15 Mei 2021

opini musri nauli : Corona - Mengembalikan menjadi hakekat

Entah mengapa, issu corona terus memantik polemik. Wabah pandemik yang belum ketahuan kapan akan berakhir justru selalu memantik polemik dintengah masyarakat. 

Anjuran berbagai pihak, termasuk ancaman dari instansi Pemerintah untuk “mudik” ataupun anjuran lain “seakan-akan” membentur tembok. Berhadapan dengan masyarakat yang Sudah “kadung cuek” dengan anjuran Pemerintah. 


Namun disisi lain, corona mengajarkan kembali fitrah sebagai manusia. Mengembalikan hakekat yang harus diletakkan pada tempatnya. 


“Anjuran” sholat tarawih justru sama sekali diabaikan. Adanya berbagai tempat yang kemudian dikenal dengan “cluster” tarawih sama sekali tidak dihiraukan masyarakat. 


‘Penegasan Sholat Idul Fitri “di rumah (untuk Daerah yang dinyatakan merah dan kuning) justru tidak menjadi perhatian masyarakat. 


Lagi-lagi tuduhan semakin menggelikan. Adanya “larangan untuk beribadah”. 


Membicarakan sholat tarawih dan Sholat Idul Fitri dari pendekatan hukum Islam tentu saja menyepikan pandangan masyarakat Indonesia yang menempatkan keduanya begitu istimewa. 


Berbagai penyambutan ibadah di Bulan Ramadhan justru disambut seperti kegiatan kolosal kebudayaan. Lengkap dengan pernik-perniknya. 


Sholat Tarawih justru menjadi bagian dari kebudayaan di Indonesia. Bahkan sholat Idul Fitri adalah puncak dari ibadah yang kemudian menjadi kebudayaan. 


Lalu. Apakah dengan corona akan mampu mudah mengembalikan hakekat ibadah dari kolosal kebudayaan ? Tentu saja tidak mudah. 


Bukankah kita justru dipertontonkan “kebangkangan” dari berbagai kelompok. Entah dengan “menyiapkan” jalur tikus untuk pemudik. Ataupun memberikan dukungan kepada pemudik mengetahui jalur-jalur tikus untuk mudik. 


Bukankah kita juga melihat bagaimana sekelompok masyarakat sama sekali tidak menghiraukan berbagai prokes sebagai kewajiban standar di tempat-tempat ibadah. 


HIngga Sekarang, saya belum mampu memetakan corona sebagai faktor utama untuk mengembalikan makna ibadah. 


Ritual agama yang kemudian Sudah menjadi kolosal kebudayaan justru menjadi bagian dari tradisi panjang di Indonesia. Corona tidak mampu menghentikannya.