16 September 2019

opini musri nauli : Sang Kuda Troya




Ketika diumumkan nama-nama Capim KPK 2015-2019 yaitu Agus Rahadjo, Basaria Panjaitan, Alexander Marwata, Saut Situmorang dan Laode Syarif (bang Laode), sebagian kalangan sedikit mencibir. Masih ingat kata-kata menyakitkan. “Kuda Troya’. Sayapun sendiri tidak mengerti apa maksud dari kata-kata “kuda troya’.

Relatif sejak tahun 2016, praktis informasi berkaitan KPK cuma membaca di media massa. Itupun sepenggal-sepenggal. Tidak utuh.
Entah apa maksudnya “kuda troya”. Namun tuduhan “kuda troya” membuktikan sang penuduh mencibir terhadap terpilihnya 5 orang komisioner KPK.

Dari nama-nama yang terpilih, secara pribadi saya hanya mengenal Laode Syarif (bang Laode). Itupun didalam mempersiapkan beliau menjadi Saksi ahli dalam kasus kebakaran tahun 2013.

Ketika itu Walhi Jambi dan Walhi Riau sedang serius mempersiapkan legal standing menggugat kebakaran. Eknas Walhi kemudian memfasilitasi. Termasuk menghadirkan Bang Laode yang menguasai tema ini.

Bang Laode kemudian memberikan pertimbangan hukum dan kemudian digunakan didalam persidangan. Setelah itu, praktis sama sekali tidak lagi berhubungan.

Ketika bang Laode kemudian mendaftar dan mengikuti Capim KPK, saya kemudian praktis hanya mengetahui dimedia massa. Kesibukan dan pekerjaan sehari-hari membuat saya hanya memantau dari kejauhan.

Alhamdulilah. Kemudian bang Laode terpilih.

Selain itu saya sama sekali tidak mengenal. Apalagi kiprahnya diajang issu good government. Jauh sekali.  

Namun masih ingat ketika itu, ditengah cibiran sebagian kalangan, saya yang hanya mengenal Bang Laode berkeyakinan. Capim terpilih mampu mengemban tugasnya dengan baik.

Saya masih ingat betul. Keesokan harinya, dengan tegas saya katakan. Sistem dan organisasi di KPK relatif baik. Sehingga “issu miring” terhadap capim KPK terpilih pasti menjalankan tugas dengan baik.

Saya kemudian merasa sendirian. Menjadi pembela “sang kuda troya’ yang dihebohkan berbagai issu miring.

Bukankah masih ingat ketika sebagian kalangan kurang yakin dengan Agus Rahardjo yang disebut-sebut dalam kasus E-KTP, Basaria Panjaitan yang berlatar kepolisian, Saut Situmorang yang berasal dari intelijen yang sempat kemudian tersandung dalam “plesetan” dan sempat menyerempet HMI.

Ditengah issu cibiran “Kuda troya”, pelan tapi pasti. Berbagai prestasi KPK mulai menunjukkan kelasnya.

Prestasi paling monumental adalah ketika KPK berhasil OTT di Jambi. Memangkas satu rezim yang berkuasa lebih satu dasawarsa. Sayapun kemudian mulai bertepuk tangan. Memberikan angkat jempol yang tinggi kepada KPK.

Cibiran “Kuda Troya” mulai menunjukkan kelasnya. KPK jauh dari hiruk pikuk politik. Apresiasi tinggi saya haturkan kepada Bang Laode.

Tidak sia-sia kemudian  saya menjadi “pembela” dari cibiran Kuda Troya.

Namun ketika apresiasi tinggi kepada Bang Laode, entah mengapa saya menyaksikan peristiwa yang belum saya mengerti.

Saya tidak mau ikut “cawe-cawe” tentang Capim KPK dan RUU KPK. Pihak yang setuju dan menolak kemudian ramai di lapak FB saya.

Saya menghormati. Baik yang setuju maupun yang menolaknya.

Sah. Di alam demokrasi.

Nun jauh keramaian. Saya menyaksikan dari televisi. Bang Laode kemudian berada dalam barisan. “Menyerahkan mandat”.

Saya tidak mengerti “persoalan” dan pergumulan batin yang terjadi dengan Bang Laode ?. Mengapa tidak bisa mengambil keputusan yang elegan.

Apakah bang Laode begitu emosional dengan Capim KPK terpilih dan RUU KPK. Bukankah sikap ini sudah disampaikan? Bukankah lebih terhormat untuk menyelesaikan mandatnya ?.

Mengapa Bang Laode kemudian “menyerahkan mandat” sebagai komisioner KPK ?

Mengapa Bang Laode tidak menyelesaikan tugasnya hingga akhir jabatan. Mengikuti jejak Basaria Panjaitan dan Alexander Marwata ?

Mungkin “maqom” saya tidak mampu memahaminya.

Ah. Atau mungkin apresiasi dan respek saya terlalu besar terhadap Sang Kuda Troya. 

Dimuat di www.jamberita.com, 16 September 2019.. 

https://jamberita.com/read/2019/09/16/5953058/sang-kuda-troya

Sekali lagi saya mohon maaf. Pembela Kuda Troya ternyata dikecewakan.