02 Maret 2016

opini musri nauli : Marga Sabak


Didalam peta Belanda, disebutkan Marga Dendang/Marga Sabak.  Marga Dendang terdiri dari dusun-dusun seperti Teluk Dawan, Kuala Dendang, Dendang, Talang Babat dan Teluk Buan. Pusat Margo di Parit Culun. Sedangkan didalam peta disebutkan Pusat Marga di Muara Sabak.

Berbeda dengan didaerah Ulu Batanghari seperti Marga Bathin Pengambang, Marga Batangasai, Marga Sungai Tenang. Kepala Dusun dipimpin seorang Depati atau Rio. Sedangkan di Marga Dendang dipimpin penghulu.

Marga Dendang dipimpin seorang Pesirah. Dimulai dari Husein Zainal, Abdullah Leman, Idris dan Idrus.

Marga Dendang berbatasan dengan Marga Sabak yang didalam tambo disebutkan “Rambai Belubang dan pangkal bulian.

Dendang artinya “perahu”. Dendang ini menjadi lambang Propinsi Tanjung Jabung Timur.

Sedangkan Marga Sabak terdiri dari Dusun-dusun seperti Singkep, Nibung Putih, Rano, Kampung Laut, Teluk Majelis. Pusat Marga di Muara Sabak.

Didalam Peta disebutkan Pusat Marga di Muara Sabak. Namun menurut mantan pegawai Marga, Marga Sabak merupakan penetapan pengembangan dari Marga Dendang.

Sebelum menjadi Marga Sabak, Seluruh wilayah termasuk kedalam Marga Dendang. Sehingga Marga Dendang merupakan kampong tua sebelum menjadi Marga Dendang dan Marga Sabak.

Luas wilayah cukup memanjang sehingga banyak berbatasan dengan beberapa marga.  Marga Dendang/Sabak berbatasan dengan Marga Tungkal Ilir, Awin, Jambi Kecil, Marasebo,  Marga Jebus dan Marga Berbak[1].






[1] Parit Culun, 2 Maret 2016