27 April 2021

opini musri nauli : Ulama Jambi (4)

Masyarakat Jambi juga mengenal KH. Muhammad Ali bin Syekh Abdul Wahhab KH. Muhammad Ali. 


Muhamad Rosadi didalam tulisannya MENELUSURI KITAB KARYA ULAMA PONDOK PESANTREN DI PROVINSI JAMBI dimuat Jumantara Vol 5 No. 2 Tahun 2014 kemudian menuliskannya, KH. Muhammad Ali bin Syekh Abdul Wahhab KH. Muhammad Ali,, lahir di Desa Bramitan Kanan, Kecamatan Tungkal Ilir pada tanggal 1 Shafar 1354 H bertepatan dengan tanggal 1 April 1933 M. 

Ayahnya bernama KH. Abdul Wahhab seorang tokoh agama yang pernah mukim di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama. 


Sedangkan ibunya bernama Hj. Ruqoyah binti H.M. Yusuf yang berasal dari daerah Batu Pahat, Johor, Malaysia. 


Pendidikan agama beliau peroleh dari kedua orang tuanya kemudian dilanjutkan pada Madrasah al-Hidâyah al-Islâmiyyah. 


Setelah tamat Ibtidaiyah beliau berangkat ke Mekkah bersama kedua orang tuanya untuk memperdalam ilmu agama. 


Setelah setahun di Mekkah beliau kembali ke tanah air dan meneruskan pendidikannya pada Madrasah Tsanawiyyah di pondok Pesantren ‘As’ad Jambi dan dilanjutkan pada tingkat Aliyah di Madrasah Aliyah Diniyyah Islamiyyah Barabai, Kalimantan Selatan. Adapun karya-karya yang telah beliau hasilkan antara lan adalah


Al-Fatâwâ at-Tunkaliyyah terdiri dari 4 juz yang menjelaskan tentang fatwa-fatwa masalah agama, tauhid, tasawuf dan fiqh yang ditulis dengan bentuk tanya jawab dengan menggunakan aksara Jawi (Arab Melayu). 


Al-Awrâd Tharîqah Mu’tabarah Qâdiriyyah Wa Naqsyabandiyah berisi tentang penjelasan mengenai tata cara berzikir, adab sebelum, ketika dan sesudah berzikir dilanjutkan dengan bacaan wirid yang harus diamalkan jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. 


Tajhîzul Mayyitmenjelaskan tentang tata cara pengurusan jenazah mulai dari memandikan, mengafankan, menyalatkan hingga menguburkan. 


Al-Umdah fi ‘Adam Jawâz Ta’khir al-Ihram ilâ Jiddahmenjelaskan tentang hukum menunda ihram hingga sampai di Jeddah. 


Fathul Mubîn fî Fidâyâ al-Salât wa Saum wa al-Yamînmenjelaskan tentang fidyah shalat, puasa, dan sumpah menurut mazhab Abû Hanifah. 


Dalam bidang fiqh KH. Muhammad Ali tidak hanya berpegang kepada satu mazhab saja, tetapi juga berpegang kepada beberapa mazhab yaitu mazhab Syafii dan mazhab Abu Hanifah. 


Al-Mabadi’ul-‘Asyarahmenjelaskan tentang ilmu tarekat yang mu’tabarah dan berisikan soal jawab yang berkenaan dengan tarekat. 


Da’watul Haqmenjelaskan tentang seruan kepada kebenaran. Izhârul Haqmenjelaskan tentang masalah zikir yang benar.  Jilâul Qulûb menjelaskan tentang keutamaan zikir, dalil-dalilnya dan hakikatnya. 


Ta’addud al-Jum’ah menjelaskan pandangan Imam al-Syafii tentang pelaksanaan shalat Jum’at lebih dari satu kelompok dalam satu negeri yang memenuhi beberapa persyaratan antara lain dhiqul makan, bu’du athrafil bilad dan ‘adawah (permusuhan). 


Tasawwuf biMa’na al-‘Amal huwa al-Tariqah menjelaskan bahwa pengertian tasawuf dalam praktik adalah tarekat.  Al-Nafhâtu al-Rahmâniyah menjelaskan tentang wasiat terhadap murid beliau karena minta dituliskan pegangan.



Data dari berbagai Sumber 


Baca  : Ulama Jambi (3)  dan Sejarah masuknya Islam di Jambi 



Advokat. Tinggal di Jambi