27 Desember 2013

opini musri nauli : KISAH PESAWAT NEGERIKU


Setiap menaiki pesawat Maskapai Lion, selain teringat akan “seringnya” si Raja Delay, saya selalu teringat akan cerita sukses Lion yang membeli pesawat baru.

Dengan gagah berani dan selalu dipromosikan di berbagai bandara, LION selalu memamerkan pesawat seri terbaru.


Kita masih ingat ketika Maskapai penerbangan Lion Air akan membeli 230 unit pesawat Boeing yang terdiri atas 201 unit B-737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900 ERS.
Penjualan sebanyak 230 unit pesawat senilai US$ 2,17 miliar atau sekitar Rp 195,2 triliun ini menjadi penjualan pesawat komersial terbesar yang pernah Boeing alami selama ini, baik dalam nilai dolar dan juga total jumlah pesawat. Boeing dan Lion telah memfinalisasi detail perjanjian tersebut. Lion Air juga akan akan membeli 150 pesawat tambahan yang bernilai lebih dari US$ 14 miliar. Dengan begitu, Lion kini memiliki 178 unit Boeing jenis Next Generation 737.

Dengan demikian maka LION melengkapi pesawat yang sudah ada dan kemudian menambahnya dengan cara Pembelian 109 pesawat A320neo, 65 A321neo, & 60 A320ceo itu disaksikan langsung oleh Presiden Prancis Francois Hollande.

Begitu “ambisinya” LION menambah armada dengan seri terbaru membuat LION merajai angkasa nusantara. Ambisi LION ini kemudian menjadikan LION salah satu pelopor pesawat berbudget rendah dan mampu menguasai jumlah penumpang Indonesia.

Lantas apakah dua peristiwa itu akan membuat Indonesia menjadi harum di hubungan internasional.
Sebagian mengatakan iya. Indonesia mampu membeli begitu banyak armada terbaru untuk pesawat komersilnya. Namun sebagian kalangan justru menampakkan muka protes.

Ya. Bukannya kita berbangga bisa membeli berbagai pesawat dengan seri terbaru. Tapi seharusnya malu karena Indonesia “cuma menjadi” negara konsumen. Negara yang cuma bisa menggunakan teknologi yang diciptakan negara lain.

Ya. Itu sudah diperhitungkan Habibie 20 tahun yang lalu. Dengan proyek ambisiusnya, dimulai dari penerbangan pesawat Nurtanio CN 235 dan kemudian disusul pesawat Nurtanio 250, Habibie sudah meyakini Indonesia akan membutuhkan armada pesawat untuk memenuhi kebutuhan penumpang Indonesia sebanyak 7-8 juta penumpang.

Ya. Habibie sudah mempersiapkan dan memperhitungkannya.

Ketika Habibie sudah “memperhitungkannya”, Habibie yang dikenal sebagai ahli aerodinamika dan “teori crash” yang digunakan sebagai sirip pesawat, tidak rela begitu banyak cadangan devisa kita yang terserap di luar negeri. Habibie sudah mempersiapkan sehingga dapat dipergunakan oleh Indonesia sendiri.

Namun ketika resesi tahun 1997 yang menyeret Indonesia kedalam krisisi, resep dari IMF justru “menghapuskan” teknologi high tech. IMF beralasan Indonesia harus berkonsentrasi terhadap berbagai memenuhi pangan dalam negeri dan tidak perlu memikirkan high tech.

Resep ini “seakan-akan” manjur. Dukungan dari publik yang menganggap resep IMF tepat dalam keadaan krisis ternyata “ketahuan” belangnya kemudian.
IMF yang dimotori oleh Amerika dan Eropa “ternyata” melindungi investasi high tech. Amerika dan Eropa melindungi pasar pesawat terbanggnya.

Maka dengan “berkedok” IMF, Amerika dan Eropa justru “memaksa” Indonesia menggunakan produk mereka. Indonesia kemudian “membeli” pesawat buatan Boeing dan Airbus. Dan nilai-nilai tidak tanggung. Ratusan trilyun yang dikeluarkan Indonesia.

Sekali lagi terbukti. Modus IMF ternyata “hanya berkepentingan” melindungi pasarnya. IMF tidak menjadi dokter yang ampuh memberikan resep kepada Indonesia keluar dari krisis.

Pelajaran yang mahal sekali harganya.