10 Desember 2020

opini musri nauli : Panglima Perang




Ketika seorang teman menyebutkan istilah “Panglima perang” maka yang terbayang adalah Winston Churchil, seorang hero yang berkuasa di Inggeris. 


Winston Churchil  adalah perdana menteri Inggris yang menjabat selama dua periode yaitu tahun 1940-1945 dan 1951-1955. Dikenal sebagai tokoh besar abad 20 karena kepemimpinannya Perang Dunia II sebagai tokoh dengan keberanian, keyakinan,pengalaman politik dan kharisma yang besar. 


Setelah PD II pecah, ia kembali menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Laut dan memfokuskan diri membangun AL dalam pertahanan anti kapal selam. 


Tahun 1940 Norwegia, Belanda, dan Belgia jatuh disusul kejatuhan PM Chamberlin. Raja George VI kemudian menunjuk Churchill menduduki jabatan perdana menteri. Ia berpidato di depan majelis rendah membakar semangat, patriotisme, dan daya juang rakyat Inggris. Tanggal 22 Juni Prancis jatuh ke tangan Jerman. Jerman dan Italia segera melakukan invansi terhadap Inggris melalui serangan udara besar-besaran. 


Tahun 1940 Inggris banyak menderita kekalahan, namun dengan kegigihan yang luar biasa, Inggris akhirnya mampu memukul mundur pasukan Jerman. 


Pada bulan Mei 1945, Jerman menyerah di Eropa dan menyusul Jepang setelah kota Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh Amerika Serikat. (data berbagai sumber)


Sukses Churcil  sebagai panglima perang membuat dia kemudian yakin. Keluar dari Istana kemudian mendatangi tempat-tempat daerah yang ditaklukkannya. 


Kisah sukses Churchil kemudian menjadi legenda. Photonya terpampang jelas di medan pertempuran.


Sehingga melihat Churchil mendatangi tempat-tempat daerah yang ditaklukkannya adalah “show”. Memamerkan kemenangan.


Hanya panglima perang yang memenangkan peperangan yang kemudian tampil di permukaan.


Sedangkan panglima perang yang pasukannya kemudian kocar-kacir dan kalah dalam pertempuran pasti sedang bersembunyi dari pandangan public.


Sembari menghitung kekalahan sembari meneguk wine untuk menghibur kekalahan.