11 Juni 2019

opini musri nauli : Membaca Arah Pilgub Jambi


Jam mulai berputar untuk menuju Pilgub Jambi.  Persaingan untuk menjadi Gubernur Jambi semakin seru paska ditetapkan Fachrori Umar (FU/Wakil Gubernur) tanggal 13 Februari 2019.

Sebagai “petahana’, FU adalah incumbent setelah ditetapkan menjadi Gubernur menggantikan Zumi Zola (ZZ) paska “diberhentikan” menjadi Gubernur Jambi tanggal 10 April 2018 setelah vonis kasus korupsi tidak bisa diremehkan. Selama 10 tahun menjadi bagian penting (sebagai Wakil Gubernur 2010-2015 dan Wakil Gubernur 2016-2018), posisi FU adalah bagian yang mewarnai politik Jambi 10 tahun terakhir.

Memenangkan sebagai Wagub di pilgub Jambi 2010 dan kembali memenangkannya tahun 2015 adalah prestasi “fenomenal”. Ketokohan FU tidak bisa diremehkan. Kemampuan membangun jaringan dan membangun politik Jambi di Jambi “justru” mengalahkan “incumbent” (HBA yang berpasangan dengan Edi Purwanto). Sehingga “kehadirannya” berpasangan dengan ZZ justru memenangkan Pilgub 2016.

Namun “jaringan politik di Jambi” justru akan diuji tahun 2020. Apakah kemenangan sebagai Wagub 2010 dan Wagub 2015 merupakan “sumbangsih” suara yang signifikan atau “tenggelam” dengan persaingan Pilgub Jambi yang semakin ketat.

Sebagai “test drive’, FU berhasil menyumbangkan putrinya sebagai anggota DPD-RI 2019 dengan raihan suara 230 ribu. Suara yang signifikan. Selain itu juga mengantarkan Rohima (istri FU) sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi. Sebuah capaian yang tidak bisa diremehkan dalam politik kontemporer di Jambi. Tidak salah kemudian, FU sudah berhasil “meraih kemenangan kecil”.

Nama-nama seperti Muchlis (Kapolda Jambi), Fasha (Walikota Jambi), Cek Endra (bupati Sarolangun) masih harus kerja keras untuk mengimbangi FU.

Terlepas dari hasil lembaga survey yang mengunggulkan Fasha sebagai “penantang serius” Pilgub Jambi, kinerja Fasha yang masih “terjebak persoalan kota”. Terutama “banjir’ yang mengintai Jambi setiap awal musim hujan.

Jebakan yang tidak mudah diraih oleh Fasha ketika bertarung di Pilgub. Kemenangan tipis di Pilwako adalah angka yang cukup memberikan “signal” berbahaya. Dengan kemenangan tipis 30 ribu suara (55,7%), rakyat Jambi hanya memberikan dukungan sedikit maksimal untuk pilwako pada periode keduanya.

Namun HBA, Anggota DPR-RI dari Partai Golkar justru merupakan fenomenal yang bisa menjadi “pemenang’ Pilgub.

Setelah dikalahkan tahun 2015, HBA “turun gunung” dan berkeliling untuk meraih suara. Suaranya merata. Hampir terdapat diberbagai tempat di Jambi. Sehingga dengan capaian suara 200 ribu, HBA mengalahkan suara yang didapatkan para “incumbent” anggota DPR-RI yang masih bertahan seperti SAH (83 ribu), H. Bakri (82 ribu), Zulfikar Ahmad (72 ribu), Ihsan Yunus (76 ribu) dan Saniatul Lativa (85 ribu). Jauh dari anggota DPR-RI yang terplih lainnya seperti Sofyan Ali (40 ribu) dan Hasbi Ansori (30 ribu).

Kemenangan HBA “berhasil” mengamankan 2 kursi untuk DPR-RI. Bersama dengan Saniatul Lativa, Partai Golkar menjadi pemenang dengan raihan mencapai 360 ribu.

Maju atau tidaknya HBA di Pilgub Jambi akan mewarnai politik kontemporer. Terlepas dari “kerinduan” public terhadap figure HBA yang berhasil membangun Jambi, “posisi strategis” HBA dari senayan justru dibutuhkan oleh rakyat Jambi. Kerinduan Jambi terhadap proyek-proyek nasional di Jambi dibutuhkan “penyambung lidah” dari anggota DPR-RI dari Jambi.

Sehingga “maju atau tidaknya” HBA di Pilgub Jambi adalah berita yang ditunggu oleh rakyat Jambi.

Apabila HBA kemudian mantap tetap memilih di senayan, maka pertarungan pilgub Jambi semakin seru. Terlepas posisi FU sebagai “incumbent”, FU masih harus “diuji” setelah kemenangan fenomenal 2010 dan pilgub 2015. Apakah posisi “incumbent’ yang diuntungkan akan membawa suara yang signifikan.

Namun apabila HBA kemudian “memilih” kembali bertarung di Pilgub Jambi maka ada kesulitan dari kandidat lain untuk mengimbangi HBA. Berbagai angka-angka lembaga survey mengonfrimasikan.

Pertarungan FU dengan kandidat lain justru akan menarik apabila FU kemudian “bertarung” dengan Fasha. FU yang sudah berhasil meraih kemenangan kecil justru bertemu dengan Fasha yang baru “keluar” dari pertempuran sengit di Pilwako Jambi. Ujian sesungguhnya terhadap politik kontemporer diluar HBA.

Diluar nama FU, Fasha dan HBA, saya belum menemukan “aura” yang kuat sebagai penantang serius.

Muchlis maupun Cek Endra kesulitan untuk mengejar ketertinggalan dari kandidat yang diunggulkan. Terlepas dari Cek Endra yang meraih suara pemilu untuk Partai Golkar di Sarolangun (prestasi yang tidak mampu diraih oleh Fasha), namun Cek Endra harus “bersaing” dengan Fasha untuk menentukan posisi di Partai Golkar. Partai yang sepi dari hiruk pikuk politik internal yang justru menjadi pemenang Pemilu 2019 di Jambi.

Justru ujian sesungguhnya Cek Endra adalah menentukan posisi strategis di Partai Golkar untuk dilewati. Sebuah capaian yang tidak mudah berhadapan dengan Fasha.

Sehingga arah politik Pilgub Jambi banyak dipengaruhi sikap HBA di Pilgub 2020, pucuk pimpinan Partai Golkar dan arah dukungan Partai Golkar.

Sehingga tidak salah kemudian, pilgub Jambi adalah “ujian” penentuan kemenangan Partai Golkar.

Baca : 

PILGUB JAMBI 2015