23 Juli 2018

opini musri nauli : DURIAN (2)



Entah bagaimana perasaan saya ketika melihat posting media cetak yang memperlihatkan hasil razia durian yang hendak dibakar. Darah saya mendidih. Pikiran berkecamuk. Entah apa kalimat yang pantas untuk melihat gambarnya.

Durian adalah symbol kemakmuran. Seloko Jambi dengan jelas mengabarkan “Padi menjadi. Rumput Hijau. Kerbau gepok. Ke aek cemeti keno. Ke darat durian gugu’”. Seloko ini mirip dengan istilah Jawa “Gemah ripah. Loh Jinawi. Negeri tentram kerto raharjo”
Sebagai simbol kemakmuran, Durian adalah tanda “sempurna” ekosistem. Durian, pohon sialang dan harimau adalah habibat sempurna dari ekosistem lingkungan. Tanda ekosistem berfungsi menjalankan rangkaiannya. Ekosistem yang tidak bisa “dikelabui’.

Lihatlah. Bagaimana penghormatan masyarakat dengan durian dan Madu. “Durian dak boleh ditutuh. Petai dak boleh ditebang”, ujar pemangku adat di Jambi.

Sedangkan madu ditandai dengan seloko “sialang pendulangan”. Sialang adalah penamaan pohon yang terdapat lebah (sialang). Sedangkan pendulangan adalah area sekitarnya yang tidak boleh dibuka.  Lebah membutuhkan pohon yang kuat dan supplay makanan yang layak untuk menghasilkan madu.

Sedangkan Harimau selalu ditempatkan sebagai “Rajo”, “Nenek”, “datuk”, “Puyang” yang menjaga hutan. “Inyik” istilah di Sumbbar. Penghormatan terhadapnya kemudian dilekatkan sebagai bentuk menghormati alam.

Melihat penghormatan Durian, sialang dan Harimau maka “tanda” ekosistem sempurna menempatkan durian, sialang dan harimau begitu penting. Sehingga membakar durian, menghancurkan sialang dan membunuh harimau adalah bentuk “kualat” terhadap alam.

Alam akan memberikan tanda. Alam akan memberikan isyarat. Alam akan murka”, kata temanku sambil geram melihat “keangkuhan manusia”. 

Baca : Durian