempat. Baik dari Aceh maupun hingga ke Papua. Bahkan disudut kota manapun, warung kopi, café, coffeshop menjamur. Berjejeran hingga menjelang subuh. Sebagai bagian dari kehidupan malam penduduk.

Kopi kemudian ditanam. Baik dari Aceh hingga Papua. Bagian dari kehidupan masyarakat di nusantara.

Ditengah masyarakat Melayu Jambi, menikmati kopi merupakan bagian dari kehormatan tuan rumah. Lihatlah. Ketika tamu datang (walaupun malam), sang istri ataupun sang putri segera bergegas ke dapur. Menghidupkan kompor dan memanaskan air. Istilah di Jambi dikenal sebagai “menjerang air”.

Kopi tidak mempunyai cita rasa yang khas tanpa harus air yang mendidih. Kopi tidak nikmat apabila hanya menggunakan air panas (baik dari dispenser maupun dari termos).

Ritual “menjelang air” hingga diseduh memakan waktu yang cukup lama. Paling cepat 15-20 menit. Namun ketika kopi panas dihidangkan, kita tidak dapat meneguknya seketika. Memerlukan waktu 20-25 menit untuk menghabiskan kopi. Sehingga proses dari “menjerang air” hingga menghabiskan kopi memerlukan sedikitnya 1 jam. Proses yang cukup untuk menikmati obrolan.

Begitu panjangnya proses “menjerang air” hingga menghabiskan kopi adalah waktu yang cukup sebagai ajang silahturahmi, bercengkrama bahkan bersenda gurau. Bagian dari proses pembicaraan dan ajang berkunjung.

Tidak salah kemudian Kopi adalah satu ritual diplomasi dalam hubungan social. Kopi adalah peradaban ditengah masyarakat yang mempunyai kekerabatan yang kuat. Relasi social yang tetap dijaga dan dirawat hingga kini. Sebagai bangsa yang beradab yang tetap menjaga hubungan silahturahmi.

Namun ritual ini tidak mungkin kita nikmati disuasana café.

Lihatlah. Bagaimana para pengunjung yang kemudian datang menikmati kopi malah tersita dengan keasyikan masing-masing. Baik dengan keasyikan menikmati gadget maupun dengan urusan masing-masingnya. Ritual yang sungguh aneh ditengah kota. Kehilangan nurani sebagai diplomasi kopi.

Menikmati kopi kemudian menjadi “urusan” mencicipi kopi. Menikmati kopi kemudian kehilangan esensi hubungan silahturahmi dan relasi social. Menikmati kopi cuma urusan “cita rasa”. Sebuah esensi yang jauh dari diplomasi kopi.

Lalu mengapa datang ke café atau coffeshop apabila penghuninya masih sibuk dengan urusan gadget ?

Mengapa kita tidak mau sejenak meletakkan gadget dan kemudian membangun relasi social dengan bertemu sembari menikmati kopi.

Bukankah agenda “ngopi” adalah agenda sosialisasi dan menikmati kehidupan malam sembari bertemu teman-teman sekolah atau teman-teman diluar teman sekantor.

Sembari menggeleng kepala, aku perhatikan disekelilingku. Mereka sudah jauh dari diplomasi kopi. Ngopi kehilangan ritualnya. Ngopi cuma urusan menikmati kopi.


Advokat. Tinggal di Jambi