15 Juli 2022

opini musri nauli : Awak harap Meraup

 

Dalam sebuah dialog, terdengar sebuah seloko yang menggambarkan sebuah peristiwa. 


“Awak nak harap meraup.  Sejumputpun Idak dak dapat. 


Secara sekilas, istilah didalam seloko agak rumit untuk diterjemahkan. Baik maksud dari sang penutur maupun makna harfiahnya. 


Kata “Awak” dapat diartikan sebagai “saya’. Dalam dialog sehari-hari menunjukkan “saya” atau “aku’. 


Persis dengan “ambo”, “Kowe”, “beta”. Di beberapa tempat kata “Awak” juga dapat disamakan artinya dengan “ngan”. 



Berbeda dengan kata “Awak”, kata yang lebih sopan digunakan adalah kata “sayo”. Berasal dari kata saya dalam dialek Jambi. 


Kata “sayo” menunjukkan rasa hormat sang lawan bicara. Baik menunjukkan rasa hormat, berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati. Maupun didalam pembicaraan yang formal. 

Kata “sayo” lebih tepat disejajarkan dengan “kulo” didalam tradisi bertutur bahasa Jawa. 


Di beberapa tempat kata “Awak” juga dapat disamakan artinya dengan “ngan”. 


Jadi tidak sembarangan menggunakan kata Awak. Kata Awak lebih digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Atau menunjukkan keakraban sang lawan bicara. 


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata “Awak” dapat diartikan dengan saya. Sehingga kata “Awak” lebih tepat dikatakan dengan kata saya. 


Nah. Apabila kata “Awak” menunjukkan kata saya, maka kata “Awak” juga dapat diartikan sebagai “engkau” atau kamu”. 


Di beberapa tempat di Jambi, memang kata “Awak’ juga ditujukan dengan kepada lawan bicara. Namun biasa hanya dibenarkan untuk lawan bicara yang menunjukkan keakraban. 


Tidak dibenarkan untuk kepada lawan bicara yang lebih tua atau orang yang dihormati. 


Apabila kata “Awak” menunjukkan kepada diri sendiri (saya), maka sang lawan bicara lebih tepat dipanggil “kau”. Kata Dasar dari kata “engkau’. 


Sedangkan padanan kata bicara yang dihormati yang lebih tepat “kamu” dengan padanan kata “sayo’. 


Kata “kamu” justru menunjukkan derajat lebih tinggi. Bukan kata yang tidak sopan. 


Kata Awak juga diartikan sebagai “Awak pesawat”. Orang yang menjadi Anak buah pesawat terbang. 


Kembali ke seloko. Kata “meraup” dapat diartikan “memperoleh sebanyak-banyak”. Namun kata meraup dapat diartikan sebagai rakus. 


Cara “meraup” dilakukan dengan menciduk dengan kedua belah tangan. Mengumpulkan dengan tanah. 


Kata “jumput” adalah mengambil dengan tanah. Jadi hanya sedikit yang yang bisa diambil. 


Sehingga seloko “Awak nak harap meraup.  Sejumputpun Idak dak dapat” dapat diartikan sebagai “keinginan untuk meraih hasil besar. Namun sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.  


Seloko ini sepadan dengan pepatah lama. “Mengharapkan punai di udara. Telur di tanganpun dilepaskan. 


Jadi. janganlah berharap (mimpi yang terlalu besar). Namun yang ada saja (rejeki kecil) malah disia-siakan. 


Advokat. Tinggal di Jambi