31 Maret 2020

opini musri nauli : Melawan Corona (2)




Memasuki paruh pertama masa inkubasi (14 hari), angka-angka Corona yang menyandang infeksi Covid 19 mencapai 1.285 kasus. 64 sembuh dan 114 dinyatakan meninggal. Setelah sebelumnya pada 2 Maret baru dua orang. Kemudian naik 13 orang (9 Maret), 27 orang (10 Maret), 34 orang (11 Maret), 96 orang (14 Maret), 117 orang (15 Maret), 134 orang (16 Maret), 172 orang (17 Maret), 227 orang (18 Maret), 309 orang (19 Maret), 369 orang (20 Maret), 450 orang (21 Maret), 514 orang (22 Maret), 579 orang (23 Maret). 

Angka semakin naik 686 orang (24 Maret), 790 orang (25 Maret), 893 orang (26 Maret) hingga mencapai 1.414 orang (30 Maret) 

Melihat angka-angka diatas maka dapat dibaca dua sisi. Sisi pertama setelah melewati paruh pertama masa inkubasi (14 hari), maka trend angka terus menaik. Angka-angka ini terus bertambah dengan penyebaran, mobilitas masyarakat dari daerah terpapar hingga belum keluarnya angka-angka dari penyebaran. 

Dari kisaran masa inkubasi 14 hari, anggaplah dimulai dari tanggal 2 Maret hanya dua orang, maka maka masa inkubasi pada tanggal 16 Maret mencapai 134 orang, maka angka-angka ini sungguh mengerikan. Artinya, dari masa inkubasi pertama, angka 2 orang kemudian mencapai 96 orang maka lonjakannya sungguh mengerikan. 

Namun disisi lain, penyebaran sejak tanggal 2 Maret, maka virus corona kemudian telah menyebar dari satu daerah hingga 31 Provinsi. Sehingga “masa inkubasi” dari paruh pertama telah dilewati. Namun yang harus dilihat adalah “penyebarannya”. Sehingga bisa diketahui dari masa inkubasi kedua. 

Simulasi terhadap penyebaran dapat diketahui. Anggaplah “penyebaran” selama 14 hari sudah menyebar di 31 Provinsi maka “masa inkubasi” tahap kedua dapat diketahui. 

Mengandaikan, simulasi terhadap “penyebaran” 1.414 orang di 31 Provinsi maka masa inkubasi menjadi penting untuk mengontrol penyebaran lebih jauh. 

Dengan simulasi yang lain, maka penyebaran masa inkubasi dari 2 orang menjadi 134 orang harus dihitung dengan hati-hati. 

Kenaikan signifikan 2 menjadi 134 akan menciptakan angka ledakan hingga 6700%. 

Apabila angka terakhir menunjukkan 1.414 dengan ledakan 6700% maka masa inkubasi paruh kedua menjadi 94.738 orang. Atau hampir 95 ribu orang yang terpapar corona. 

Angka mengerikan apabila kita melihat pandemik corona menyerang Indonesia. 

Namun dengan kenaikan bertahap (lihatlah 2-13-27-34-96-117-134-172-227-309-396) maka angka semakin mengerikan (450-514-579-668-790-893) adalah angka-angka yang tidak boleh diremehkan. 

Angka 95 ribu justru akan bisa mencapai hingga 2,5 juta (tidak ada upaya intervensi), 2 juta orang (apabila kurang serius intervensi) atau bisa mencapai 500 ribu (dengan upaya maksimal) (data berbagai sumber). 

Semoga angka simulasi yang dilakukan oleh ITB mencapai 600 kasus/hari tidak akan terjadi.

Angka-angka simulasi ini tidak melihat faktor “tingkat akurasi” dari pengecekan dari orang yang tarpapar, tidak meratanya “rapid test’, atau faktor-faktor yang lain yang mempengaruhi. 

Atau faktor lain seperti yang meninggal maupun yang sembuh. 

Namun kisaran angka 94 ribu atau bisa mencapai 500 ribu - 2,5 juta orang yang terpapar adalah angka yang mengerikan untuk ditanggulangi upaya penyembuhan dari corona.

Berharap kepada Pemerintah untuk berkonsentrasi diangka 94 ribu, 500 ribu ataupun 2,5 juta orang yang terpapar corona adalah sebuah keniscayaan. 

Lebih baik kita berkonsentrasi untuk menanggulangi mandiri. Dengan demikian maka “masa inkubasi” tahap kedua mutlak menjadi “kunci” untuk menangkal penyebaran lebih jauh lagi. 

Sembari memperkuat daya tahan tubuh (imun), kembali kita melakukan disiplin ketat untuk melawan Corona. Sehingga daya tahan tubuh (Imun) yang diwariskan dari pengetahuan dari kebudayaan adiluhung dapat menjawab kekhawatiran kita. 

Pencarian terkait : Opini Musri Nauli, Musri Nauli, jambi dalam hukum, Hukum adat jambi, jambi, sejarah Hukum adat jambi, politik jambi,


Opini Musri Nauli dapat dilihat www.musri-nauli.blogspot.com