01 Desember 2020

opini musri nauli : Cerita Pulau Berhalo

 



Kru Jambi Mantap ingin ke Pulau Berhalo, bang”, kata Al Haris tersenyum. Seakan mengabarkan kegembiraan kru Jambi Mantap untuk menikmati setelah menempuh berbagai perjalanan politik (roadshow) Al Haris sebagai Gubernur Jambi 2020-2024. 


Seakan-akan mengetahui pikiran saya yang hendak bertanya mengapa keinginan setelah ke Kecamatan Sadu dan Kecamatan Air Hitam diakhiri ke Pulau Berhala. Berziarah ke Makam Datuk Paduko Berhalo. 


Kru Jambi mantap terdiri dari tim pendukung. Baik yang terlibat didalam Tim Pemenangan Al Haris-Sani sebagai paslon Pilkada Jambi 2020 maupun tim pendukung lainnya. Seperti Kopashas, Millenial Al Haris, Gema wo Haris. Termasuk tim pendukung keluarga yang begitu memberikan support kepada agenda perjalanan politik Al Haris. 


Al Haris begitu mendengarkan suara anak-anak muda. Sekedar berkunjung ke Pulau Berhalo memberikan energi positif dan membangkitkan adrenalis setelah perjalanan panjang mengelilingi tempat-tempat di Jambi. 


Sebelumnya mengetahui rute perjalanan ke Kecamatan Sadu dan Kecamatan Air Hitam, keinginan untuk mendatangi negeri yang belum pernah didatangi membuat saya mematangkannya. 


Sebagai “pelancong”, berbagai tempat-tempat yang jarang didatangi seperti Serampas, Sungai Tenang, Batin Pengambang, Bukit Bulan sudah saya datangi. Entah urusan advokasi ataupun membantu memfasilitasi pembuatan peraturan desa. 


Sebagai anak Jambi yang dilahirkan, sekolah dan dibesarkan di Jambi, keinginan kuat mendatangi tempat-tempat yang dibilang “keramat” adalah perjalanan spiritual. Menggali cerita ditengah masyarakat. Termasuk didalam menjaga negeri Jambi. 


Mendatangi berbagai tempat, menemukan momentum mengikuti perjalanan politik (roadshow) Al Haris. Berbagai tempat yang belum pernah didatangi justru membuat adrenalis seakan-akan berpacu. Berkejaran waktu disela-sela tugas sebagai praktisi hukum. 


Sehingga tidak salah kemudian setelah ke Kerinci, keinginan ke Kecamatan Sadu begitu kuat. Setelah ke Nipah Panjang yang termasuk salah satu tempat yang sering dikunjungi, Rantau Rasau yang kemudian akhir-akhir ini sering dikunjungi, tempat terujung dari Provinsi Jambi yang terletak di Kecamatan Sadu menjadi tujuan akhir dari berbagai negeri di Jambi yang harus didatangi. 


Setelah mengikuti perjalanan politik (roadshow) di Desa kecamatan Sadu seperti Lokan, Desa Sungai Itik, Desa Sungai Jambat, Desa Sungai Sayang dan kemudian diakhiri di Desa Air Hitam Laut, seakan-akan lengkaplah tempat-tempat yang didatangi. Melengkapi perjalanan spiritual dan penggalian sejarah dan kisah negeri di Jambi. 


Namun alangkah kagetnya saya. Ternyata kru Jambi mantap banyak sekali yang sama sekali belum pernah kesana. 


Sehingga keinginan ke Pulau Berhalo adalah kerinduan masyarakat Jambi terhadap tempat-tempat yang begitu melekat dalam pemikiran masyarakat Melayu Jambi. 


Sayapun tertawa sepanjang perjalanan mengingat “kelakuan” para kru Jambi mantap. 


Dimulai dari “semua berebutan” duduk di bangku depan, terutama dekat nakhoda speedboat. 


Jangan dibayangkan speedboat yang menggunakan fiberglass. Sama sekali tidak. Namanya saja speedboat. Tapi terbuat dari kayu. Walaupun menggunakan mesin yang Yamaha 200. Lambang kecepatan dari speedboat. 


Dengan kapasitas bangku 3-4 orang satu jejer bangku, terdiri dari 10-12 baris, cara memilih bangku merupakan peristiwa unik. 


Saya sudah sering menggunakan speedboat. Terutama ke Nipah Panjang. Sebelum Nipah Panjang sering digunakan melalui angkutan darat. 


Dimulai dari “ancol” dapat ditempuh 2,5 – 3 jam. Menyisir Sungai Batanghari, melewati simpang, Rantau Rasau dan Nipah Panjang. 


Ancol adalah nama tempat yang digunakan sebagai tempat pangkalan speedboat di Jambi. Terletak di depan rumah Gubernuran. 


Dulu sebelum dibangun WTC, pangkalan sering juga disiapkan di depan pasar Angso duo. 


Awal menggunakan speedboat, semula saya sempat heran. Mengapa para penumpang lebih suka memilih bangku dibelakang. Sehingga saya kemudian segera memilih bangku didepan. Terutama disamping nakhoda. Ataupun dibelakang nakhoda. 


Namun ketika speedboat mulai dipacu kencang, posisi speedboat yang agak nukik membuat speedboat kemudian menghantam air. Sehingga membuat perut seakan-akan muntah. Sejak itu saya kemudian kapok untuk memilih duduk didepan. 


Dan cerita itu kemudian berulang. Dengan melihat polah dan tingkah sebagian besar kru Jambi mantap memilih bangku depan, saya kemudian tersenyum-senyum. 


Ketika dari Desa Air Hitam Laut menuju Pulau Berhalo memang masih siang. Sekira jam 12.00. Ombakpun belum begitu deras. 


Mereka berebutan duduk didepan. Bahkan dengan santai dua orang malah duduk disamping nakhoda. 


Sepanjang perjalanan belum terasa kekuatan ombak. Mereka malah banyak yang berdiri. Memandang Pulau Berhalo dari kejauhan. Berteriak histeris kegirangan. 


Bahkan menjelang ke Pulau Berhalo, sebagian besar malah berdiri. Bak “Laksamana Cheng Ho” memimpin pelayaran menyerbu Majapahit. 


Setelah kunjungan ke Makam Datuk Paduko Berhalo, istirahat sebentar dan makan siang, kamipun pulang. 


Lagi-lagi mereka tetap memilih duduk dibangku depan. Tidak berubah posisi duduk. 


Pelan tapi pasti. Ketika mulai menyeberang Selat Malaka, Selat yang paling sibuk lintas perdagangan dunia, ombak besar mulai menghantam speedboat. 


Posisi speedboat yang menukik membuat badan depan speedboat menghantam ombak begitu keras. Sehingga terguncang-guncang. 


Semula para kru Jambi mantap masih menganggap “petualangan yang harus dilalui”. Namun ketika semakin kencang dan perut terguncang-guncang, para kru malah berhamburan mencari posisi duduk ke belakang. 


Suasanapun menjadi heboh. Semuanya kemudian memilih untuk memilih duduk ke belakang. 


Sayapun tertawa sepanjang perjalanan. Mengingat kisah ketika semula naik speedboat. 


Namun perjalanan ke Pulau Berhalo begitu berkesan bagi kru Jambi mantap. Dan Al Haris “sengaja” memberikan amunisi dan adrenalin untuk mengembalikan stamina kru Jambi mantap yang telah mengikuti perjalanannya selama 4 bulan. 


Sehingga tidak salah kemudian “Kru Jambi Mantap ingin ke Pulau Berhalo, bang” yang disampaikan begitu kental. Sayapun tersenyum mengikuti kisah perjalanan ke Pulau Berhalo. 



Pencarian terkait : opini musri nauli, musri nauli, jambi dalam hukum, hukum adat jambi, jambi, Pulau Berhala, Datuk Paduko Berhalo