02 Mei 2021

opini musri nauli : Gegar gempita Kerajaan Astinapura

 



Syahdan. Ketika Suasana tenang, para punggaw kerajaan selesai ngaso dan rehat dari perjalanan panjang, berkumpullah mereka di balairung istana astinapura.. 


“Tuanku, Sungguh Malang yang menimpa para punggawa. Mereka diminta menjaga kepercayaan menjaga amanat kerajaan. Tapi kemudian khianat, tuanku. 

Hukuman apa yang mesti harus ditanggungg mereka, tuanku”, tanya sang punggawa heran. 


“Para punggawa, Sudah berlaku kutukan dari sang dewata agung dan leluhur Negeri astinapura. Mereka yang berkhianat ataupun siapapun yang berkhianat kepada amanat negeri astinapura, akan menerima akibatnya. 


“Sungguh hidupnya tidak pantas lagi. Tinggi tidak dikadah, Rendah tidak dikutung. Tengah-tengah dimakan Kumbang. 


Sumpah dan kutukan itu berlaku. Hidupnya tidak diterima bumi dan Langit. Demikian kutukan dari leluhur Negeri astinapura,”, titah sang adipati. Sembari memohon kepada dewata agung. Agar jangan menurunkan kutukannya kepada negeri Astinapura. 


“Baiklah, tuanku. Titah tuanku dan kutukan para leluhur negeri astinapura akan hamba ingat. Hamba hendak pamit dulu, tuanku. Segera pamit”, kata sang punggawa. Segera turun dari balairung. 


Kembali menjaga pintu kerajaan Astinapura.