30 September 2020

opini musri nauli : Catatan kecil opini di media massa

 


Akhir-akhir ini tidak dapat dipungkiri, gegap gempita politik saling bersilewaran didunia maya. Berbagai pemikiran terus lahir untuk melihat berbagai peristiwa politik dari berbagai sudut. 


Sebagai Pendidikan politik kepada rakyat, opini merupakan ranah yang mewarnai dinamika pemikiran. Opini diharapkan dapat menggambarkan para penulis opini untuk menyampaikan gagasan. 


Namun kegelisahan penulis melihat fenomena ini harus dilihat dan ditempatkan sebagaiman mestinya. Sehingga public mendapatkan kesempatan utuh melihat berbagai peristiwa lebih jernih. 


Berbagai catatan kecil akan membantu untuk melihat persoalan ini lebih obyektif. 

Pertama. Sebagai opini yang bertujuan membangun pemikiran maka penulis opini harus mengutamakan “opini popular”. Tanpa harus mengenyampingkan “tata kaidah penulisan”, pengutipan, penggunaan tanda baca atau berbagai kaidah penulisan, yang menjadi mainstream didalam opini diberbagai media massa harus berangkat dari “ide-ide pokok”, popular, mudah dibaca dan dipahami public, harus diutamakan adalah “ide orisinil”. 


Tentu saja tidak mengabaikan tata kaidah penulisan dan pengutipan sumber-sumber atau catatan kaki, ide orisinil harus menjangkau berbagai lapisan masyakarakat. Termasuk juga berbagai latar belakang Pendidikan dan pekerjaan. 


Tulisan yang baik mampu menjelaskan persoalan yang rumit menjadi sederhana, mudah dimengerti. Tentu saja akan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca. 


Tidak dapat dipungkiri, berbagai opini justru “memindahkan” karya yang dimuat di jurnal ilmiah kedalam kolom opini di berbagai media massa. 


Selain akan mengganggu pembaca dengan rigit tulisan yang rumit justru menyebabkan “daya tangkap’ pembaca menjadi berbeda dengan yang dimaksudkan oleh penulis. 


Kedua. Opini yang baik bertujuan untuk menempatkan pembaca sebagai “orang yang kritis” untuk menilai suatu peristiwa. Opini tidak boleh menghakimi. Opini yang baik tentu saja memberikan kebebasan pembaca untuk mengembangkan “daya khayalnya” dan “daya kreasi” melihat suatu peristiwa. 


Namun akhir-akhir ini, “tuduhan” bahkan kalimat yang digunakan “cenderung” justru menimbulkan multi tafsir dari pembaca. 


Alangkah eloknya, pesan didalam opini mudah ditangkap oleh pembaca sehingga tidak menjadi bias untuk memahami maksud dari penulis opini. 


Ketiga. Medium opini adalah “ajang ekspresi” dari penulis opini. 


Namun yang sungguh menggelikan ketika ada opini yang dimuat, justru menimbulkan kehebohan dari sang penulis opini. 


Entah tanpa disadari atau tidak, sang penulis opini malah mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan maksud dari opini. 


Cara ini sungguh lucu dan menggelikan. Selain “medium yang digunakan di kolom opini malah menjadikan “konferensi pers” menjadi ajang “klarifikasi”. 


Keempat. Begitu juga sebaliknya. Ada tulisan opini yang dimuat di media massa namun yang “merasa” kebakaran jenggot justru mengadakan “konferensi pers”. 


Lagi-lagi cara ini sungguh lucu. Masa opini yang dimuat di kolom media massa, justru tanggapan terhadap opini kemudian mengadakan konferensi pers. 


Dan sungguh tidak “equal” antara Opini yang kemudian dibantah melalui konferensi pers. 


Alangkah bijaksana apabila “opini” dibalas “opini”. Data dibalas data. Argumentasi dibalas argumentasi. 


Sehingga tidak tepat “opini” kemudian dijelaskan melalui “konferensi pers”.  Atau “opini” kemudian dibantah melalui “konferensi pers”. 


Lagi-lagi tidak “equal”. Sama juga seperti memperbandingkan (equal) apel dengan mangga. Atau mangga dengan ketimun. 


Sebagai wacana yang dapat mewarnai dan mempengaruhi publik, alangkah eloknya kemudian linimassa dipengaruhi pemikiran. Baik dalam tataran konsep maupun dalam pandangan praksisi. 


Sudah saatnya dunia maya diisi dengan pemikiran yang segar, membumi dan terus berdialektika. 


Generasi muda akan melihat. Bagaimana dunia maya diwarnai dengan “pertarungan” pemikiran yang memperkaya pembaca dari berbagai pendekatan. Termasuk juga mengambil pilihan (standing) didalam melihat hingar binger politik di Indonesia. 


Baca : UU Pers



Pencarian terkait : Musri nauli, opini musri nauli, jambi dalam hukum, hukum adat jambi, jambi, 


Opini Musri Nauli dapat dilihat : www.musri-nauli.blogspot.com