28 Januari 2019

opini musri nauli : Marga Jambi Kecil



Membicarakan Jambi Kecil tidak dapat dipisahkan dari Candi Muara Jambi. Candi kebesaran Budha pada abad 6. Pusat peradaban Kerajaan Melayu Kuno. Agenda resmi Agama Budha yang dirayakan pada waisak setiap tahunnya.

Marga Jambi kecik berbatasan dengan Marga Mestong[1], Marga Awin, Marga Kumpeh Ulu, Marga Dendang/Sabak[2] dan Marga Tungkal Ulu.

Penuturan Marga Jambi Kecil berbatasan dengan Marga Dendang/Sabak dan Marga Mestong diakui oleh Marga Dendang/Sabak dan Marga Mestong.

Namun menurut penuturan di Marga Tungkal Ulu, Marga Tungkal Ulu tidak berbatasan dengan Marga Jambi Kecil. Namun dibatasi oleh Marga Awin[3]. Dan sesuai dengna peta Residentie Djambi.

Selain itu, Marga Jambi Kecil tidak berbatasan dengan Marga Kumpeh Ulu. Marga Kumpeh Ulu berbatasan atau dibatasi dengan Marga Maro Sebo.

Selain itu cerita tentang Dusun Rukam dalam Marga Jebus dikenal sebagai “ulu rukam”. Istilah “ulu rukam” dikenal di Desa Rukam. “Ulu rukam” ditandai dengan kisah “anjak” batas antara Marga Jebus dengan Marga Maro Sebo. Ulu rukam ditandai batas alam yang dikenal “jejawi berbaris dan tali gawe[4].

Dalam perkembangannya, Desa Rukam kemudian didalam Kecamatan Maro Sebo yang kemudian menjadi Kecamatan pemekaran. Kecamatan Taman Raja.

Marga Jambi Kecil terdiri dari Dusun Jambi Tulo, Dusun Jambi Kecik, Dusun Muara Danau, Dusun Setiris, Dusun Mudung Darat, Dusun Bakung, Dusun Danau Kedap, Dusun Nisao dan Dusun Tanjung Katung. Berpusat di Mudung Darat[5].

Kisah Marga Jambi Kecil dimulai dari kisah Tumenggung Jakfar yang mempunyai kesaktian untuk melindungi negeri.

Negeri ini adalah tanah bening yang dihasilkan dari tanah yang meninggi. Sehingga bisa ditanami. Masyarakat kemudian menyebutkan “tanah bening”. Atau Kebeningan.

Adanya ancaman dari serangan pihak luar maka Tumenggung Jakfar kemudian membangun pagar disekelilingi negeri dengan cara membangun pagar dengan menanam bamboo. Dengan tumbuhnya bamboo dan semakin rapatnya, maka serangan dapat dihindarkan.

Namun ancaman tidak berhenti. Para penyamun kemudian membangun saung (membangun lobang dibawah tanah). Mereka kemudian berhasil masuk dan menemui Tumenggung Jakfar.

Melihat serangan yang berbahaya, Tumenggung Jakfar kemudian mengeluarkan pepatah. “Tidak elok kita berkelahi. Kalah atau menang akan merugikan kita. Bagaimana kita berunding dulu”.

Akhirnya mereka makan bersama. Namun makanan yang disuguhkan kemudian mengandung racun. Akhirnya para penyamun berhasil tewas dan dimasukkan ke saung.

Namun timbul penyakit yang mewabah di seluruh negeri. Setiap hari ada yang tewas. Akhirnya disepakati untuk meninggalkan “tanah bening atau kebeningan”.

Berjalanlah mereka meninggalkan negeri Kebeningan. Pada malam hari mereka beristirahat dan tidur. Didalam mimpi, orang pintar kampong kemudian bermimpi. “Perjalanan jangan diteruskan”.

Ketika bangun, maka orang pintar kemudian menyampaikan kepada pemimpinnya. Akhirnya disepakati untuk menetap dan tinggal. Melihat pinang yang tumbuh, maka kemudian dijadikan nama tempat. Jambi Tulo. Jambi atau “Jambee” adalah pinang. Sedangkan Tulo adalah tuo. Jadi Jambi Tulo adalah Pinang yang tuo.

Negeripun kemudian ramai. Penduduk kemudian bertambah. Dusun yang barupun kemudian terbentuk. Melihat adanya “pinang yang kecil”, maka kemudian disebut “Jambi Kecil”. Atau pinang kecil.

Dalam perkembangannya, Marga Jambi Kecik kemudian menjadi Kecamatan Maro Sebo. Kecamatan Maro Sebo kemudian mengalami pemekaran kecamatan menjadi Kecamatan Maro Sebo dan Kecamatan Sekernan. Dan Kecamatan Maro Sebo kemudian mengalami pemekaran lagi menjadi Kecamatan Taman Raja.

Sehingga kecamatan Maro Sebo terdiri dari Desa Jambi Tulo, Desa Baru, Desa Danau Lamo, Desa Muara Jambi, Desa Danau Kedap, Desa Mudung Darat, Desa Tanjung Katung, Desa Nias, Desa Lubuk Laman, Desa Setiris dan Desa Bakung. Kesemuanya termasuk kedalam Marga Jambi Kecil.

Namun yang unik adalah penamaan Kecamatan. Kecamatan Maro Sebo yang mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Sekernan dan mengalami pemekaran Kecamatan Taman Raja menimbulkan keraguan.

Padahal Marga Maro Sebo adalah Marga yang terpisah dengan Marga Jambi Kecik. Peta Belanda menyebutkan, Marga Maro Sebo berpusat di Muara Jambi. Salah satu Dusunnya bernama Dusun Taman Raja.

Sedangkan Marga Jambi Kecik berpusat di Mudung Darat. Salah satu Dusunnya adalah Dusun Jambi Kecik. Marga Jambi Kecik kemudian bergabung didalam Kecamatan Maro Sebo. Atau Kecamatan Maro Sebo adalah penggabungan antara Marga Jambi Kecik dengan Marga Maro Sebo.

Sehingga ketika dilakukan pemekaran Kecamatan Maro Sebo menjadi Kecamatan Sekernan dan menjadi Kecamatan Taman Raja, maka wilayah kecamatan Kecamatan Taman Raja adalah Desa Kemingking Dalam, Desa Kemingking Luar, Desa Kunangan, Desa Manis Mato, Desa Mudo, Desa Rukam, Desa Sekumbung, Desa Talang Duku, Desa Tebat Patah dan Desa Teluk Jambi.

Padahal Desa-desa yang sekarang termasuk kedalam Kecamatan Taman Raja memang berasal dari Marga Maro Sebo. Atau dengan lain, Apabila kecamatan Maro Sebo menjadi kecamatan Pemekaran Taman Raja sudah tepat.

Namun kemudian meninggalkan nama kecamatan Maro Sebo dengan desa-desa sebelumnya termasuk kedalam Marga Jambi Kecik menimbulkan kerancuan.

Sejarah penggabungan Marga Jambi kecik dan Marga Maro Sebo dapat dimengerti melihat perkembangan sejarah. Namun kemudian Kecamatan Maro Sebo yang mengalami pemekaran Kecamatan Taman Raja justru akan membingungkan.

Apabila Kecamatan Maro Sebo telah mengalami pemekaran maka Pemisahan Marga Maro Sebo dan Pemisahan Marga Jambi Kecil menyebabkan, Desa-desa yang tidak termasuk kedalam Marga Taman Raja yang masih tetap bernama Kecamatan Maro Sebo menjadi tidak tepat lagi.

Desa-desa yang termasuk kedalam Kecamatan Maro Sebo adalah Desa-desa yang termasuk kedalam Marga Jambi Kecil. Sehingga ketika Kecamatan Maro Sebo mengalami pemekaran maka Kecamatan Maro Sebo dikembalikan kedalam sejarah Marga Jambi Kecil. Sehingga penamaan kecamatan yang lebih tepat adalah Kecamatan Jambi Kecil.

Mengembalikan penamaan kembali menjadi Jambi kecil sudah tepat. Selain memang dikenal masyarakat, penamaan Jambi kecil sesuai dengan Peta Belanda dan pembagian residentie Djambi tahun 1927. 

Baca : istilah Marga di Jambi 

Dimuat di www.jamberita.com, 28 Januari 2019

https://jamberita.com/read/2019/01/28/5947261/marga-jambi-kecil


            [1] Irwandi, Desa Sungai Duren, Kecamatan Jambi Luar Kota, Muara Jambi, 25 Juli 2018
            [2] Parit Culun, 2 Maret 2016
            [3] M. Syafe’I Achmad, mantan Pesirah dan mantan Kepala Desa Merlung, 14 Agustus 2016
            [4] Desa Jebus, 2 Maret 2016
            [5] Muktar, Ketua Lembaga Adat Melayu Kabupaten Muara Jambi, Desa Jambi Kecil, 27 Januari 2019