16 November 2016

opini musri nauli : MENGAJI DAN BUDI PEKERTI



Pagi hari, saya mendapatkan laporan dari putraku tentang “kegelisahannya”. Dia bertanya dengan lugu. Mengapa teman mengajinya kemudian dilarang orang tua untuk mengaji”. Sebelum menjawab pertanyaannya, “bak” detective tangguh, saya melakukan investigasi dengan bertanya kepada istri saya.
Dengan panjang lebar, istri saya kemudian menceritakan tentang keadaan keluarga teman putraku. “dia masuk pengajian”. Waduh. Kok masuk pengajian tapi malah melarang anak-anaknya mengaji di surau terdekat. Sayapun kemudian menyimak penjelasan lebih lanjut. “Iya. Dia melarang pengajian dekat surau”. Sekarang dia masuk pengajian dan tidak lagi berjualan dekat rumah. Bahkan sekarang entah kemana”. Pikiran saya kemudian menerawang entah kemana.

Teringat beberapa tahun yang lalu, aku pernah memberhentikan guru ngaji. Saya mendapatkan laporan dari putraku, dia dilarang bergaul dengan teman-teman yang nasrani. Bahkan dilarang main kerumahnya (yang kebetulan dekat dengan rumah).

Saya tidak terima perlakuan. Bagiku, guru ngaji adalah mengajar mengaji. Sedangkan budi pekerti (cara bergaul) merupakan tanggungjawabku sebagai orang tua.

Kami sudah diajarkan bergaul toleransi dengan berbagai agama. Entah dari sekolah, teman kerja bahkan berbagai teman organisasi tidak pernah mempersoalkan “urusan seperti ini”.

Saya punya teman sekolah nasrani. Kami bergaul tanpa dibatasi sekat-sekat. Yang kutahu ketika waktu sekolah, waktu Natalan, saya suka kerumahnya karena banyak kue dan sering dikasih jajan orang tua temanku. Begitu juga pas waktu idul fitri, dia juga rajin datang dan kami saling mengucapkan selamat tanpa harus kikuk dengan urusan yang belum kami pahami.

Memasuki bangku kuliah, justru natal dan tahun baru merupakan “kesempatan” kami bergembira datang beramai-ramai kerumah teman yang nasrani. Kami bahkan harus mengatur jadwal sehingga tidak ada satupun yang luput yang kami datangi.

Dalam perjalanan entah ke kota mana, saya justru menemukan “keragaman” mendiskusikan kemanusiaan. Entah berapa pastor, pendeta ataupun ustad muda yang berapi-api keras berbicara di rapat-rapat masyarakat yang menolak penggusuran.

Di  Medan bertemu dengan pastor yang suka naik trail memobilisasi perlawanan Indo Rayon. Di Jambi, di Bandung, di Lampung maupun di Palembang, “retret” sering digunakan untuk mengadakan pendidikan buruh. Bahkan salah satu gereja di Jambi pernah saya datangi “mengambil beras” ketika aksi menduduki kantor Pemerintahan.

Di Sumba kemarin, saya justru ketemu dengan pendeta yang fasih menerangkan tentang Marapu dalam kebaktiannya. Teman-teman nasrani di Sumba, selalu menyiapkan ayam dipotong,  disiapkan ruang terpisah dan memisahkan dengan makanan lain sebagai bentuk penghormatan tulus terhadap agama saya.

Atau ketika siang hari saya kerumah teman-teman China, tanpa dimintapun, mereka segera membelikan saya nasi bungkus dan melarang saya keruang makannya.

Semua tempat-tempat yang saya datangi, justru saya disiapkan sajadah untuk sholat. Waktu yang diingatkan terus menerus oleh pastor dan pendeta untuk saya tertib sholat.

Begitu juga dengan ustad-ustad muda berpeci khas Nahdiyin yang menyiapkan dana pesantren untuk memobilisasi aksi-aksi petani menolak perampasan tanah di Jawa Barat. Ustad muda yang canggih menggunakan sosmed tapi fasih bicara Fiqh sambil santai menghisap rokok.

Saya kemudian menemukan keragaman. Agama justru membebaskan manusia. Agama diperlukan untuk menyelesaikan persoalan manusia. Sebuah titik yang kemudian membuat saya kagum dengan “kebesaran” jiwa pastor, pendeta ataupun ustad muda yang tidak bicara lagi tentang “hubungan  manusia dengan Tuhan” tapi sudah menyentuh akar persoalan. Hubungan manusia dengan manusia. Tanpa menggali dasar berfikir, saya kemudian menemukan keteduhan.

Suasana itu masih terasa apabila kita sejenak mau turun ke berbagai pusat-pusat perlawanan. Masih banyak tokoh-tokoh agama yang mempunyai umat namun tetap menggunakan energinya untuk membantu masyarakat yang tertindas.

Kasus Indorayon, Kasus Rembang, kasus Sumba - dan tentu saja masih banyak kaus-kasus lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu - tidak terlepas dari kemenangan rakyat yang didukung tokoh-tokoh agama. Entah dengan seruan didalam pengajian, didalam kebaktian ataupun ketika aksi berdiri gagah didepan masyarakat menghadang bulldozer yang merobohkan rumah masyarakat. Mereka begitu meyakini iman sehingga mengambil peran untuk berdiri berada di barisan umat yang terzolimi.

Dalam setiap organisasi, hampir dipastikan saya bertemu dengan teman-teman yang berlatar belakang agama yang berbeda-beda. Entah Nasrani, Budha, Hindu. Dari teman-teman saya, saya kemudian belajar tentang “Hari Paskah”, Hari Raya Nyepi, tentang penghormatan terhadap manusia. Bahkan kami saling berkirim kabar mengucapkan Selamat merayakan Hari Raya. Semuanya berjalan dengan baik.

Dalam interaksi terus menerus, tidak ada satupun upaya mempengaruhi agama siapapun. Interaksi hanya mendiskusikan gagasan tanpa reserve keyakinan masing-masing.

Dengan beragam perjalanan dan menempuh berbagai tempat kemudian saya akan kehilangan identitas sebagai orang Islam ?

Ha.. Ha.. Justru dari seluruh pengetahuan yang saya dapatkan dari berbagai tempat perjalanan, semakin sering kemudian belajar agama. Saya semakin yakin dengan pilihan agama. Keyakinan saya semakin tebal dan menumbuhkan toleransi. Saya kemudian menyadari. Islam dilahirkan untuk umat manusia. Bukan hanya untuk umat Islam saja. Keyakinan itulah yang kemudian menempatkan. Agama adalah untuk kemanusiaan. Bukan sekedar ritual tanpa makna.

Lalu apakah agama yang saya anut tidak memberikan pemahaman tentang budi pekerti. Ah. Terlalu sederhana untuk menjawabnya. Semua putra-putri saya, setiap Ramadhan saya kirimkan ke kampong kakeknya di Padang. Disana suasana ramadhan begitu terasa. Mulai dari Kultum, pesantren kilat, pengajian, berebut mukul bedug masih terasa.

Selain dekat dengan kakeknya, suasana ramadhan di Padang membuat dia memahami arti keberagaman tentang agama. Disana dengan kentalnya Muhamadiyah bisa bertemu dengan mengakarnya Nahdiyin di Jambi. Sampai sekarang yang bisa saya pastikan, seluruh putra-putri  saya sudah Khatam Al Qur’an sebelum menginjak kelas 5 SD.

Dengan pengetahuan itulah, maka saya bisa menangkap kegundahan putra saya. Saya merasakan bagaimana teman mengajinya, tanpa dosa harus kehilangan dan tidak menemukan jawaban. Sambil mengusap rambutnya, saya cuma berkata. “Nak. Mengajilah seperti biasa. Ayah akan selalu disampingmu untuk bercerita tentang Agama kita. Agama Islam yang tetap teduh untuk manusia.

Diapun mengangguk walaupun belum sepenuhnya mengerti. Namun yang kutangkap. Kegundahannya akan ditemukan jawabannya setelah dia dewasa kelak.