28 April 2021

opini musri nauli : Ulama Jambi (5)

Masyarakat Jambi juga mengenal Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya. 


Muhamad Rosadi didalam tulisannya MENELUSURI KITAB KARYA ULAMA PONDOK PESANTREN DI PROVINSI JAMBI dimuat Jumantara Vol 5 No. 2 Tahun 2014 kemudian menuliskannya.


Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya, lahir di Kampung Tengah pada tahun 1895 dan wafat pada tahun 1940. Ayahnya adalah seorang saudagar kain dan kitab-kitab agama di daerah Jambi yang bernama H. Anang Yahya. Pada usia 25 tahun, ia pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu dan bermukim di sana selama kurang lebih 8 tahun. Selama di Mekkah, Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya berguru antara lain kepada Syekh Muhammad Arsyad bin Syekh Umar Sumbawa dan Syekh Muhammad bin Daud al-Fatani. Pada masa akhir studinya di Mekkah, ia mendapat izin untuk menjadi salah seorang tenaga pengajar di Masjidil Haram dan produktif menulis kitab. Pada tahun 1927, ia kembali ke Jambi dan mengajar di Madrasah Nurul Iman dan tak lama kemudian diangkat menjadi mudhir selama kurang lebih 10 tahun. 


Adapun judul-judul kitab karya Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya adalah:  Taqrîbul ‘Awâm li Ma’rifatil Fiqhi wal Ahkâm. Kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Jawi (Arab Melayu) dengan jumlah halaman sebanyak 72 halaman. Kitab ini merupakan cetakan pertama yang dicetak pada percetakan al-Syarqiyyah pada tahun 1345 Hijriah. Kitab ini berisi tentang tanya jawab mengenai persoalan ibadah dan hukum islam (fiqh). 


Nailul Mathlûb fi A’mal al-Juyûb. Kitab ini berisi tentang pelajaran ilmu Falak atau Hisab yang membahas tentang cara menentukan waktu shalat dan arah kiblat. Kitab ini juga dilengkapi dengan jadwal waktu shalat dan arah kiblat beberapa daerah di Indonesia. 


Tamîn al-Lisân. Kitab ini berisi pelajaran ilmu tajwid yang membahas tentang masalah hukum-hukum bacaan dalam al-Qur’an dan adab membacanya. 


Ta’lîm al-Shibyân. Kitab ini berisi pelajaran ilmu tauhid yang membahas tentang pokok-pokok keimanan yang dikenal dengan aqidah 50. e. Nur al-Hudâ. Kitab ini berisi mengenai penjelasan Syekh Hasan Ibn H. Anang Yahya yang menolak Kaum Mudo dan Kaum Syams al-Huda di Palembang yang berpendapat tidak boleh membacakan talqin bagi mayat. 


Data dari berbagai Sumber 


Baca  : Ulama Jambi (4) dan Sejarah masuknya Islam di Jambi 


Advokat. Tinggal di Jambi