24 Juni 2021

opini musri nauli : Rumah

 


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, rumah adalah bangunan tempat tinggal. Rumah juga diartikan bangunan pada umumnya. Seperti Gedung. Rumah juga diartikan kiasan dengan kata-kata majemuk. Seperti “Membangun rumah” yang diartikan “membuat rumah”. 


Rumah adat sering disebutkan dengan balairung. 

Dalam simbol “rumah” juga diartikan sebagai tempat berkumpul dari berbagai lapisan masyarakat. 


Tentu saja sebagai rumah, “rasa kenyamanan” dari yang datang lebih diutamakan daripada cuma sekedar “tempat berteduh”. Ataupun tempat tinggal. Rumah yang nyaman membuat yang datang betah. Berlama-lama hingga “tidak merasa bosan”. 


Membicarakan rumah dan Al Haris memang dilihat dari sudut yang lain. Keterlibatan saya setahun lebih di Tim Pemenangan Al Haris-Sani membuat saya bisa menilai makna rumah. 


Teringat pembicaraan beberapa waktu yang lalu. Dalam sebuah hajatan Keluarga, sepupu saya kemudian bercerita. 


“Baru kali ini saya melihat Pemimpin. Yang Sederhana. Yang jauh dari protokoler. 


Waktu itu Al Haris baru terpilih. Saya kemudian datang kerumah dinas Bupati Merangin. 


Sewaktu mendatangi petugas didepan pintu, saya tanya. “Bapak Bupati ada “, tanya saya.


“Masuk be, pak. Kayaknya ada didalam”, katanya sembari mempersilahkan. 


“Saya kaget. Tidak pakai tanya KTP. Tidak tanya Sudah ada janji apa tidak”, lanjut ceritanya. 


Sayapun tertawa. Teringat berbagai peristiwa pertemuan dengan Al Haris. Baik dirumah pribadi di Bangko maupun rumah pribadi di Jambi. 


Kerumah Al Haris baik rumah dinas pribadi maupun rumah dinas, memang sama sekali tidak ada protokoler yang ketat. 


Siapapun dapat datang, menunggu dan kemudian bertemu. 


Biasanya setelah sampai kerumah Al Haris, cukup memberitahukan kepada ajudan. Kemudian duduk menunggu sembari bercengkrama. Tentu saja tidak lupa berbagai penganan yang selalu tersedia. 


Tergantung tamu yang datang. Apabila tamu jauh yang datang menemui Al Haris, Al Haris sama sekali tidak pernah menghentikan pembicaraan. Terus bercerita dan kemudian tertawa mendengarkan. 


Biasanya, kami kemudian disuruh masuk. Menunggu sedikit kejauhan. Yang Penting Al Haris setelah dibisikkan kedatangan dan melihat kedatangan kami, Al Haris terus berbicara dengan tamu. 


Setelah dianggap cukup, Al haris kemudian meninggalkan tamu kemudian menemui kami. Bisa pindah keruangan lain. Atau langsung menemui. Berbicara sebentar. 


Setelah dirasa cukup pembicaraan, justru kami yang tidak enak berlama-lama. Kamipun bubar. Dan Al haris bisa melanjutkan bertemu dengan yang lain. 


Banyak yang mengatakan, Suasana itu karena berkaitan dengan politik. Tapi setelah saya perhatikan dan cerita teman-teman yang telah lama mengikuti Al Haris, memang Al haris mengurangi sekat protokoler. 


Rumah dinas dan rumah pribadi Al haris selalu ramai. Sejak habis subuh. Dan itu Sudah berlangsung lama. Hingga kini. 


Tidak salah kemudian, Suasana rumah lebih terasa. Lebih menampakkan keakraban.Suasana dirumah dan suasana kekeluargaan sering disampaikan oleh Al Haris diberbagai tempat. “Kita adalah keluarga. Bukan tim sukses”. 


Mataharipun meninggi. Akupun bergegas meninggalkan rumahnya. 


Sembari merasakan makna rumah. Dari cerita sepupuku.