25 Mei 2021

opini musri nauli : Persiapan pertandingan di alun-alun Istana Astinapura

Syahdan. Berkumpullah para pendekar di padepokan. Mengelilingi paseban padepokan. Dipimpin pemimpin padepokan. 

“Tuanku. Siapakah pendekar yang hendak dikirmi ke alun-alun Istana Astinapura ?”, tanya sang pendekar. 


“Wahai, para pendekar. Pendekar yang hendak kukirimi ke pertandingan didepan alun-alun Istana Astinapura hendaklah mempunyai kesaktian tiada terkira. 


Mantra dan ajiannya sungguh sudah teruji. Kesaktian mandraguna telah mumpuni. Terbukti handal menghadapi jurus-jurus maut dari para pendekar lainnya. 


Para pendekar yang hendak dikirimi ke pertandingan di alun-alun depan Istana Astinapura mempunyai jiwa yang bersih. Tunduk dan laku kepada sang Dewata Agung. 


Kesaktiannya tiada tara “"Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha”. 


Badannya kekar bak “otot kawat tulang besi”. Ilmu kanuragannya mampu menggetarkan bumi. 


Para pendekar yang telah melewati tapa brata dan laku kepada sang Dewata Agung yang akan dikirmi ke alun-alun depan Istana Astinapura. 


Demikianlah hasil terawanganku”, titah sang Pemimpin padepokan. 


“Baiklah, Pemimpin padepokan. Kami akan melanjutkan tapa brata”, kata sang para pendekar. Bergegas meninggalkan pasebanan. Melanjutkan tapa brata.