11 Desember 2020

opini musri nauli : Keunikan Pilkada Jambi 2020

 


Ketika salah satu jamaah FB kemudian memposting statusnya “Anak dan Menantu Jokowi boleh menang mudah di Solo dan Medan tapi pemilihan Gubernur Bupati dan Walikota di Provinsi Jambi, rakyat tidak menyisihkan ruang nan lapang untuk kaum garis dinasti. Tahun ini Anak mantan Bupati, Anak Walikota, Istri Bupati dan Istri mantan Gubernur, semua bersusah payah mengumpulkan suara tertinggi dari rakyat. Selamat Datang di Negeri Jambi, ayo kawan semua, jago negeri yang makmur ini dengan segalo upayo kito, agar negeri bijak bestari. 


Tiba-tiba saya tersentak. Sekaligus kagum dengan daya kritisnya. 


Semula public dihinggapi kekaguman keluarga Besar Jokowi yang berhasil memenangkan pertarungan Pilkada. 


Anak Jokowi Gibran Rakabuming Raka bersama pasangannya Teguh Prakosa berhasil menempatkan diri sebagai pemenang Pilwalkot Solo. 


Sedangkan mantu Jokowi Bobby Nasution nampaknya juga berhasil menjadi walikota Medan. Bobby-Aulia mencapai 54,30 persen. Sementara itu, lawannya hanya meraih 45,70 persen.


Dengan demikian maka Jokowi berhasil menjadi Presiden. Sekaligus anak dan mantunya menjadi Walikota Solo dan Walikota Medan. 


Namun dengan cerdik – sempat luput dari perhatian, pilkada Jambi justru memberikan hasil yang berbeda. 


Mengutip kata-kata “rakyat tidak menyisihkan ruang nan lapang untuk kaum garis dinasti”, Pilkada di Jambi justru menempatkan anak mantan bupati, anak walikota, istri bupati dan istri mantan Gubernur “semuanya bersusah payah mengumpulkan suara tertinggi dari rakyat”. 


Nama-nama yang disebutkan adalah “anak mantan Bupati” bertarung di Pilkada Batanghari. Anak Walikota bertarung di Walikota Sungai Penuh. Istri Bupati bertarung di Batanghari dan istri mantan Gubernur bertarung di Pilgub Jambi. 


Mengutip hasil penghitungan cepat, keseluruhannya belum meraih hasil yang signifikan. Mereka justru dikalahkan oleh kandidat yang jauh dari kekerabatan yang mampu bersaing di pilkada. 


Asumsi yang dipaparkan oleh jamaah FB kemudian menyadarkan kita semua. Ternyata negeri Jambi berhasil mengantarkan para pemenang yang sama sekali tidak memperhitungkan kemenangannya. 


Mereka adalah masyarakat kebanyakan. Hidup dari sehari-hari masyarakat di sekitar kita. 


Merekalah yang sesungguhnya pemenang. Sekaligus mereka berhasil membuat sejarah. 


Menumbangkan dinasti dan membuat sejarah baru di Jambi. 


Sudah saatnya nasional justru belajar dan studi banding ke Jambi. Negeri betuah yang diajarkan para leluhur. 


Tidak salah kemudian pernyataan menggembirakan disampaikan “Selamat Datang di Negeri Jambi, ayo kawan semua, jago negeri yang makmur ini dengan segalo upayo kito, agar negeri bijak bestari” begitu bermakna.