07 Juli 2021

opini musri nauli : Perjalanan Betuah (60)

 


Usai sudah menempuh perjalanan panjang Al Haris-Sani sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Jambi 2021-2024. Perjalanan panjang yang melelahkan, menyita energi berbalut emosi, kegalauan ditambah optimis menempuh perjalanan politik. 

Tradisi pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi 2021-2024 dimulai dengan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.  


Teringat awal-awal perjalanan politik ketika pernyataan sederhana Al Haris yang bersedia berpasangan dengan Abdullah Sani (Yai Sani) sebagai Wakil Gubernur Jambi. Pasangan politik yang dari awal hingga pelantikan sama sekali tidak pernah bergonta-ganti pasangan. 


Kekukuhan Al Haris berpasangan dengan Yai Sani sempat menimbulkan perdebatan politik. Entah dukungan partai politik yang akan mendukung, persyaratan untuk mengganti wakil Gubernur hingga kemudian berbagai pernik-pernik menjelang pendaftaran. Termasuk riak-riak Kecil yang justru memperkokoh pasangan ini. 


Ketika Sudah mantap pilihannya, keraguan lembaga survey sempat menempatkan Al haris-Sani hanya mencapai 7 %. Waktu itu belum ada satupun kandidat yang mendapatkan kepastian dukungan Partai politik. 


Pelan-pelan mulai naik hingga mencapai 18 %. Termasuk Al haris-Sani sudah mengantongi dukungan Partai untuk mendaftarkan diri ke KPU. 


Pandemik kemudian mulai melanda Indonesia. Jambi kemudian mengambil pilihan. Kampanya Terbuka, Kampanye yang boleh dihadiri segelintir orang, izin prokes yang ketat membuat Al Haris dan Yai Sani menggunakan cara kreatif. Langsung berkeliling Seluruh pelosok negeri di Jambi. 


Baik dari ranah Serampas yang menjadi modal Dasar dan kemantapan Al haris menapak politik dari Sekancing menuju Istana Presiden.  Hingga berjibaku menggunakan berbagai seluruh moda transportasi mengelilingi negeri Jambi. 


Entah mengelilingi Desa-desa yang termasuk ke Marga Batin Pengambang, ulu Batang Asai, Marga Bukit Bulan, mengelilingi Kerinci, menyusuri sungai Tembesi, Sungai Batanghari, mendatangi berbagai kampung-kampung tua disepanjang jalur darat hingga menaiki speedboat menyusuri sungai-sungai yang kemudian mengarah ke Ilir pantai Timur Jambi. 


Belum lagi menyusuri seluruh desa di Kecamatan Sadu yang terkenal dengan jalur pasang yang tinggi yang kemudian berakhir di Selat berhala. Tempat dimakamkan Rajo Jambi, Datuk Paduko Berhalo. 


Belum lagi Yai Sani yang dengan senyap, menyusuri berbagai tempat yang rela mendengarkan keluhan Rakyat tentang ketertinggalan Jambi didalam pembangunan. 


Tempat-tempat yang didatangi mempunyai makna simbolis direlung hati masyarakat Jambi. Tidak salah kemudian setiap detail perjalanan yang sudah ditempuh oleh Al haris dan Yai Sani adalah rangkaian panjang perjalanan betuah. Setiap tempat mempunyai makna dan hubungan batin tersendiri Al haris dan Yai Sani dengan Rakyat Jambi. 


Setelah Pilkada tanggal 9 Desember 2020, Tuhan belum memberikan kesempatan Al haris dan Yai sani untuk ke Istana. Masih panjang perjalanan yang mesti ditempuh. 


Entah menghadiri persidangan di MK, menghadapi kegalauan dan kepanikan paska putusan MK dan persiapan menjelang PSU. 


Namun sebagai “dirijen”, Al haris berhasil memompa semangat seluruh tim. Membangkitkan optimis menghadapi PSU. 


Detik-detik menjelang PSU, strategi “mengamankan suara” justru semakin melambungkan suara. Melebihi hasil dari Pilkada 9 Desember 2020. 


Sehingga tidak salah kemudian, seorang anak Muda Melayu Jambi yang lahir dan dibesarkan di Sekancing kemudian diundang ke Istana. Dalam resepsi kenegaraan. 


Sekaligus memancing perhatian nasional. Telah lahir Pemimpin baru. Seorang Pemimpin betuah. Bak keluar dari kawah candradimuka perjalanan betuah. 


Dan sejarah tidak henti mencatat. Al haris dan Yai Sani tidak semata-mata dikenal sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Jambi. 


Tapi akan mencatat. Putra kelahiran Sekancing akan menarik perhatian nasional.