28 Juli 2015

opini musri nauli : PILGUB JAMBI 2015



Tanggal 27 Juli 2015 merupakan hari bersejarah bagi pemilik suara 2,5 juta (Pilpres 2014) rakyat Jambi. Dua pasang kandidate mendaftarkan ke KPU. Hasan Basri Agus-Edi Purwanto (BA-EP) yang didukung Partai Demokrat, PDI-P, Partai Gerindra, PKS dan Zumi Zola – Farori Umar (ZZ-FU) yang didukung PAN, PKB, PBB, Partai Hanura dan Partai Nasdem. Dengan didukung partai, maka HBA-EP memenuhi persyaratan dengan total kursi di DPRD Propinsi 25 kursi (45,45%). Begitu juga dengan ZZ-FU dengan 18 kursi (32,73%). Tinggal persyaratan teknis yang disusun oleh KPU Propinsi Jambi untuk mengesahkannya.
Dengan bergabungnya Partai Demokrat-PDIP-Partai Gerindra-PKS yang mengusung HBA-EP mematahkan dominasi KMP-KIH. Begitu juga PAN-PKB-PBB-Partai Hanura-Partai Nasdem yang mengusung ZZ-FU semakin memperkuat hipotesis. Dinamika politik nasional tidak begitu berpengaruh di tingkat lokal.

Melihat hanya dua pasang kandidate Gubernur Jambi, maka pertarungan di Pilgub Jambi 2015 menarik untuk diikuti.

Keempat kandidate telah melalui perjalanan panjang dan telah melewati berbagai jabatan penting. HBA dari Sekda Kota Jambi, Bupati Sarolangun sekarang menjadi incumbent (petahana). EP dari Sekjen PDIP, Ketua DPD PDIP dan Wakil Ketua DPRD Propinsi menjadi “lawan tangguh” sebagai Wakil Gubernur Jambi.

Begitu juga ZZ Ketua PAN Tanjabtim, Bupati Tanjabtim dan Ketua DPD PAN Jambi merupakan “lawan tangguh” sebagai Gubernur Jambi. Sedangkan FU yang lama menjadi Hakim Agama (Ketua PA Jambi-Wakil Ketua PTA Manado) merupakan “incumbent (petahana)” yang cukup diperhitungkan.

Usai sudah “dagdigdug” degub jantung pilihan dari berbagai skenario kandidate Pilgub Jambi 2015.

Dengan hanya menghadirkan dua pasang kandidate maka “pertarungan” sesungguhnya telah dimulai.

Kemenangan HBA-FU di Pilgub 2010 (40%) akan diuji “kekuatan” dari kedua pesona. Dengan mengalahkan beberapa kandidate pilgub 2010 yang merupakan Bupati, HBA dan FU menjadikan pertarungan pilgub 2015 menjadi lebih menarik.

Dibalik pengusulan partai-partai pengusung pilgub 2015, HBA, EP dan ZZ merupakan ketua partai. Dalam alam demokrasi yang sehat, iklim demokrasi sedang bergerak menuju “penataan' kader sebagai pemimpin Jambi.

Selain itu juga, tampilnya EP (PDIP), ZZ (PAN), Syofyan Ali (PKB), Syafrudin Dwi Apriyanto (SDA/PKS), Agus Roni (Partai Nasdem) menunjukkan mulai bergeraknya politisi muda memasuki gelanggang politik. Di tangan politisi muda inilah, dinamika pilgub Jambi 2015 mempunyai arti.

Namun tidak bisa dipungkiri, kekuatan tokoh-tokoh “berpengaruh” di belakang masing-masing kandidate. Sebutlah Zulfikar Ahmad (ZA), Abdullah Hich (AH), yang mendukung HBA-EP dan H. Madel dan Madjid Muaz (MM) yang mendukung ZZ-FU cukup diperhitungkan. Belum lagi Burhanuddin Mahir (Muara Jambi), Cek Endra (Sarolangun), Nalim (Merangin) yang berada di belakang HBA-EP dan Maryadi (Sarolangun) yang berada di belakang ZZ-FU tidak boleh diremehkan.

Mengutip data pemilih pilpres 2014 - data yang cukup up to date untuk melihat dukungan dari berbagai daerah, pengaruh tokoh-tokoh “memainkan” peran.

Dalam perjalanan ke berbagai daerah, nama-nama seperti Madel, Cek Endra, Maryadi (Sarolangun) cukup dekat di lapisan bawah di Sarolangun. Pengaruh ketokohan ketiganya tidak boleh diabaikan. “Pertarungan” di Sarolangun merupakan salah satu kunci dari “pertarungan” di tingkat basis untuk meraih suara 197 ribu

Begitu juga nama ZA di Bungo yang cukup mengakar. Dengan meraih 2 periode jabatan Bupati dan menjadi anggota DPR-RI periode 2014-2019, ZA yang didukung oleh Sudirman Zaini (SZ) akan diuji dengan kekuatan dan “kebesaran” nama keluarga FU untuk meraih suara 240 ribu. Di Pilgub 2010, ZA berpasangan dengan Ami Taher begitu perkasa di Bungo dengan meraup 96 ribu suara mengalahkan HBA-FA yang cuma meraih 39 ribu suara.

Sedangkan di Tanjabtim, PAN yang meraih kursi mutlak di DPRD Tanjabtim merupakan “ujian” dari pengaruh nama besar Keluarga ZZ. Pertarungan ini akan semakin menarik berhadapan dengan AH yang “cukup dihormati” di Tanjabtim dengan suara 165 ribu.

Namun jangan dilupakan suara-suara di Merangin (262 ribu), Batanghari (189 ribu), Muara Jambi (276 ribu), Tanjabbar (205 ribu) dan Tebo (239 ribu)

Kotamadya Jambi (428 ribu), Kotamadya Sungai Penuh (71 ribu) dan Kabupaten Kerinci (203 ribu) merupakan daerah-daerah lumbung suara dan penyumbang suara yang signifikan. Dengan tingkat kedekatan wilayah, mobilitas yang cepat membuat ketiga daerah ini cukup “menarik” untuk “mendulang suara”.

MAKNA KEPEMIMPINAN

Siapapun pemenang dari Pilgub Jambi 2015, Gubernur Jambi 2015-2020 merupakan pemimpin dalam hati rakyat Jambi. Begitu tinggi penghormatan kepada pemimpin sering diujarkan “Alam sekato Rajo. Negeri sekato batin”. “didahulukan selangkah”. Dilebihkan sekata'. Begitu juga pemimpin sering diibaratkan seperti pohon Beringin. “Pohonnya rindang tempat berteduh. Akarnya besar tempat Bersilo. “Tempat orang bertanyo. Tempat orang bercerito”

Sebagai pemimpin, maka “Yang berhak untuk memutih menghitamkan Yang memakan habis, memancung putus, dipapan jangan berentak, diduri jangan menginjek. Tempat “Disitu kusut diselesaikan. Disitu keruh dijernihkan. Disitu kesat sama diampelas. Disitu bongkol sama ditarah.

Namun jangan coba-coba berkhianat terhadap rakyat. Kita sering mengenal ujaran “Rajo alim kami sembah, rajo zolim kami sanggah”. Jatuh dipemanjat. Jatuh di perenang

Tentu saja masih banyak “Seloko” atau kata-kata bijaksana. Masih banyak yang mesti dituliskan. Begitulah makna kepemimpinan yang masih hidup di tengah masyarakat.

Tinggal kita mau mendengarkan dengan tulus dan memandang masyarakat yang mengagungkan seorang pemimpin.

Tinggal kita tunggu hasil penghitungan setelah tanggal 9 Desember 2015.