23 Agustus 2018

opini musri nauli : MENJAGA ARAS NALAR


Menjaga aras nalar agar tetap dapat berfikir wajar ditengah “serbuan” hoax, provokasi hingga penalaran “ngaco’ adalah sebuah “kemewahan’. Entah memang “bertujuan’ untuk provokasi, mengganggu nalar sehat atau ada “hidden agenda’ dizaman sekarang ini.
Nalar merupakan “sebuah perbedaan” manusia dengan makhluk lain. Nalar merupakan “identitas’ dan pembeda masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Merupakan “pembeda” antara satu komunitas dengan kerumuman. Antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Yang membedakan antara masyarakat “barbar’ dengan masyarakat berbudaya.

Entah memang sudah pada titik nadir, nalar kemudian tenggelam dengan hiruk pikuk yang “dikemas” dengan riuh gemuruh, pesona bahkan serbuan “bertubi-tubi” dari “akal pendek”.

Sebagai sebuah “ciptaan” Tuhan Yang Maha Esa, nalar kemudian ditempatkan pada derajat paling tinggi. Islam sendiri menempatkan “belajar” dari ungkapan “Iqra” sebagai bentuk “membaca” untuk memahami agama. Sebuah symbol menggambarkan, bahwa untuk memahami agama “diperlukan” berbagai perangkat pengetahuan untuk menangkap pesan-pesan agama melalui seruannya (Wahyu).  Berbagai perangkat ilmu agama baik dengan memahami Bahasa Arab, sebab turun ayat, makna ayat sehingga dapat memahami ayat dengan baik. Belum lagi ditambah membaca berbagai Kitab-kitab Klasik yang diajarkan para ulama sehingga dapat memahami dengan baik.

Jangankan Agama. Untuk memahami “Sebuah pasal” didalam peraturan perundang-undangan yang jelas mencantumkan Bahasa Indonesia bahkan diperlukan 12 penafsiran. Entah penafsiran gramatikal (letterlijk), sejarah (historical), pendekatan nilai-nilai (filosofi), kenyataan dan problema social (sosiologi) dan berbagai perangkat perundang-undangan. Belum lagi melihat hakekat dari sebuah peraturan perundang-undangan (Kajian yuridis).

Akhir-akhir ini berbagai penalaran yang sering disampaikan “kurang tepat” ternyata menemukan relevansi dengan perkembangan zaman. Penalaran yang disodorkan ternyata “bertentangan” dengan fakta yang kemudian terbukti keliru.

Dalam lapangna ilmu Alam seperti bentuk bumi, masih banyak yang percaya “bumi datar (flat earth)”. Sebuah teori yang 5000 tahun yang lalu sudah dibantah zaman Yunani. Ilmu pengetahuan yang sudah tidak terbantahkan bentuk bumi yang dapat dilihat. Baik menggunakan ilmu pengetahuan modern maupun pengetahuan sederhana.

Bukalah google earth. Disana digambarkan bagaimana letak bumi dan bentuk bumi dengan mengelilinginya.

Di bidang matematika adalah satu bidang yang paling parah. Matematika sebagai ibu ilmu pengetahuan kemudian “diteror” dari sekolah. Matematika adalah pelajaran “paling momok” menakutkan. Matematika menjadi alergi sehingga kemudian enggan dipelajari.

Namun yang lucu. Matematika kemudian dijadikan “mainan” dan membohongi publik. Tentu saja dibumbuhi berbagai retorika dan teriakan histeris.

Tentu kita masih ingat “skandal” paling memalukan ketika lembaga survey ‘abal-abal’ mengabarkan “LSN yang mencatatkan kemenangan Prabowo – Hatta 50,56% vs Jokowi – JK 49,74. Bila dijumlahkan, maka total suaranya mencapai 100,35%.

Sebagian kemudian “berjingkrak-jingkrak’ sembari sujud mencium tanah. Namun angka “100,35 % adalah “kecacatan” paling memalukan dalam skandal.  Publik kemudian “sempat gamang’ dan mulai meragukan hasil penghitungan KPU. Sejarah kemudian mencatat, angka 100,35% paling memalukan dicatat sebagai nalar paling tolol.  

Atau paling teranyar. Ketika Museum Rekor Dunia mencatat jumlah penari poco-poco sebanyak 65 ribu. Area yang digunakan memenuhi ruang di silang Monas sampai ke Thamrin. Areal yang sama pernah “diklaim” mencapai 7 juta orang.

Padahal sudah pasat dimata. Rumusnya gampang. 1 m2 cuma bisa dihadiri 2 orang. Kalaupun harus didesakkan maka 4 m2 termasuk kedalam antrian yang padat.

Sekarang tinggal kita kalikan saja seluruh kawasan Monas. Kawasan Monas (Thamrin, Patung Kuda 78 ribu m2), Bundaran Thamrin, Budi Kemuliaan – Thamrin, Dubes AS (38 ribu m2), Dua arah silang Monas Tenggara (14 ribu m2), Silang Monas Barat laut (19 ribu m2), Medan Merdeka utara (10 ribu m2), Silang monas Timur Laut, Medan Merdeka Timur (12 ribu m2) dan Medan Merdeka Timur  - Gambir (32 ribu m2). Totalnya 200 ribu m2. Jadi kalaupun dikalikan 2 (sesuai dengan rumus 1 m2) maka paling-paling banter 400 ribu orang.

Sehingga tidak mungkin dengan luasnya kawasan Monas dapat menampung 7 juta orang. Atau dengan kata lain, 1 m2 harus menampung 35 orang.

Lagi-lagi nalar kita kemudian “tidak nyambung’. Dibidang agama kemudian kita dikecohkan dengan aksi penipuan paling besar sejagat bumi Indonesia. Dengan modus “umroh murah’, First Travel menipu 63 ribu orang dan meraup Rp 905,33 miliar. Begitu juga Abu Tours yang menipu 86 ribu orang dan meraup 1,8 trilyun.

Dibidang seni, kreatifitas malah sering mengganggu nalar. Aksi “heroic” Jokowi memasuki Gedung Bung Karno menaiki Sepeda motor kemudian “dinyinyirin” oleh kelompok oposisi.

Entah memang “belum sampai nalarnya’ atau memang “kurang jauh mainnya’, berbagai teriakan kemudian meminta “siapa stuntman’. Sebuah kenafikan yang paling memalukan.

Padahal ketika pembukaan Olimpiade di Inggeris tahun 2012, Ed Miliband sebagai pemimpim oposisi tidak pernah “teriak” dan meminta “siapa stuntman” ketika Ratu Elizabeth turun dari helicopter menggunakan parasut terjun payung.

Atau kita tidak pernah “ngamuk” siapa ‘stuntmant’ Nobita atau Doraemon yang kemudian digantikan oleh Dewi Sartika dan Nurhasana.

Bahkan kita sendiri tidak pernah protes dengan robot yang menggantikan didalam Jurassic Park atau Transformers.

Berbagai nalar diberbagai ilmu pengetahuan seperti Ilmu alam, matematika, kesenian membuat bangsa kita kemudian pada titik nadir sudah memalukan. Kita ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain.

Yang paling sulit bukanlah mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Namun menjaga nalar agar tetap waras ditengah gempuran hoax, provokasi dan hasutan yang justru meminggirkan nalar kewarasan kita.

Baca : PSIKOPAT