24 Juni 2021

opini musri nauli : Organisasi Modern

Disaat Euro 2020 digelar ditengah pandemi, mari kita lupakan suasana pandemi yang mulai menggila di Indonesia. 


Sebagai contoh Pertandingan antara Portugal dan Hungaria disaksikan langsung 61.000 orang. Dalam tayangan pertandingan, stadion yang namanya diambil dari nama legenda sepak bola dunia, Ferenc Puskas, itu tampak dipenuhi oleh suporter kedua negara. Penampakan yang tentunya jarang disaksikan oleh pecinta sepak bola selama Covid-19 mewabah.

Tentu saja Di Hungaria, jumlah penonton yang memenuhi stadion itu dimungkinkan lantaran vaksinasi Covid-19 berlangsung dengan cepat. Asosiasi sepak bola negara itu mendorong progres vaksinasi itu. Alhasil, sekitar 5,3 juta orang dari populasi Hungaria yang mencapai 9,8 juta telah divaksin Covid-19 pada awal Euro 2020. Dengan demikian, Hungaria bisa menyambut kehadiran turnamen sepak bola terbesarnya dalam 40 tahun terkahir itu.


Sekali lagi mari kita lupakan bagaimana negara-negara Eropa cepat bangkit disaat Indonesia justru menuju grafik yang terus meroket tajam. 


Berbeda dengan di German. Sekitar 14.000 suporter sepak bola diizinkan untuk menyaksikan langsung pertandingan-pertandingan Euro 2020 yang akan digelar di Stadion Allianz Arena, Munich, bulan ini jika tingkat infeksi Covid-19 di negara bagian Bavaria tetap serendah seperti saat ini. Atau hanya dibenarkan diisi sekitar 20%. 


Atau membicarakan sepakbola sebagai salah satu industri yang menggiurkan. Selain pariwisata yang rutin digelar di Eropa. 


Namun amatan tentang sepakbola adalah mengelola sepakbola sebagai organisasi modern. 


Dalam berbagai Literatur disebutkan, Membicarakan Organisasi modern tidak dapat dilepaskan dari konsep organisasi. Nah. Dari konsep Organisasi barulah dilihat organisasi tradisional dan Organisasi modern. 


Untuk memudahkan pembahasan tentang organisasi tradisional dan Organisasi modern dapat dilihat dengan melihat ciri-ciri. 


Pada umumnya, Organisasi tradisional lebih mengutamakan stabilitas organisasi (guyup), statis dan Tetap, cenderung tertutup, fokus kepada individu, tugas permanen, berdasarkan instruksi, atasan yang mengambil keputusan, keseragaman, hirarkhis kerja yang kaku dan  penggunaan fasilitas yang serampangan. 


Berbeda dengan Organisasi modern yang mengikuti perkembangan zaman, dinamis, Terbuka, luwes, fokus dengan keterampilan, kerjasama tim (teamwork), adanya mutasi dan penyegaran sesuai kebutuhan, demokratis, orientasi kepada tujuan, metode kerja yang variatif dan hubungan yang sejajar dan seimbang. 


Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan masing-masing yang terdapat di Organisasi tradisional dan Organisasi modern. 


Namun disaat sekarang ini, membicarakan organisasi harus dilekatkan dengan model pengelolaan Organisasi modern. 


Kebutuhan akan sepakbola yang sudah menjadi industri Tetap menempatkan pengelolaan sepakbola dengan mekanisme Organisasi modern. 


Klub-klub sepakbola yang diurus harus terbuka dengan bentuk perusahaan yang dapat diakses publik. Mengutamakan keberlangsungan tim demi nama baik klub sepakbola. 


Selain itu, klub yang baik harus berhitung didalam pembelian dan belanja pemain. Tidak elegan membeli pemain yang mahal justru stadion sama sekali tidak dibangun ataupun diperbaiki. 


Menyiapkan pemain-pemain berbakat demi kesinambungan klub. 


Namun yang paling utama adalah mengelola klub dan menarik perhatian dari penggemar sepakbola. Dan terus memastikan dukungan dan supporter demi kebesaran sepakbola. 


Apabila kita mau menoleh bagaimana sepakbola dikemas dengan Organisasi modern maka Euro 2020 tidak hanya melihat pertandingan semata. 


Tapi melihat “tarian meliuk-liuk”. Atau bahkan kita mampu melihat dampak dari Ronaldo yang hanya “meminggirkan coca-cola” dan mampu membuat kerugian mencapai Rp 57 trilyun. 


Sekali lagi, sembari menonton Euro 2020 kita menyaksikan Organisasi modern di Lapangan Hijau. 


Selamat menonton.