Yang
saya kagumi dari tempat-tempat melancong adalah kreasi dan daya cipta untuk
menjadi tempat yang dikunjungi.
Terlepas
dari “proposal” dari sang Bungsu, tempat-tempat yang dikunjungi adalah “buah” dari “konsep” yang dari alam pemikiran, perenungan, desain konsep yang
kemudian diwujudkan dalam sebuah karya seni. Karya yang mengagumkan.
Yang
paling dikagumi, justru dari bahan-bahan yang ada disekitarnya, bahan yang
luput dari pemantauan, bahan yang mudah didapatkan, murah namun menghasilkan
karya seni yang begitu memukau.
Teringat
dari cerita sang sahabat. Hanya bangsa yang maju yang bisa menghasilkan
karya-karya seni yang bermutu. Karya yang memukau. Karya yang kemudian
menyentak dan menyadarkan kita. Ternyata manusia adalah makhluk yang diberi “Seni keindahan” dari sang pencipta
Bangsa
yang besar justru yang tidak “silau”
dengan identitas semata. Bangsa yang sudah selesai “urusan perut”. Bangsa yang tidak lagi memikirkan dirinya sendiri.
Persia,
Mesir, Tiongkok, India dan Indonesia adalah “daya Tarik” dari bangsa-bangsa dunia untuk mengagumi keindahan
karya-karya seninya.
Namun
hanya di Indonesialah, semua peradaban dunia lengkap dihadirkan. Meminjam
istilah teman saya arkeologi muda yang “sambleng”,
nekat, gila kemudian memantapkan saya.
Jambi adalah “ornament” pusat
peradaban dunia. Dari zaman megalitikum yang ditandai di Kerinci, Serampas,
Sungai Tenang dan Dusun Tuo hingga pusat peradaban Islam.
“Saya kemudian memilih Jambi untuk “dahaga
intelektual” saya”, katanya sembari menghirup kopi disudut depan kampus
UNJA Mendalo.
Oya,
selain mengunjungi tempat-tempat yang disebutkan didalam “proposal” si Bungsu, “bonus”
yang saya terima adalah kegembiraan si bungsu.
“Baru kali ini Dedek senang”, yah”,
katanya sembari mengirimkan photo.