01 Februari 2014

opini musri nauli : LOADING BROWSING MENKOMINFO


Di jaringan maya, issu tentang lambatnya internet menjadi topik yang cukup hangat dibicarakan (trending topic). Namun yang menarik diskusi bukan “lambatnya” internet, tapi jawaban Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring.


Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring mengatakan pemerintah tidak mengurusi soal kecepatan internet. Menteri asal Partai Keadilan Sejahtera ini mengungkapkan bahwa operator lah yang bertanggung jawab soal kecepatan internet. Hasil penelitian tersebut ia pandang sebagai tuduhan, namun ia menerima hasil itu.
Jawaban normatif yang disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) masih diterima. Namun jawaban selanjutnya yang membuat kita miris. Melalui twitternya, Tifakul menjawab “memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?

Berdasarkan hasil penelitian Akamai, kecepatan akses internet di Tanah Air rata-rata adalah 722 kbps. Sementara itu, kecepatan rata-rata di dunia adalah 2,3 mbps. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia kalah jauh dari negara-negara lain seperti Laos yang memiliki kecepatan internet 956 kbps, Kamboja (1,2 mbps), Vietnam (1,5 mbps), Filipina (1mbps), Thailand (3 mbps), dan bahkan Malaysia (1,7 mbps).

Lantas apakah dunia internet “cuma untuk browsing” dan cari berita saja. Kalo itu masih pemikiran Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring, sepertinya pemikiran itu harus diberesin dulu.

Dunia dalam genggaman. Itulah klaim berbagai produk handpohe sekarang ini. Ya. Fungsi handphone tidak berkaitan dengan menghubungi atau cuma short message service (sms) saja. Dengan handphone, berbagai kebutuhan kantor cukup dalam genggaman. Mengirim email, mengirim dokumen berupa lampiran (attacment), mengirimkan kabar melalui youtube, download film holywood, percakapan dengan skype bahkan kita bisa menonton televisi melalui streaming.

Semuanya memerlukan akses internet yang tinggi.

Lantas bagaimana dengna akses internet yang sekarang ini.

Susah menjawabnya. Dengan menggunakan handphone yang paling canggih sekalipun seperti apple maupun samsung, namun dengan kecepatan internet yang cuma berkisar 75 kbps, maka mengirimkan email dengna lampiran (attacment) hanya 1 megabyte saja memerlukan waktu lebih kurang 15 menit. Bagaimana mengirimkan bahan presentasi menggunakan power point yang paling sedikit 4-5 megabyte ?

Atau kita mengirimkan video dari lokasi ke youtube. Misalnya rekaman kita sebanyak 5-6 megabyte, maka diperlukan waktu 5-6 menit.

Bayangkan waktu yang terbuang percuma.

Padahal dengan kemampuan internet bisa mencapai seperti Kamboja 1,2 mbps saja, maka mengirimkan dokumen 1 megabyte hanya memerlukan waktu 30 detik – 60 detik. Atau mengirimkan video ke youtube hanya mencapai 60 detik – 80 detik.

Dengan kemampuan 1,2 mbps, maka kita mudah mendownload film holywood terbaru. Dengan kemampuan itu, maka film yang berdurasi 1 jam dengan rata-rata 200 – 300 megabyte cuma memerlukan waktu 15 menit.

Belum lagi digunakan untuk pembicaraan jarak jauh dengan skype. Dengan kemampuan sekarang, maka skype sering terputus-putus. Namun dengan kemampuan 1,2 mbps, pembicaraan menjadi stabil dan kita mudah berkomunikasi dengan baik.

Sebagai teknologi yang netral, teknologi bisa digunakan untuk kejahatan maupun kebaikan. Kita tidak perlu “mengatur” teknologi digunakan untuk apa. Namun apabila masih banyak teknologi digunakan untuk kejahatan, hukum sudah menjangkaunya. Seperti UU ITE.

Namun dengan teknologi bisa “memudahkan pekerjaann” perkantoran.

Dengan tingkat mobilitas yang tinggi, namun “kendali” pekerjaan bisa dilakukan dalam genggaman. Di tangan Handphone, semua pekerjaan perkantoran dapat kita lakukan. Browsing, email, youtube, pembicaraan melalui skype bahkan menonton televisi dengan streaming. Dengan kebutuhan itu, maka dibutuhkan akses internet yang tinggi. Tidak cukup akses internet seperti sekarang yang “cuma” bisa browsing.

Melihat penjelasan yang disampaikan oleh Tifakul Sembiring, memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?. Jawaban itu cukup “memalukan”. Tidak mengetahui perkembangan global.

Sehingga jawaban memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa? Maka dengan penjelasan dari Tifakul Sembiring, maka “loading” Tifakul Sembiring “cuma” untuk browsing saja.

Baca : 

MELAWAN “KETIDAKADILAN” MELALUI DUNIA MAYA